SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Konstruksi Sosial “Dakwah” di Ruang Virtual Reality

Konstruksi Sosial “Dakwah” di Ruang Virtual Reality

Bob Andrian

(Dialaketika Media Dakwah Konservatif dan Konvensional di Media Sosial)

Oleh: Bob Andrian

“Dakwah dalam persimpangan antara kemurnian tujuan dakwah dan kebutuhan audiens di media sosial”

MEDIA Dakwah saat ini telah melahirkan persolan baru antara motovasi teologis dan kebutuhan ekonomis, dimana telah terjadi pergeseran praktis apakah dakwah benar-benar menjadi tujuan utama para da’i saat ini atau justru beralih pada kebutuhan komersil. Transformasi tersebut akhirnya mejadikan banyak para da’i (mubaligh) yang rela mengilangkan sisi esensi tujuan dakwah menjadi pemenuhan kebutuhan audiens (netizen) dan motivasi komersialisasi.

Melalui pendekatan ini, Berger (1966) dan Luckmann (1967) memberikan dasar bahwa realitas bukanlah sesuatu yang objektif dan ada begitu saja di luar diri manusia, melainkan diciptakan dan dibentuk secara sosial melalui interaksi manusia. Keduanya berkesimpulan bahwa masyarakat adalah produk manusia (Society is a human product), atau Manusia adalah produk masyarakat (Man is a social product), dan Realitas bersifat objektif dan subjektif secara simultan. Demikian juga dengan Henri Lefebvre (1974) menyatakan bahwa ruang bukanlah sesuatu yang netral, statis, atau sudah ada secara alami, melainkan produk sosial yang dibentuk melalui relasi kekuatan ekonomi, politik, dan budaya

Realitas Dakwah di Era Digital (Dari Ruang Mimbar menuju Ruang Virtual)

Berger dan Luckmann (1966) memberikan landasan ontologis bahwa realitas sosial bukan sesuatu yang bersifat objektif atau kodrati, melainkan diciptakan , dipertahankan dan bahkan diubah melalui intraksi sosial. Dakwah, dalam bingkai konstruksi sosial ini, dapat dipahami sebagai bagian proses pembentukan realitas sosial melalui momen dialektis yang saling terkait, antara eksternalisasi melalui tindakan, ekpresi, yang menyesuaikan era saat ini, kemudian dilegitimasi secara normatif keagamaan dan diinternaslisasi secara individu menjadi bentuk realita objektif.

Namun, ada perbedaan mendasar antara toeri ini dengan reaslitas kontstruksi sosial saat ini, dimana teori ini dibangun atas dasar kontstruksi sosial di ruang publik, sedangkan konstruksi realitas sosial saat ini berada di ruang vritual reality, dimana kedua ruang ini tentunya memiliki konteks yang sangat berbeda. Sebagai contoh konstruksi sosial kegiatan dakwah islamiyah, sebelumnya dilakukan di mimbar-mimbar, mesjid, kajian-kajian komunitas keagamaan, dan sebagainya. Namun saat ini dengan perkembangan media teknologi dan media digital semua itu beralih menjadi komunitas muslim online, grup-grup wa dan kanal-kanal kajian keislaman di media sosial, diantaranya youtube, facebook, intagram, tiktok dan media lainnya.

Perubahan realitas tersebut tidaklah hanya bisa dipahami sebagai sesautu yang terjadi begitu saja, melainkan terjadi karena adanya dialtika konstruksi sosial dalam kontek dakwah keagamaan. Prkatik-praktik dakwah yang merupkan tindakan dan ekpresi dari seoarang da’i dalam menyerukan pesan ilahiyah, menyesuaikan dengan karakter mad’u di era digital saat ini, sehingga banyak dakwah yang dikemas dalam bentuk konten dan disajikan dimedia sosial. Penyajian Konten-konten dakwah kemudian dilegitimasi secara normatif agama dan kemudian dinternalisasi seacara individu setiap muslim di era digital saat ini menjadi sesuatu yang lumrah dan tidak menyalahi prinsip-prinsip dasar dalam dakwah. Dengan kata lain, konstruksi sosial realitas dakwah di era digita ini merupakan realitas yang dikonstruksi secara sosial masyarakat itu sendiri.

