FKPT Kalbar: “Nyakat” Budaya Biasa, Pelajar Merakit Bom Itu Tanda Bahaya Radikalisme
Pontianak (Suara Kalbar) – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat, Dr. Yusriadi, MA menyoroti fenomena memprihatinkan terkait keterpaparan pelajar terhadap radikalisme di wilayah Kalimantan Barat. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Aksi Bersama Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar yang digelar di Aula Kanwil Kementerian Agama Kalbar, Rabu (11/2/2026).
Dalam paparannya, Yusriadi merespons temuan aparat keamanan mengenai upaya pembuatan bahan peledak oleh korban pelajar yang sempat menghebohkan publik di wilayah Kubu Raya. Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak menyederhanakan masalah ini semata-mata sebagai dampak dari perundungan atau bullying.
Budaya “Nyakat” vs Niat Melukai
Yusriadi menekankan perlunya analisis mendalam mengenai pemicu tindakan ekstrem tersebut. Ia membandingkan dengan budaya lokal Pontianak yang dikenal dengan istilah “nyakat” atau saling mengolok dalam pergaulan.
“Kalau orang Pontianak itu kalau tidak ‘nyakat’, macam tidak hidup pertemanan dan pergaulan. Kalau dalam tradisi yang biasa ini, ada pertanyaan besar. Kalau hanya karena bully, orang Pontianak pasti sudah banyak yang melakukan kekerasan,” ujar Yusriadi dalam sambutannya.
Menurutnya, jika seorang pelajar hanya bereaksi karena sakit hati akibat perundungan, respons yang lazim biasanya adalah perkelahian fisik atau melempar benda yang ada di sekitarnya. Namun, ketika respons tersebut berubah menjadi upaya merakit bom, meskipun bentuknya masih berupa mercon atau petasan besar, hal itu mengindikasikan adanya pergeseran pola pikir yang serius, yang mengarah ke radikalisme.
“Kalau dia (pelajar) mau balas dendam, dia akan lempar barang itu ke kerumunan kawan-kawannya. Tapi ini dia tidak melempar ke kerumunan. Ada indikasi masalah literasi emosional atau mungkin literasi keagamaan yang keliru, seperti pemahaman jihad atau takfiri,” jelas Yusriadi.
Penyebaran Seperti Virus
Yusriadi juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait tren peningkatan jumlah pelajar yang terpapar. Berdasarkan informasi yang diterimanya, jumlah anak yang terpapar dalam satu kelompok bisa berkembang dengan cepat layaknya virus.
“Tadi pagi saya diberitahu, ada di satu daerah yang mula-mula terlibat hanya beberapa orang, kemudian berkembang menjadi 20 orang. Ini seperti virus yang menjangkiti,” ungkapnya.
Pendekatan Pentahelix
Untuk menangani masalah kompleks ini, FKPT Kalbar tidak bisa bekerja sendiri. Yusriadi menegaskan pentingnya strategi Pentahelix yang melibatkan lima unsur utama: akademisi, media, pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan pemerintah.
“Peristiwa ini tidak bisa ditangani sendiri. Kalau problemnya ada di literasi emosional, maka Asosiasi Bimbingan Konseling (ABKIN) dapat masuk. Kalau problemnya di literasi keagamaan, pendekatan agama menjadi relevan,” tambahnya.
Kegiatan FGD ini sendiri merupakan langkah responsif FKPT Kalbar bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mengevaluasi efektivitas program pencegahan yang telah berjalan dan merumuskan langkah strategis baru demi melindungi generasi muda di Kalimantan Barat dari radikalisme hingga terorisme.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






