SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Mobil Listrik vs LCGC, Mana Lebih Hemat Dipakai 5–10 Tahun? Ini Perbandingan Biayanya

Mobil Listrik vs LCGC, Mana Lebih Hemat Dipakai 5–10 Tahun? Ini Perbandingan Biayanya

Ilustrasi mobil listrik dan LCGC. (ChatGPT/Beritasatu.com)

Suara Kalbar – Kehadiran mobil listrik dengan harga yang semakin terjangkau mulai mengubah peta persaingan di segmen kendaraan entry level. Jika sebelumnya mobil Low Cost Green Car (LCGC) menjadi pilihan utama karena irit bahan bakar dan harga yang relatif murah, kini kendaraan listrik mulai menawarkan biaya kepemilikan yang tak kalah menarik.

Hal itu membuat banyak calon konsumen mulai mempertimbangkan, mana yang lebih menguntungkan digunakan dalam jangka panjang, mobil listrik atau LCGC?

Untuk menjawabnya, perbandingan tidak cukup hanya melihat harga beli. Biaya operasional, perawatan, pajak tahunan, umur komponen, hingga nilai jual kembali juga menjadi faktor penting yang menentukan total biaya kepemilikan kendaraan.

Harga Beli Masih Dimenangkan LCGC

Dari sisi harga, mobil LCGC masih menjadi pilihan paling ekonomis. Sejumlah model seperti Honda Brio Satya, Toyota Agya, dan Daihatsu Sigra masih dipasarkan dengan harga di bawah Rp200 juta.

Sementara itu, mobil listrik di kelas entry level umumnya dibanderol mulai sekitar Rp190 juta hingga lebih dari Rp300 juta, bergantung pada merek, kapasitas baterai, dan fitur yang ditawarkan.

Meski demikian, selisih harga tersebut kini semakin tipis. Pemerintah memberikan insentif berupa PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bagi mobil listrik yang memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), sehingga hanya dikenakan PPN sebesar 1 persen.

Di sisi lain, kendaraan LCGC masih dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 3 persen.

Mobil Listrik Lebih Murah untuk Operasional Harian

Keunggulan terbesar kendaraan listrik terletak pada biaya penggunaan sehari-hari.

Apabila pengisian daya dilakukan di rumah, biaya listrik yang dibutuhkan rata-rata hanya berkisar Rp150–250 per kilometer.

Sebagai perbandingan, mobil LCGC dengan konsumsi bahan bakar sekitar 15–20 kilometer per liter membutuhkan biaya sekitar Rp600–800 per kilometer apabila menggunakan BBM nonsubsidi.

Dengan asumsi kendaraan menempuh jarak sekitar 1.000 kilometer setiap bulan, pemilik mobil listrik dapat menghemat biaya energi hingga sekitar 70 persen dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

Dalam periode lima tahun, penghematan tersebut dapat mencapai puluhan juta rupiah sehingga mampu menutup sebagian selisih harga pembelian kendaraan.

Biaya Servis dan Pajak Lebih Ringan

Selain hemat energi, mobil listrik juga menawarkan biaya perawatan yang lebih rendah.

Mobil bermesin bensin memiliki ratusan komponen bergerak yang membutuhkan perawatan rutin, mulai dari penggantian oli mesin, filter oli, filter udara, busi, hingga cairan pendingin.

Semakin lama usia kendaraan, biaya servis umumnya ikut meningkat.

Sebaliknya, sistem penggerak mobil listrik jauh lebih sederhana. Kendaraan ini tidak memerlukan penggantian oli mesin maupun berbagai komponen khas mesin pembakaran internal.

Perawatan berkala umumnya hanya meliputi pemeriksaan rem, ban, suspensi, filter kabin, serta sistem kelistrikan.

Keuntungan lain datang dari sektor pajak kendaraan bermotor.

Sejumlah pemerintah daerah memberikan insentif berupa pengurangan bahkan pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) bagi mobil listrik.

Sebagai ilustrasi, apabila pajak tahunan mobil LCGC berada di kisaran Rp2 juta, kendaraan listrik di beberapa daerah hanya dikenai pajak beberapa ratus ribu rupiah, bahkan ada yang memperoleh pembebasan sesuai kebijakan pemerintah daerah.

Dalam jangka waktu lima hingga sepuluh tahun, selisih biaya servis dan pajak tersebut dapat menghasilkan penghematan yang cukup signifikan.

Ketahanan Baterai Masih Jadi Pertimbangan

Meski menawarkan biaya operasional rendah, daya tahan baterai masih menjadi perhatian sebagian konsumen.

Saat ini mayoritas produsen mobil listrik memberikan garansi baterai hingga 8 tahun atau sekitar 160.000 kilometer, sehingga pengguna memiliki perlindungan apabila kapasitas baterai mengalami penurunan di luar standar yang ditetapkan pabrikan.

Di sisi lain, pasar mobil bekas LCGC masih lebih matang. Tingginya permintaan membuat nilai jual kembali kendaraan berbahan bakar bensin relatif lebih stabil.

Selain itu, jaringan bengkel umum dan ketersediaan suku cadang LCGC juga sudah tersebar luas di berbagai daerah, sehingga memudahkan pemilik kendaraan saat membutuhkan perawatan maupun perbaikan.

Mana yang Lebih Menguntungkan?

Pilihan terbaik sangat bergantung pada kebutuhan pengguna.

Bagi masyarakat yang lebih banyak berkendara di kawasan perkotaan, memiliki fasilitas pengisian daya di rumah, dan ingin menekan biaya operasional, mobil listrik menawarkan efisiensi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Sebaliknya, bagi pengguna yang sering bepergian ke luar kota, membutuhkan kemudahan pengisian bahan bakar, serta mempertimbangkan nilai jual kembali yang relatif stabil, mobil LCGC masih menjadi pilihan yang masuk akal.

Pada akhirnya, kedua jenis kendaraan memiliki keunggulan masing-masing. Mobil listrik unggul dari sisi efisiensi energi, biaya perawatan, dan insentif pajak. Sementara itu, LCGC menawarkan harga awal yang lebih terjangkau, jaringan layanan purnajual yang luas, serta fleksibilitas penggunaan di berbagai wilayah Indonesia.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play