SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional Karhutla Tak Kunjung Reda, LDII Ingatkan Ancaman bagi Lingkungan dan Manusia

Karhutla Tak Kunjung Reda, LDII Ingatkan Ancaman bagi Lingkungan dan Manusia

Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya. [SUARAKALBAR.CO.ID/KIM LDII]

Jakarta – Hampir memasuki bulan ketiga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kalimantan, Sumatera tidak kunjung reda, bahkan meluas di Sulawesi, hingga Papua.

Kebakaran yang berulang itu dapat merusak ekosistem, mengganggu keseimbangan lingkungan, sekaligus menimbulkan ancaman kesehatan serius bagi masyarakat di dalam negeri, hingga negeri tetangga.

Peringatan itu ditegaskan Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya dan mengingatkan pencegahan karhutla harus menjadi tanggung jawab bersama.

“Sebagai bagian dari civil society, LDII terus mengimbau warga untuk melestarikan lingkungan. Kami mewujudkannya melalui program LDII Go Green, dengan pemanfaatan lahan terbengkalai dan lahan gambut agar menjadi lahan produktif dan bernilai guna,” ujar melalui rilis yang diterima redaksi, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, kerusakan ekosistem akibat karhutla dapat berlangsung panjang. Hutan dan lahan yang terbakar kehilangan fungsi ekologisnya, sementara hilangnya vegetasi dapat mengganggu tata air dan memperbesar kerentanan lingkungan terhadap kekeringan maupun bencana lainnya.

Dody menilai gerakan menjaga lingkungan merupakan bagian dari dakwah bil haal, yakni dakwah yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan mulai dari keluarga, sekolah, pesantren, hingga organisasi kemasyarakatan.

‘Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga tanggung jawab moral. Alam yang kita jaga hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi berikutnya,” ujarnya.

Dody mengatakan, upaya pencegahan harus dilakukan secara konsisten melalui pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, penghijauan, konservasi air, serta edukasi kepada masyarakat.

Ia berharap kesadaran lingkungan tidak hanya muncul ketika bencana terjadi. Menurutnya, budaya menjaga alam harus menjadi kebiasaan sehari-hari.

“Kalau lingkungan kita rawat, manfaatnya kembali kepada masyarakat. Sebaliknya, ketika lingkungan rusak, manusia juga yang pertama merasakan dampaknya,” kata Dody.

Penanganan Karhutla

Ia mendukung langkah pemerintah menangani karhutla secara cepat dan terintegrasi ketika titik api sudah meluas. Upaya menjaga kelestarian lingkungan tetap penting sebagai langkah pencegahan, namun tidak cukup untuk menangani karhutla yang sedang berlangsung.

“Menjaga lingkungan memang penting untuk mencegah karhutla ke depan. Tetapi ketika karhutla sudah terjadi dan meluas, yang dibutuhkan adalah tindakan cepat untuk menghentikan kebakaran dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat,” tegas Dody.

Menurutnya, pemadaman udara perlu dilakukan secara efektif di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Penggunaan helikopter water bombing dapat diprioritaskan pada titik kebakaran yang sulit dikendalikan dari darat, terutama di kawasan gambut dan wilayah dengan akses terbatas.

Selain pemadaman, pemerintah juga dapat mengoptimalkan teknologi modifikasi cuaca atau rekayasa cuaca untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah terdampak. Langkah tersebut diperlukan sebagai bagian dari operasi terpadu, terutama ketika kondisi atmosfer dan cuaca memungkinkan.

Pemantauan titik panas melalui satelit juga perlu diperkuat untuk mendeteksi lokasi kebakaran secara cepat. Data tersebut harus terintegrasi dengan informasi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan sehingga respons dapat dilakukan sebelum api semakin meluas.

“Teknologi pemantauan harus diikuti dengan respons yang cepat. Jangan sampai titik panas sudah terdeteksi, tetapi penanganannya terlambat,” katanya.

Di sisi lain, penanganan karhutla harus disertai penegakan regulasi yang tegas. Pemerintah perlu mengusut penyebab kebakaran dan memberikan sanksi kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran,

“Jika karhutla terbukti disebabkan oleh aktivitas korporasi atau pemegang izin, sanksi administratif maupun hukum harus diterapkan sesuai ketentuan, termasuk evaluasi hingga pencabutan izin apabila ditemukan pelanggaran berat,” tegas Dody.

Selain kerusakan lingkungan, karhutla juga membawa konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Ketua DPP LDII Dicky Budiman mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama jika terjadi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan gas iritan yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.

Dicky mengatakan, paparan asap dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru.

“Dampaknya tidak hanya pada saluran pernapasan. Partikel halus dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, stroke, serta gangguan irama jantung,” ujar Dicky.

Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan. Sementara pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit kronis, risikonya dapat lebih besar.

Menurut Dicky, paparan berulang setiap musim karhutla juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan paru-paru anak dan meningkatkan beban penyakit kronis di wilayah terdampak.

Penulis: KIM LDII

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play