SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Momentum Menata Pendidikan Indonesia yang Berkarakter dan Berkeadilan

Momentum Menata Pendidikan Indonesia yang Berkarakter dan Berkeadilan

Bayu

‎Oleh: Dr. Bayu, M.Pd.

‎Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang berlangsung dalam momentum yang berdekatan pada tahun 2026 seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Keduanya memiliki pesan penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam perspektif Manajemen dan Kebijakan Pendidikan: bagaimana pendidikan Indonesia dikelola untuk melahirkan manusia yang merdeka secara berpikir, unggul dalam ilmu pengetahuan, sekaligus memiliki akhlak dan karakter yang kuat. Pemerintah sendiri menempatkan momentum kemerdekaan sebagai penguatan komitmen terhadap pendidikan, sains, teknologi, kebudayaan, serta pembangunan sumber daya manusia bangsa.

‎Kemerdekaan dalam dunia pendidikan tidak cukup hanya dimaknai sebagai kebebasan memperoleh pendidikan. Kemerdekaan harus diwujudkan melalui kebijakan pendidikan yang adil, merata, inklusif, dan mampu memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil, perbatasan, dan wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan. Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, perubahan dunia kerja, ketimpangan sosial, dan berbagai persoalan global, pendidikan dituntut untuk terus melakukan pembaruan tanpa kehilangan tujuan utamanya, yaitu memanusiakan manusia.

‎Sementara itu, Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan dimensi yang sangat penting dalam pengelolaan pendidikan, yaitu keteladanan dan akhlak. Pendidikan yang berhasil tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang jujur, amanah, bertanggung jawab, disiplin, memiliki kepedulian sosial, dan mampu menghargai sesama. Dalam konteks saat ini, ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan seperti menurunnya etika dalam ruang publik, konflik sosial, penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, serta tantangan moral di era digital, nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi semakin relevan. Kementerian Agama pada peringatan Maulid 2026 juga menekankan bahwa akhlak merupakan fondasi peradaban.

‎Dari perspektif Manajemen dan Kebijakan Pendidikan, kedua momentum ini mengingatkan bahwa kebijakan yang baik harus mampu mempertemukan kecerdasan dan karakter. Sekolah dan perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, kelulusan, dan berbagai indikator administratif. Manajemen pendidikan harus diarahkan pada pelayanan yang berkualitas, kepemimpinan yang amanah, tata kelola yang transparan, serta kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

‎Hari Kemerdekaan mengajarkan kita tentang perjuangan, kemandirian, persatuan, dan keberanian untuk menentukan masa depan. Maulid Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepemimpinan, kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab. Jika kedua nilai ini mampu diterjemahkan ke dalam manajemen dan kebijakan pendidikan, maka pendidikan Indonesia tidak hanya akan menghasilkan generasi yang siap bersaing secara global, tetapi juga generasi yang memiliki identitas, moralitas, dan tanggung jawab terhadap bangsa.

‎Kemerdekaan tanpa pendidikan yang bermutu akan kehilangan arah, sementara kemajuan tanpa akhlak dapat kehilangan makna. Karena itu, tantangan pendidikan Indonesia hari ini bukan sekadar bagaimana mencetak generasi yang pintar, tetapi bagaimana mengelola pendidikan untuk melahirkan generasi yang merdeka dalam berpikir, unggul dalam berkarya, dan mulia dalam berakhlak.

‎Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 dan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Semoga momentum ini menjadi refleksi bersama untuk menghadirkan pendidikan Indonesia yang semakin maju, berkeadilan, bermutu, dan berkarakter.

‎‎*Penulis adalah Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play