Transformasi Dakwah di Virtuality Social Space

Henri Lefebvre (1974) dalam karyanya La Production de l’Espace,  menyatakan bahwa ruang publik tidak bersifat netral atau alamiah sebagai suatu wadah kosong saja, melainkan diproduksi secara sosial melalui konteastasi antara ekonomi, politik, dan kebudayaan. Menurtnya, terdapat tiga dimensi yang terjadi dalam ruang publik tersebut, diantaranya Praktik Spasial (Spatial Practice / Lived Space) merupakan suatu rutinintas atau aktivitas kesaaharian Masyarakat. Kemudian representasi Ruang (Representations of Space / Conceived Space) merupakan ruang yang sengaja dikonsep atau diranacang pihak berkepentingan, dan Ruang Representasional (Spaces of Representation / Perceived/Lived Space) merupakan ruang yang dimaknai secara simbolik oleh penggunanya dan memberi makna baru diluar rencana awalnya.

Teori ini kemudian menjadi dasar lahirnya teori ruang publik lainnya, seperti Jürgen Habermas dengan Teorinya ruang publik (public sphere) yang mengasumsikan bahwa wilayah kehidupan sosial di mana warga negara dapat bertukar pikiran, berdiskusi secara rasional-kritis, dan membentuk opini publik untuk memengaruhi kebijakan negara. Kedua Teori ini sama-sama berangkat dari ruang publik sosial reality, bukan pada ruang publik virtual reality. Namun dalam konteks produksi ruang publik yang dimaksudkan dapat digunakan untuk mengkaji bagaimana produksi dakwah di ruang publik virtual reality.

Berdasarkan asumsi teori Lefebvre dan Habermas tersebut, jika ditarik dalam kontek dakwah di media sosial misalnya, maka akan terjadi tranformasi dakwah di ruang sosial virtual reality.

Pertama, media sosial merupakan ruang publik praktik spesial bagi Masyarakat di era digital saat ini termasuklah dakwah. Media sosial merupkan ruang interaksi sosial kedua utama yang digunakan untuk berkdawah kepada mad’u atau masyarakat virtual. Bahkan saat ini sebagian besar para da’i menjidikan media sosial sebagai media dakwah utama dalam memenuhi rutinitas kebutuhan hidup sehari-hari, seperti konten dakwah di media osial yang bisa diputar setiap saat. Realita ini menandakan bahwa media sosial itu di produksi menjadi ruang spesial oleh masyarakat itu sendiri untuk kebutuhan menyampaikan pesan-pesan dakwah.

Kedua, media sosial dalam kontek dakwah juga dapat dipahami sebagai ruang representasi yang artinya media sosial sengaja dirancang oleh pihak yang berkepentingan seperti pemilik media, konten kreator, pengelola media bagi para mubaligh, dan sebagainya.dapaun tujuannya tentunya menyesuaikan dengan keinginan dan konsep pihak tersebut, tidak ada kejelasan antara mruni tujuan dakwah atau justru tujuannya Adalah viwers, ratting, monetisasi, dan komersilisasi.

Ketiga, selain sebagai ruang spesial dan ruang representasi media sosial sebagai media dakwah juga bisa dimaknai sebagai ruang representasional yaitu ruang yang awalnya dimaksudkan untuk menyampaikan pesan dakwah sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah, tetapi dimaknai secara simbolik oleh pengguna media sosialnya sebagai ruang untuk diskusi, politik, ekonomi, bahkan ruang ikhtilafiyah (perdebatan) terhadap norma, nilai dan aturan yang berlaku.

Disisi lain, akhirrnya kita dapat melihat bagiamana konstruksi sosial dakwah yang terjadi di ruang vrtual reality mengakibatkan adanya dialetika antara dakwah konservatif dengan dakwah konvensional. Dialektika kedua model dakwah tersebut tentunya memiliki tantangan tersendiri dalam prinsip dakwah. Dakwah konservatif yang terkenal dengan pendekatan menyampaikan ajaran agama Islam yang berpegang teguh pada tradisi, kebiasaan lama, atau pemaknaan teks keagamaan yang literal, dengan kecenderungan mempertahankan kemapanan doktrin dan struktur sosial yang sudah ada.

Meskipun kemurnian tujuan dakwah dalam model ini dapat dipertahakan tetapi dalam kontek keluasan target sasaran sangat terbatas. Sebaliknya dakwah konvensional terkenal dengan pendekatan penyampaian ajaran Islam yang dilakukan secara tatap muka atau melalui saluran komunikasi massa atau media digital saat ini. Model dakwah ini cukup masif dan efektif untuk target saran namun kemurnian tujuan dakwahnya sangat rentan terpengaruhi oleh kepentingan (komoditi) media itu sendiri. Dengan kata lain, maka konstruksi sosial dakwah di media sosial akan menyebabkan terjadinya dialektika antara kemurnian tujuan dakwah dan kebutuhan konten (audiens).

*Penulis adalah Dosen KPI IAIN Pontianak dan Mahasiswa S3, Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana IAIN Pontianak

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play