SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Dokter Anak Ingatkan Bahaya Gadget bagi Balita

Dokter Anak Ingatkan Bahaya Gadget bagi Balita

Ilustrasi anak main gadget. (Istimewa)

Suara Kalbar – Orang tua disarankan tidak pernah memberikan gadget kepada anak usia di bawah 2 tahun karena memiliki dampak buruk pada pertumbuhan si kecil.

Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Farid Agung Rahmadi mengungkapkan  paparan gadget yang tidak terkontrol justru berisiko merampas masa keemasan (periode emas) pertumbuhan otak anak. Hal itu berlangsung sangat cepat, sehingga membutuhkan stimulasi nyata dari lingkungan sekitar, bukan paparan layar.

“Masa awal kehidupan adalah fase paling krusial bagi manusia. Kelompok yang paling berisiko terhadap screen time yang berlebihan adalah anak-anak terutama umur kurang dari 2 tahun,” kata Farid dalam Seminar Media IDAI bertajuk “Gadget untuk Anak, Sebaiknya Mulai Usia Berapa? Dan Apa Sajakah?” di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Farid menerangkan pengenalan gadget yang terlalu dini disertai durasi berlebihan hampir pasti berdampak pada gangguan perkembangan. Dampak jangka pendek pada balita dapat bisa keterlambatan perkembangan motorik, gangguan bahasa atau speech delay, hingga gangguan kognitif.

Selain itu, paparan berlebihan juga berisiko memunculkan gangguan perilaku seperti hiperaktif, inatensi, agresivitas, hingga kondisi yang menyerupai autisme.

“Jadi ada istilah lagi itu namanya virtual autism. Jadi itu autis yang sebetulnya hanya autism-like saja, jadi mirip gejala mirip autis akibat nonton yang terlalu berlebihan,” ujar anggota unit kerja koordinasi tumbuh kembang dan pediatri sosial IDAI.

Tak hanya berdampak pada perkembangan, Farid mengungkap penggunaan gadget juga memengaruhi kesehatan fisik anak. Paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin sehingga memicu gangguan tidur.

“Ada juga dari melatonin yang terganggu karena nonton layar elektronik yang memancarkan artificial blue light yang menyebabkan anak sulit untuk tidur,” ucapnya.

Lebih lanjut, Farid menyebut dampak jangka panjang dapat terlihat setelah 5 tahun paparan berulang, seperti gangguan fokus, prestasi akademik menurun, risiko obesitas, hingga penyakit tidak menular.

Meski demikian, Farid menegaskan risiko tersebut dapat ditekan jika orang tua memahami cara pemberian screen time yang tepat. Ia menilai peran orangtua menjadi faktor protektif utama.

“Peran orang tua merupakan memiliki peran yang paling vital pada paparan gadget anak,” ungkapnya.

Farid menekankan pendampingan oleh orang tua bukan sekadar duduk di samping anak, melainkan aktif menjembatani apa yang dilihat di layar dengan pengalaman nyata.

Ia menekankan pentingnya pembatasan ketat, terutama pada usia di bawah dua tahun yang sedang berada dalam fase pertumbuhan otak paling pesat.

“Orang tua harus aktif sebagai pendamping yang menjembatani antara apa yang sedang dilihat di layar elektronik dengan keterampilan apa yang dapat dipraktikkan di dunia nyata pada anaknya,” pungkasnya.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan