SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Kalbar Mahasiswa UNU Kalbar Menjadi Peserta Sekolah Jurnalistik Suara Kalbar Institute

Mahasiswa UNU Kalbar Menjadi Peserta Sekolah Jurnalistik Suara Kalbar Institute

Peserta Sekolah Jurnalistik Suara Kalbar Institute foto bersama usai kegiatan di IAIN Pontianak

Pontianak (Suara Kalbar) – Di negeri yang warganya lebih cepat percaya caption TikTok daripada membaca berita utuh, kegiatan Sekolah Jurnalistik Suara Kalbar Institute 2026 di IAIN Pontianak terasa seperti oase di tengah gurun konten receh. Dua hari penuh, dari 16 hingga 17 Mei 2026, mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Kalimantan Barat digembleng menjadi calon jurnalis muda yang kritis, kreatif, dan berintegritas. Sebuah misi mulia di zaman ketika banyak orang lebih hobi menyebar hoaks ketimbang menyebar akal sehat.

Kegiatan yang digelar secara online dan offline itu bukan sekadar pelatihan biasa. Ini seperti “tempat pencucian otak” generasi muda agar tidak menjadi manusia yang tiap pagi bangun tidur langsung percaya judul bombastis tanpa membaca isi berita. Peserta diajarkan teknik wawancara, reportase, penulisan berita, jurnalistik digital, hingga etika pers. Sebab di era sekarang, jempol sering kali lebih liar daripada logika.

Di tengah derasnya banjir informasi digital, hadirnya kegiatan ini ibarat mercusuar di lautan clickbait. Para narasumber dari kalangan praktisi media berbagi pengalaman nyata tentang kerasnya dunia jurnalistik. Mereka mengingatkan bahwa tugas jurnalis bukan sekadar mengejar viral, tetapi memperjuangkan kebenaran. Berat memang. Apalagi sekarang banyak orang lebih suka drama daripada data.

Salah satu peserta yang terlihat paling antusias adalah Alvin, mahasiswa semester empat Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Kalbar. Sejak awal hingga akhir kegiatan, Alvin mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat. Baginya, pelatihan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya literasi media dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik. Ia tampak aktif berdiskusi, menyimak materi, hingga mengikuti praktik peliputan lapangan bersama peserta lainnya.

Alvin sadar, di zaman sekarang kemampuan menulis berita bukan cuma soal menyusun kalimat. Ini soal keberanian melawan kebisingan. Soal menjaga akal sehat di tengah dunia yang kadang lebih ramai oleh opini daripada fakta. Mahasiswa manajemen itu mungkin datang sebagai peserta biasa, tetapi pulang dengan perspektif baru: bahwa pena, kamera, dan data bisa menjadi senjata yang lebih tajam daripada sekadar komentar nyinyir di media sosial.

Puncak kegiatan ditutup dengan presentasi hasil praktik jurnalistik peserta. Mereka belajar bagaimana mencari fakta, menyusun berita dengan prinsip 5W+1H, hingga memahami pentingnya verifikasi informasi sebelum dipublikasikan. Sebuah pelajaran yang tampaknya sederhana, tetapi sangat mahal di zaman ketika “katanya” sering dianggap setara dengan fakta ilmiah.

Sekolah Jurnalistik Suara Kalbar Institute 2026 akhirnya bukan cuma melahirkan peserta pelatihan. Ia sedang menanam benih harapan. Bahwa di tengah dunia digital yang kadang terasa seperti pasar malam penuh teriakan, masih ada anak-anak muda yang mau belajar menjadi penyampai kebenaran. Dan itu, Wak, jauh lebih langka daripada diskon tanggal kembar.

Penulis: Rilis

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play