SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Ramadhan sebagai Momentum Revitalisasi Pendidikan Karakter di Era Digital

Ramadhan sebagai Momentum Revitalisasi Pendidikan Karakter di Era Digital

Bayu

Oleh: Bayu, M.Pd

‎‎Ramadhan tahun ini datang di tengah realitas pendidikan yang semakin kompleks. Sekolah dan kampus tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan kurikulum dan capaian akademik, tetapi juga tantangan moral di ruang digital. Anak-anak dan remaja hidup dalam dunia yang serba cepat, serba instan, dan serba terbuka. Informasi mengalir tanpa saring, opini berseliweran tanpa kendali, dan interaksi sosial banyak berpindah dari ruang nyata ke layar gawai.

‎Kita menyaksikan bagaimana media sosial kerap menjadi arena perundungan, penyebaran hoaks, bahkan polarisasi yang tajam. Di ruang kelas, tidak sedikit guru mengeluhkan menurunnya fokus belajar siswa karena distraksi digital. Budaya “scroll tanpa henti” seringkali lebih menarik daripada membaca buku atau berdiskusi mendalam. Dalam situasi seperti ini, pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap kurikulum.

‎Ramadan sesungguhnya menawarkan jawaban yang relevan. Puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi latihan pengendalian diri yang sangat kontekstual dengan tantangan era digital. Menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib adalah simbol disiplin dan konsistensi. Jika seseorang mampu menahan keinginan biologisnya, maka sejatinya ia juga dilatih untuk menahan dorongan emosional termasuk dorongan untuk berkomentar kasar atau membagikan informasi tanpa verifikasi.

‎‎Di tengah budaya instan, Ramadan mengajarkan makna proses. Sahur harus bangun lebih awal, berbuka harus menunggu waktunya, dan setiap ibadah memiliki ketentuan yang tertib. Nilai disiplin ini sangat penting untuk mengembalikan etos belajar yang mulai terkikis oleh kebiasaan serba cepat. Pendidikan hari ini membutuhkan generasi yang sabar dalam membaca, tekun dalam meneliti, dan tahan terhadap proses panjang pencapaian ilmu.

‎‎Lebih jauh, Ramadan juga membangun empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar, ia belajar memahami penderitaan orang lain. Di tengah menguatnya individualisme digital di mana orang sibuk dengan dunianya sendiri nilai empati ini menjadi fondasi penting. Sekolah dapat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat kegiatan sosial, literasi kemanusiaan, dan dialog antar siswa yang lebih humanis.

‎Kondisi pendidikan sekarang juga menunjukkan pentingnya integritas. Praktik plagiarisme, menyontek secara daring, hingga manipulasi tugas berbasis teknologi menjadi tantangan baru. Puasa mengajarkan kejujuran yang bersifat personal. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh selain dirinya dan Tuhan. Nilai kejujuran internal inilah yang semestinya ditanamkan dalam dunia akademik.

‎‎Namun, Ramadan tidak akan otomatis memperbaiki karakter jika hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan. Perlu ada kesadaran pedagogis dari guru, dosen, dan orang tua untuk menjadikannya ruang refleksi. Kegiatan seperti jurnal harian reflektif, diskusi etika bermedia sosial, atau proyek berbagi kepada sesama dapat menjadi sarana konkret menghubungkan ibadah dengan praktik pendidikan.

‎‎Di era digital, pendidikan karakter juga harus adaptif. Bukan berarti menjauhkan siswa dari teknologi, tetapi mengajarkan penggunaan yang bijak. Ramadan dapat menjadi momen kampanye literasi digital berbasis nilai: berpikir sebelum membagikan informasi, menjaga tutur kata di dunia maya, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan.

‎Momentum ini juga relevan dalam konteks pendidikan nasional yang sedang mendorong penguatan karakter dan nilai kebangsaan. Spirit Ramadan yang menekankan kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian sosial sejalan dengan upaya membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berintegritas. Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan lulusan berprestasi, tetapi juga manusia yang matang secara moral.

‎Akhirnya, Ramadan adalah kesempatan tahunan yang selalu datang membawa pesan pembaruan. Dunia pendidikan tidak boleh melewatkannya sebagai seremoni simbolik belaka. Jika nilai-nilai Ramadan diintegrasikan secara sadar dalam proses pembelajaran, maka ia dapat menjadi energi transformasi karakter di tengah derasnya arus digital. Tantangannya bukan pada kurangnya nilai, tetapi pada kesungguhan kita untuk menjadikannya hidup dalam praktik pendidikan sehari-hari.

‎‎*Penulis adalah Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan