Merasa Hampa Usai Liburan? Bisa Jadi Anda Alami Post Holiday Blues
Suara Kalbar – Masa liburan sering kali menjadi periode yang paling dinantikan dalam setahun. Waktu ini identik dengan kebebasan dari rutinitas, kebersamaan dengan keluarga atau teman, serta kesempatan untuk beristirahat dari tekanan pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari.
Tidak sedikit orang yang merasa lebih rileks, bahagia, dan penuh energi selama liburan berlangsung. Namun, perasaan tersebut kerap berubah ketika liburan berakhir dan aktivitas kembali berjalan normal.
Saat rutinitas kembali dimulai, sebagian orang justru mengalami perubahan suasana hati yang cukup signifikan. Rasa hampa, lelah, kurang bersemangat, hingga sulit fokus sering kali muncul secara bersamaan. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah post holiday blues, sebuah fenomena emosional yang umum terjadi setelah periode liburan, terutama liburan panjang.
Post holiday blues bukanlah gangguan mental yang tergolong serius. Meski demikian, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas, konsentrasi, serta motivasi dalam menjalani aktivitas harian.
Oleh karena itu, memahami post holiday blues dan cara menghadapinya menjadi penting agar proses kembali ke rutinitas dapat berjalan lebih seimbang dan sehat secara mental.
Apa Itu Post Holiday Blues?
Secara ilmiah, kajian khusus mengenai emosi setelah liburan masih tergolong terbatas. Namun, sebuah survei lama yang dilakukan oleh American Psychological Association pada 2006 menunjukkan sekitar 78% responden merasa lebih bahagia selama masa liburan. Di sisi lain, sekitar 68% responden juga mengaku sering atau sesekali merasa lelah selama periode tersebut.
Seperti halnya emosi positif saat liburan, istilah post holiday blues juga belum banyak dibahas dalam penelitian akademis secara mendalam. Meski begitu, berbagai pakar kesehatan mental menyebut bahwa kondisi ini sangat umum terjadi.
Psikoterapis asal Boston Angela Ficken menjelaskan post holiday blues merupakan perasaan sedih, kehilangan semangat, atau kekosongan emosional yang muncul setelah masa liburan berakhir.
Kondisi ini biasanya berkaitan dengan berakhirnya periode yang dipenuhi aktivitas sosial, kebersamaan dengan orang terdekat, serta momen-momen menyenangkan yang telah lama dinantikan.
Perasaan yang muncul sering kali mirip dengan kekecewaan setelah sebuah acara besar, seperti pernikahan atau perayaan penting lainnya, berakhir dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Tanda dan Gejala Post Holiday Blues
Dikutip dari Healthline, post holiday blues umumnya muncul ketika seseorang kembali dihadapkan pada rutinitas dan tanggung jawab sehari-hari. Meskipun bersifat sementara, kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan fisik dan emosional.
Beberapa tanda yang sering dialami antara lain rasa lelah berkepanjangan, baik secara fisik maupun mental, serta perubahan suasana hati yang membuat seseorang lebih mudah sedih atau mudah tersinggung.
Kesulitan berkonsentrasi juga menjadi keluhan yang cukup umum. Aktivitas yang sebelumnya terasa ringan dapat menjadi lebih berat untuk dijalani. Selain itu, motivasi dan semangat untuk bekerja atau beraktivitas sering kali menurun, disertai gangguan pola tidur seperti sulit tidur atau tidur tidak nyenyak.
Pada sebagian orang, post holiday blues juga memicu stres dan kecemasan ketika kembali menghadapi jadwal yang padat. Perubahan nafsu makan, baik meningkat maupun menurun, dapat ikut menyertai kondisi ini.
Tidak jarang pula seseorang menarik diri dari lingkungan sosial dan mengurangi interaksi dengan orang lain. Rasa nostalgia berlebihan terhadap momen liburan, serta energi tubuh yang terasa rendah, juga menjadi bagian dari gejala post holiday blues.
Psikolog kesehatan asal Arizona Rae Mazzei menambahkan post holiday blues kerap ditandai oleh rasa penyesalan terhadap hal-hal yang dilakukan atau tidak sempat diungkapkan selama liburan.
Selain itu, muncul perasaan hampa akibat jadwal yang kembali sepi tanpa perayaan atau agenda khusus. Kesedihan karena liburan telah berakhir, rasa kesepian karena berkurangnya interaksi sosial, serta gangguan tidur akibat stres emosional juga sering dirasakan.
Dampak Post Holiday Blues terhadap Aktivitas Harian
Jika tidak disadari dan dikelola dengan baik, post holiday blues dapat memengaruhi kinerja sehari-hari. Fokus dan semangat kerja cenderung menurun, sehingga aktivitas harian terasa lebih berat. Dalam kondisi tertentu, muncul kecenderungan menunda pekerjaan yang akhirnya membuat penyelesaian tugas menjadi lebih lambat.
Kualitas kerja pun dapat ikut menurun karena usaha yang dikeluarkan tidak maksimal. Selain itu, suasana hati yang negatif berpotensi memengaruhi lingkungan sekitar, baik di tempat kerja maupun di rumah. Oleh sebab itu, penting untuk mengenali kondisi ini sejak dini agar dampaknya tidak berkepanjangan.
Cara Menghadapi Post Holiday Blues secara Sehat
Post holiday blues, termasuk kondisi lain seperti January blues atau depresi musiman, dapat diringankan dengan pendekatan perawatan diri yang tepat. Fokus pada kesehatan mental menjadi langkah penting agar tubuh dan pikiran dapat kembali menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan sehari-hari.
Merasa kewalahan atau mudah tersinggung adalah hal yang wajar. Namun, ketika perasaan sedih mulai mendominasi, mengisolasi diri justru dapat memperburuk keadaan.
Melakukan aktivitas singkat yang menyenangkan, meski hanya beberapa menit, dapat membantu mengalihkan pikiran dari tekanan menuju perasaan yang lebih positif. Aktivitas, seperti membaca buku, menonton film favorit, memasak, atau mendengarkan pesan inspiratif dapat memberikan rasa kendali dan menjadi bentuk perawatan diri yang sederhana.
Selain itu, mendekatkan diri dengan alam juga dinilai memiliki efek menenangkan. Berjalan santai di lingkungan sekitar, memperhatikan suara alam, atau berinteraksi dengan hewan peliharaan dapat membantu menurunkan stres dan menenangkan pikiran. Aktivitas ini memungkinkan tubuh dan pikiran untuk sejenak melepaskan diri dari tekanan rutinitas.
Terlibat dalam kegiatan sukarela juga dapat membantu mengatasi post holiday blues. Aktivitas sosial yang bermakna, seperti membantu komunitas atau kegiatan kemanusiaan, mampu mengurangi rasa kesepian sekaligus meningkatkan perasaan berharga dan terhubung dengan orang lain.
Beberapa pakar juga merekomendasikan teknik tapping atau emotional freedom technique (EFT) untuk membantu mengelola emosi dan kecemasan. Metode ini menggabungkan prinsip akupresur dan terapi perilaku kognitif, serta telah digunakan sebagai pendekatan berbasis bukti untuk mengurangi stres dan gangguan emosional.
Kurang tidur selama liburan juga dapat memengaruhi suasana hati. Tidur singkat atau power nap yang dilakukan secara tepat dapat membantu memulihkan energi. Selain itu, aktivitas awe walk, yaitu berjalan kaki sambil secara sadar mencari hal-hal yang memunculkan rasa kagum, terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan emosional.
Menciptakan sesuatu yang dapat dinantikan, seperti mengikuti kelas baru atau mempelajari keterampilan tertentu, juga membantu mengembalikan rasa antusias. Tidak kalah penting, mencari momen tertawa melalui hiburan ringan atau komedi dapat membantu menurunkan stres dan meningkatkan suasana hati.
Berakhirnya masa liburan memang sering meninggalkan ruang kosong sebelum rutinitas kembali terasa normal. Post holiday blues bukanlah tanda kelemahan, melainkan respons alami tubuh dan pikiran terhadap perubahan suasana yang cukup drastis. Dengan memberi waktu untuk beradaptasi, menjaga keseimbangan fisik dan emosional, serta memahami kebutuhan diri sendiri, fase ini dapat dilalui dengan lebih sehat.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






