SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Gadget Boleh, Karakter Anak Prioritas, LDII Kalbar Gelar Ngaji Parenting

Gadget Boleh, Karakter Anak Prioritas, LDII Kalbar Gelar Ngaji Parenting

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Pontianak Riszky Ramadhan saat menjadi pemateri Ngaji Parenting, Minggu (30/8/2026). [SUARAKALBAR.CO.ID/LDII Kalbar]

Pontianak (Suara Kalbar) – Gadget tidak bisa lagi dipisahkan kehidupan sehari-hari, selain kemudahan juga memberikan tantangan yang besar dalam pendidikan anak karakter anak.

Hal inilah yang melandasi DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalbar menggelar Ngaji Parenting, di Masjid Khoirul Ihsan Pontianak, Minggu (30/8/2026).

Ketua DPW LDII Kalbar Susanto menjelaskan terciptanya generasi penerus (Generus) unggul tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua.

“Peran orang tua sangat menentukan keberhasilan pembinaan dan pendidikan karakter anak. Namun di era teknologi ini dibalik kemudahan juga mendapatkan tantangan cukup berat,” ujarnya.

Pengajian yang mengambil tema ‘Batasi Gadget, Bangun Karakter Anak’ menjadi ruang edukasi bagi para orang tua untuk memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengorbankan interaksi keluarga, kedisiplinan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter luhur anak.

“Kami memfasilitasi dan sekaligus mengedukasi bahwa gadget bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua memberikan batasan, pendampingan, dan keteladanan dalam penggunaannya. Jangan sampai gadget dijadikan ‘orang tua asuh’ bagi anak-anak kita. Ini yang harus menjadi perhatian,” tegas Susanto.

Pihaknya juga mengatakan komitmen LDII dalam menciptakan generus berkarakter, sebagai bagian dari sumbangsih untuk membawa bangsa ini tetap survive.

“Pembinaan karakter Generus hari ini baru akan dirasakan hasilnya beberapa tahun kedepan. Jadi jika ingin bangsa Indonesia tetap survive pembinaan karakter mesti dilakukan sejak dini,” jelasnya.

Sedangkan dalam kesempatan yang sama, Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, Riszky Ramadhan menyatakan tidak bisa dipungkiri jika pengguna internet didominasi kalangan remaja.

“Remaja mendominasi jumlah pengguna internet di Indonesia, bahkan durasinya 7 hingga 8 jam per harinya. Inilah tantangan parenting di era digital yang semakin kompleks,” jelasnya.

Ia menyebut ada sedikit tiga fenomena sebagai dampak dari penggunaan gadget yang tanpa kendali.

“Selain kemudahan dampak yang ditimbulkannya juga sangat serius. Setidaknya ada tiga fenomena yang sekarang ditemui yakni keterlambatan bicara bagi anak-anak, perundungan dan depresi remaja, serta fenomena tiktok ticks,” imbuh Riszky.

Maka solusi yang ditawarkan menurut Risky memerlukan redefinisi pola asuh dengan gaya otoritatif.

“Perlu dilakukan pola pengasuhan yang otoritatif yakni melalui pendekatan yang demokratis. Kuncinya keseimbangan dengan orang tua membuat aturan yang tegas, menyampaikan dengan logis, penuh kasih sayang dan membuka diskusi,” katanya.

Lebih lanjut dia juga memberikan strategi melalui detoksifikasi sesuai usia.

“Detoksifikasi usia ini dimaksudkan agar orang tua dalam menghadapi badai tantrum bisa melakukan validasi sesuai umur anak. Dengan pengertian lain, pengasuhan sejatinya bukan apa yang kita perintahkan kepada anak, melainkan kehadiran kita seutuhnya sehingga menumbuhkan kemandirian dan karakter generus,” tegas dia.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play