SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Industri Asuransi Kewalahan Hadapi Lonjakan Klaim Mobil Listrik

Industri Asuransi Kewalahan Hadapi Lonjakan Klaim Mobil Listrik

Laporan Mitchell 2025 menyebut lonjakan klaim asuransi mobil listrik akibat rumitnya teknologi sensor dan tingginya ketergantungan pada suku cadang asli (OEM). (Google)

Suara Kalbar – Tren kendaraan listrik (EV) ternyata membawa tantangan baru yang cukup pelik bagi industri asuransi dan bengkel. Berdasarkan laporan terbaru dari Mitchell, penyedia perangkat lunak manajemen tabrakan, jumlah klaim perbaikan mobil listrik melonjak tajam sepanjang tahun 2025.

Di Amerika Serikat, angka klaim naik sebesar 14%, sementara di Kanada kenaikannya jauh lebih drastis hingga mencapai 24%. Lonjakan ini tergolong unik dan mengejutkan. Pasalnya, pertumbuhan penjualan mobil listrik baru sebenarnya dilaporkan melambat pada tahun yang sama.

Hal ini dipicu oleh berakhirnya berbagai insentif pajak dari pemerintah serta beralihnya minat konsumen ke mobil hybrid. Data dari Cox Automotive menunjukkan penjualan unit baru EV turun sekitar 2%, membuktikan bahwa masalah biaya perbaikan ini muncul dari armada mobil listrik lama yang kini mulai sering mengalami insiden.

Salah satu penyebab utama tingginya beban perbaikan adalah kecanggihan teknologi yang tertanam di dalam mobil listrik. Ryan Mandell, pejabat eksekutif di Mitchell, menjelaskan bahwa mobil listrik memiliki arsitektur kelistrikan yang sangat padat dan sistem berbasis perangkat lunak yang rumit.

“Komponennya dipenuhi oleh sensor yang saling terhubung, sehingga kerusakan kecil sekalipun memerlukan proses diagnosa dan kalibrasi ulang yang memakan waktu serta biaya besar,” ujar Ryan Mandell, dikutip Carscoops, Jumat (20/2/2026).

Dominasi pasar juga berpengaruh pada statistik klaim ini. Tesla, meski pangsa pasarnya sedikit menurun karena gempuran pesaing, tetap menjadi kontributor terbesar dalam volume klaim perbaikan. Di Amerika Serikat, Tesla Model Y dan Model 3 secara gabungan mencakup lebih dari 50% dari seluruh klaim perbaikan kendaraan listrik.

Pola serupa juga terjadi di Kanada, di mana kedua model ini tetap merajai daftar kendaraan yang paling sering masuk bengkel akibat kecelakaan. Menariknya, meski frekuensi klaim meningkat, ada sedikit kabar baik dari sisi efisiensi biaya.

Rata-rata biaya untuk memperbaiki satu unit mobil listrik di AS sebenarnya turun sekitar 5%, dari yang sebelumnya 6.707 dolar menjadi 6.395 dolar. Namun, angka ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan mobil bermesin bensin konvensional (ICE), terutama karena mobil listrik sangat bergantung pada suku cadang asli pabrikan (OEM) yang harganya relatif mahal.

Laporan tersebut juga menyoroti perbedaan mendasar dalam cara perbaikan dilakukan. Pada mobil listrik, sekitar 86% biaya dialokasikan untuk membeli suku cadang baru dari pabrikan, dan hanya 13% bagian yang dianggap masih bisa diperbaiki. Sebagai perbandingan, mobil berbahan bakar bensin memiliki fleksibilitas lebih tinggi, di mana komponen yang bisa diperbaiki mencapai 15% dan ketergantungan pada suku cadang asli pabrikan hanya di angka 62%.

Selain kerumitan teknis, pemilik mobil listrik juga harus menghadapi kenyataan pahit mengenai penurunan nilai jual kembali atau depresiasi. Nilai pasar kendaraan listrik mengalami merosot paling tajam dibandingkan jenis mesin lainnya. Di Amerika Serikat, nilai rata-rata mobil listrik turun 6%, sedangkan di Kanada anjlok hingga 13%. Penurunan nilai yang drastis ini dipicu oleh hadirnya model-model baru yang lebih murah serta perubahan sentimen konsumen yang mulai melirik opsi kendaraan lain.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi calon pembeli bahwa memiliki mobil listrik bukan hanya soal gaya hidup ramah lingkungan atau hemat bahan bakar. Ada aspek biaya tersembunyi, mulai dari premi asuransi yang mungkin lebih mahal hingga tantangan teknis saat terjadi kerusakan. Industri otomotif kini dituntut untuk tidak hanya menjual teknologi canggih, tetapi juga memikirkan ekosistem perbaikan yang lebih terjangkau bagi konsumen di masa depan.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan