Cerita Slamet, Muslim Penjaga Kelenteng Tengah Laut Selama 30 Tahun
Kubu Raya (Suara Kalbar) – Kelenteng Tengah Laut (Xuan Wu Zhen Tan) yang mengapung ditengah air laut Desa Kakap Kabupaten Kubu Raya memiliki daya tarik tersendiri, selain lokasinya yang berada di laut dah terpencil dari ramainya kota, ada yang unik dari kelenteng ini, yaitu sang penjaga kelenteng.
Namanya Slamet, Ia berusia 74 tahun dan merupakan seorang muslim. Slamet sendiri memiliki keterbatasan dengan kakinya yang tidak bisa berjalan sempurna dan memerlukan bantuan kaki. Ia mengaku sudah menjaga kelenteng hampir 30 tahun lamanya.
Selamet menceritakan kisah awalnya sebagai penjaga kelenteng tengah laut dengan bayaran 400 ribu rupiah.
“Jadi dulu saya jaga pekong (kelenteng) ini dengan bayaran 400 ribu rupiah, setelah itu saya berhenti, mana cukup 400 ribu jadi akhirnya saya berhenti,” ujarnya saat ditemui ketika menjaga kelenteng pada Rabu (04/02/2026).
Tak lama setelah berhenti, ia kemudian dipanggil lagi dan berkerja tanpa bayaran, menurutnya bekerja tanpa bayaran bisa membuat dirinya lebih bebas tanpa harus terikat dengan satu perkerjaan saja.
“Setelah itu saya dipanggil lagi, saya mau saja kalau tidak digaji bebas gitu maksudnya, jadi bisa kemana-mana, kalau di gaji kan tidak bisa kemana-mana,” tambahnya.
Meskipun begitu, ia menerangkan bahwa terkadang ada saja dari pengunjung yang datang yang memberikannya sejumlah uang.
“Tapi kadang ada-ada saja dari pengunjung yang datang yang kasi uang,” ujarnya.
Slamet mengaku tinggal di daerah pabrik di tepi pantai, sehingga setiap hari ia harus ke kelenteng dengan menggunakan perahu.
“Saya tidak tinggal disini, saya tinggal dekat pabrik, jadi setiap hari kesini dengan menggunakan perahu,”
Selama menjaga kelenteng, Slamet datang pukul 7 pagi dan pulang pada pukul 5 sore, akan tetapi di hari minggu biasanya ia pulang lebih lama hingga pukul 6 sore.
Meskipun beragam Islam, Slamet mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia merasa semua perkerjaan selama tidak melanggar norma dan aturan tidak masalah.
“Semuanya sama saja menurut saya, tidak masalah,” ucapnya.
30 tahun menjaga kelenteng Xuan Wu Zhen Tan membuatnya banyak bertemu dengan orang baru setiap harinya yang datang dari berbagai daerah.
“Banyak yang datang, setiap hari pasti ada, apalagi jelang imlek, dari luar kota seperti Jakarta juga ada, bahkan pernah juga datang orang Belanda kesini bersama istrinya orang Indonesia,” pungkasnya.
Slamet membuktikan bahwa toleransi tidak hanya hadir dalam bentuk narasi, tetapi juga terwujud melalui kepercayaan dan konsistensi. Meski seorang muslim, ia tidak membatasi diri pada pekerjaan apa pun. Loyalitas yang ia tunjukkan menjadi contoh nyata toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Penulis: Meriyanti
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






