Penjualan Mobil Listrik Kanada Anjlok pada 2025, Berharap Bangkit Lewat Mobil China
Suara Kalbar – Penjualan mobil listrik di Kanada mengalami penurunan tajam sepanjang 2025. Hal itu berbanding terbalik dengan tren global yang justru mencetak rekor baru.
Mengutip The Star, Sabtu (17/1/2026), setelah bertahun-tahun mencatat pertumbuhan pesat, adopsi mobil listrik di Kanada justru jatuh. Hal itu terjadi di saat hampir seluruh pasar utama dunia mencatat lonjakan penjualan mobil listrik.
Namun, angin segar mulai berembus setelah Pemerintah Kanada mengumumkan penurunan signifikan tarif impor mobil listrik dari China. Kebijakan ini membuka jalan bagi masuknya model-model mobil listrik berharga terjangkau dalam waktu dekat.
Salah satu merek yang disorot adalah BYD, produsen otomotif China yang tengah melesat di pasar global. Selama ini, BYD dan sejumlah merek China lainnya praktis tertutup aksesnya ke pasar Kanada akibat tarif tinggi dan hambatan perdagangan.
Pengamat menilai kehadiran mobil listrik China berpotensi mengubah peta persaingan, terutama di segmen harga menengah ke bawah yang selama ini menjadi kendala utama adopsi mobil listrik di Kanada. Harga mobil listrik yang relatif mahal disebut sebagai faktor utama anjloknya penjualan sepanjang 2025.
“Adopsi mobil listrik sebenarnya meningkat tajam di hampir semua pasar dunia pada 2025, kecuali di Kanada,” tulis laporan tersebut.
Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa keterjangkauan harga menjadi kunci pemulihan pasar. Namun, masuknya mobil listrik China juga memunculkan kekhawatiran.
Sejumlah pihak menilai kebijakan penurunan tarif berpotensi memicu ketegangan dagang baru, khususnya dengan Amerika Serikat, serta menekan produsen otomotif lokal dan Amerika Utara.
Ke depan, 2026 diperkirakan menjadi tahun penentuan bagi pasar mobil listrik Kanada. Jika model-model murah dan kompetitif dari China benar-benar masuk dan diterima konsumen, pasar mobil listrik berpeluang bangkit kembali setelah terpukul pada 2025.
Namun, jika hambatan nontarif dan isu geopolitik kembali mencuat, pemulihan tersebut bisa berjalan lebih lambat dari harapan.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






