Maserati Dikabarkan Gandeng Huawei dan JAC, Era Baru Mobil Sport Italia Dimulai?
Suara Kalbar – Maserati, pabrikan mobil sport mewah yang identik dengan warisan budaya Italia, dikabarkan tengah berada di persimpangan jalan sejarah. Demi menjawab tantangan era elektrifikasi dan lesunya pasar, jenama berlogo trisula ini dilaporkan sedang menjajaki kerja sama strategis dengan raksasa teknologi Tiongkok, Huawei, serta produsen otomotif JAC.
Berdasarkan laporan dari Yunjian Insight, Stellantis (induk perusahaan Maserati) sedang mendiskusikan kemitraan untuk membangun kendaraan energi baru (NEV). Pola kerja samanya diprediksi akan mengikuti model Harmony Intelligent Mobility Alliance milik Huawei, di mana teknologi inti kendaraan dipasok oleh raksasa teknologi tersebut, sementara produksi ditangani oleh mitra manufaktur lokal.
Dalam skema kerja sama ini, pembagian tugas terlihat sangat spesifik. Huawei akan bertanggung jawab mengembangkan teknologi inti dan perencanaan produk, sedangkan JAC akan mengemban tugas riset, pengembangan (R&D), serta manufaktur.
“Di sisi lain, Maserati hanya akan berperan dalam aspek desain estetika dan penyediaan nama besar merek untuk keperluan pemasaran,” tulis Carscoops, Jumat (15/5/2026).
Kabar ini tentu mengejutkan para loyalis otomotif. Pasalnya, bagi merek yang didirikan oleh Maserati bersaudara pada tahun 1914, menyerahkan pengembangan teknologi inti dan produksi ke pihak luar, terutama ke perusahaan di luar Italia, dianggap sebagai langkah yang sangat tidak lazim dan bisa mengaburkan identitas merek yang selama ini mereka banggakan.
Namun, langkah pragmatis ini diambil Stellantis bukan tanpa alasan yang kuat. Kondisi finansial dan performa pasar Maserati sedang tidak baik-baik saja. Pada tahun lalu, Maserati tercatat hanya menjual sekitar 11.127 unit kendaraan secara global. Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 58 persen dibandingkan tahun 2024, dan jauh dari masa kejayaan mereka di tahun 2017 yang sempat menyentuh angka 49.000 unit.
Kejatuhan paling menyakitkan terjadi di pasar Tiongkok, yang merupakan pasar otomotif terbesar di dunia. Jika pada tahun 2017 Maserati mampu menjual lebih dari 14.000 unit di sana, tahun lalu angka tersebut menyusut drastis hingga hanya tersisa sekitar 1.000 unit saja. Tekanan dari merek mobil listrik lokal Tiongkok yang lebih canggih dan murah disinyalir menjadi penyebab utama.
Laporan tersebut juga membocorkan bahwa saat ini ada dua model yang sedang dalam tahap perencanaan awal. Model pertama kemungkinan besar akan dijual di Tiongkok di bawah merek Maextro, sementara model kedua akan didesain ulang atau diganti lencananya menjadi Maserati untuk pasar internasional. Jika benar, maka elemen paling “Italia” dari mobil ini nantinya mungkin hanyalah ejaan nama yang tertempel di pintu bagasi.
Menanggapi laporan tersebut, pihak Stellantis memilih untuk bersikap diplomatis. Dalam keterangannya kepada Carscoops, juru bicara perusahaan menyatakan bahwa Stellantis memang rutin mengadakan diskusi dengan berbagai pelaku industri di seluruh dunia untuk memberikan pilihan mobilitas terbaik bagi pelanggan. Namun, mereka enggan berkomentar lebih jauh mengenai spekulasi kerja sama spesifik dengan Huawei dan JAC tersebut.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





