Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah Sebulan, Ini Penyebabnya
Suara Kalbar – Harga emas dunia merosot ke level terendah dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Penurunan terjadi di tengah kenaikan harga minyak dan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi tersebut turut mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Pelaku pasar kini semakin memperkirakan Federal Reserve atau The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan yang berlangsung pekan ini.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,8 persen menjadi US$4.312,59 per ons. Harga tersebut sekaligus membawa emas ke titik terendah sejak 7 Agustus 2026.
Sementara itu, harga emas berjangka AS tercatat melemah 1,3 persen menjadi US$4.351,90 per ons. Tekanan juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya.
Harga perak spot turun 1,2 persen menjadi US$63,71 per ons. Platinum melemah 1,6 persen ke US$1.768,17 per ons, sedangkan paladium turun 0,7 persen menjadi US$1.290,41 per ons.
Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang menekan pasar logam mulia.
Menurutnya, lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Situasi itu sekaligus memperkuat pandangan bahwa bank sentral utama dunia perlu mempertahankan atau memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan tekanan harga.
Harga minyak sempat melonjak sekitar 4 persen setelah serangan baru dilaporkan menyasar infrastruktur energi dan sipil di Arab Saudi. Pada saat yang sama, Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global, terlebih setelah jaringan pipa minyak utama Arab Saudi ditutup. Hambatan diplomasi di Timur Tengah juga menambah tekanan terhadap sentimen pasar.
Pertemuan antara Iran dan sejumlah negara Teluk lainnya bahkan harus ditunda. Kondisi geopolitik tersebut membuat pasar semakin mencermati potensi dampaknya terhadap harga energi dan inflasi global.
Di sisi lain, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026). Kenaikan berikutnya juga diperkirakan terjadi setidaknya satu kali hingga akhir Maret 2027.
Ekspektasi itu berbalik dari konsensus sebelumnya yang memperkirakan The Fed tidak akan mengubah suku bunga dalam waktu dekat. Perubahan pandangan pasar tersebut salah satunya dipicu oleh data inflasi terbaru AS.
Data resmi yang dirilis Jumat (11/9/2026) menunjukkan tekanan inflasi AS masih cukup kuat. Indeks harga konsumen (CPI) naik 0,4 persen pada Agustus 2026 setelah sebelumnya hanya meningkat 0,1 persen pada Juli 2026.
Data tersebut berasal dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Pasar kemudian meningkatkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga The Fed hingga sekitar 93 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.
Selain The Fed, Bank of Japan (BoJ) juga diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat (18/9/2026). Kebijakan tersebut diproyeksikan terjadi di tengah kenaikan harga energi serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.
Kenaikan suku bunga umumnya menjadi tekanan bagi emas. Meskipun emas kerap digunakan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung mempertimbangkan aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Kondisi itu dapat mengurangi daya tarik emas di pasar keuangan.
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS. Mata uang tersebut menguat ke level tertinggi dalam dua pekan, sehingga emas yang dihargai menggunakan dolar menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Sumber: Beritasatu.com





