SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sintang Mendalami Praktik Humanisme Religius di Sintang Lewat FGD

Mendalami Praktik Humanisme Religius di Sintang Lewat FGD

Focus Group Discussion (FGD)

Sintang (Suara Kalbar)  – Tim penelitian kolaborasi IAIN Pontianak dan STAKat Negeri Pontianak mendalami praktik humanisme religius di Kabupaten Sintang melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada 24 September 2026.

Kegiatan penelitian tersebut didanai oleh MoRA The Air Funds dan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di Kabupaten Sintang, di antaranya perwakilan Kementerian Agama, TNI, Kesbangpol, serta organisasi kemasyarakatan.

Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. H. Zaenuddin, S.Ag., M.A., mengatakan FGD tersebut menjadi bagian penting untuk melihat secara lebih dekat praktik humanisme religius yang berkembang di tengah masyarakat Sintang.

“Kegiatan kita ini ingin melihat lebih jauh bagaimana praktik humanisme religius di Sintang terjadi. Apa yang kami dapatkan di sini tentunya akan jadi pembelajaran bagi kami yang akan kami sampaikan kepada anak didik kami,” ujar Zaenuddin dalam kegiatan tersebut.

Dalam FGD, tim peneliti juga memaparkan policy brief yang disusun berdasarkan hasil pertemuan awal dengan sejumlah informan di Sintang.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kajian tersebut adalah tradisi toleransi masyarakat Sintang yang dinilai telah tumbuh sejak masa leluhur. Nilai saling menghargai antarkelompok masyarakat disebut menjadi bagian dari perjalanan sosial dan budaya Sintang.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas perjalanan sejarah Sintang yang memperlihatkan keberagaman latar belakang keagamaan dan budaya masyarakat. Dari konteks sejarah tersebut, berkembang kehidupan masyarakat yang tidak hanya berlandaskan tradisi Islam, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat dengan kepercayaan adat maupun umat Kristiani.

Tim peneliti menilai kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sintang perlu terus diperhatikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salah satu bentuknya dapat dilakukan melalui pendidikan, termasuk dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam kurikulum. Nilai-nilai leluhur yang selama ini berperan dalam menjaga kerukunan dan perdamaian dinilai penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Para peserta FGD mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Mereka menilai forum dialog semacam itu perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai ruang untuk membangun keterbukaan dan memperkuat komunikasi antarelemen masyarakat.

Peserta juga mendorong Pemerintah Kabupaten Sintang untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan serupa dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

Melalui dialog yang berkelanjutan, para peserta berharap nilai toleransi, kerukunan, dan perdamaian yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat Sintang dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play