Tradisi Beroah, Kearifan Lokal Masyarakat Melayu Sekadau Usai Idulfitri
Sekadau (Suara Kalbar) – Tradisi budaya turun-temurun masih terus dilestarikan oleh masyarakat Melayu di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, khususnya usai perayaan Idulfitri atau lebaran. Salah satu tradisi yang tetap dijaga hingga kini adalah kegiatan beroah, yakni doa bersama yang dikenal juga sebagai doa tolak bala dan doa arwah (roah).
Tradisi ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi sekaligus memanjatkan doa keselamatan bagi keluarga yang masih hidup serta mendoakan arwah sanak saudara yang telah meninggal dunia.
Dalam pelaksanaannya, pemilik rumah akan mengundang tetangga sekitar atau yang dikenal dengan istilah “panggil” untuk hadir ke kediamannya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh seorang bilal atau tokoh agama setempat.
Suasana kebersamaan terasa kental ketika para tamu duduk bersama mengikuti rangkaian doa dengan khusyuk. Usai doa, tuan rumah menyajikan hidangan makanan secara saprahan, yakni tradisi makan bersama dengan cara duduk berkelompok di lantai.
Waktu pelaksanaan beroah biasanya dilakukan setelah salat wajib, seperti usai salat Zuhur, Ashar, atau Magrib, menyesuaikan dengan kesepakatan dan kesiapan tuan rumah.
Bagi masyarakat Melayu Sekadau, tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap leluhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi beroah, diharapkan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya Melayu di Kabupaten Sekadau dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Sumber: Berbagai sumber
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






