Puasa Bisa Turunkan Berat Badan, Asal Menu Terkontrol
Suara Kalbar –Bulan Ramadan kerap dimanfaatkan sebagai momentum memperbaiki pola hidup, termasuk mengatur pola makan dan menjaga berat badan. Namun, tanpa pengaturan menu dan kalori yang tepat, puasa justru berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan.
Ahli gizi menjelaskan, menuturkan secara ilmiah puasa memang dapat membantu penurunan berat badan. Pembatasan waktu makan seharusnya diikuti dengan berkurangnya jumlah serta kalori asupan harian, sehingga tubuh memanfaatkan cadangan energi yang tersimpan.
“Dengan terbatasnya waktu yang tersedia untuk makan atau minum maka mestinya volume dan kalori asupan makanan juga mengalami penurunan, sehingga dapat berefek pada penurunan berat badan,” ujar Pratiwi Dinia Sari, kepala instalasi gizi Rumah Sakit Anak UGM dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).
Menurut Dini, puasa juga memicu perubahan hormon seperti leptin dan ghrelin yang berperan dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Jika disertai pola makan sehat serta olahraga ringan, kondisi ini dapat membantu pengendalian berat badan.
“Puasa bisa memengaruhi nafsu makan menjadi lebih terkontrol, yang dapat membantu menurunkan berat badan jika dibarengi dengan pola makan sehat dan olahraga ringan,” tambahnya.
Berkurangnya frekuensi makan tidak otomatis langsung menurunkan total kalori harian. Pemilihan menu menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan pengendalian berat badan selama Ramadan. Banyak hidangan berbuka memiliki densitas kalori tinggi meskipun dikonsumsi dalam porsi kecil.
Ia mencontohkan hidangan takjil tinggi gula dan lemak seperti gorengan dan minuman manis. Satu potong pisang goreng 50 gram mengandung sekitar 130 kalori, hampir setara dengan 500 gram pepaya. Sementara satu sendok makan gula pasir mengandung sekitar kurang lebih 50 kalori.
Apabila makanan tinggi lemak dan tinggi gula tersebut menjadi menu yang dipilih saat sahur dan berbuka tentu akan menambah jumlah asupan kalori sehari, dan apabila dikonsumsi berlebih maka bisa menyebabkan kelebihan asupan kalori.
Terkait defisit kalori, Dini menegaskan kebutuhan gizi setiap individu berbeda, dipengaruhi usia, jenis kelamin, serta tingkat aktivitas fisik. Secara umum, ia menyarankan penerapan prinsip gizi seimbang, yaitu mengisi setengah piring dengan sayur saat makan utama, dilengkapi lauk hewani maupun nabati serta asupan cairan yang cukup.
“Kalau rekomendasi secara umumnya ya atur pola makan dengan mengikuti prinsip gizi seimbang,” tambah Dini.
Selain pola makan, kualitas tidur selama Ramadan juga punya peran besar terhadap metabolisme tubuh karena dapat memengaruhi hormon lapar, hormon kenyang, serta hormon stres kortisol. Dini menyarankan masyarakat tidur lebih awal dan melakukan power nap selama 20–30 menit pada siang hari.
Dini juga mengingatkan pentingnya aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki atau latihan beban intensitas rendah. Cukup dilakukan dengan durasi 20–30 menit menjelang atau setelah berbuka puasa.
“Tetap lakukan aktivitas olahraga ringan seperti jalan kaki atau latihan beban intensitas ringan sesuai kemampuan,” pungkasnya.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






