SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Kayong Utara Budidaya Ikan Air Tawar Perkuat Ekonomi Masyarakat Nelayan Desa Pelapis

Budidaya Ikan Air Tawar Perkuat Ekonomi Masyarakat Nelayan Desa Pelapis

Masyarakat Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, merasakan hasil dari upaya diversifikasi penghidupan melalui panen perdana budidaya ikan air tawar yang dilaksanakan pada awal Januari 2026. SUARAKALBAR.CO.ID/ist

Kayong Utara (Suara Kalbar) — Masyarakat Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, merasakan hasil dari upaya diversifikasi penghidupan melalui panen perdana budidaya ikan air tawar yang dilaksanakan pada awal Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas masyarakat setempat bersama PT Dharma Inti Bersama, pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Panen perdana dilakukan Sabtu (10/1/2026), pada empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun. Dari kolam-kolam tersebut, diperkirakan sekitar 700 kilogram ikan lele berhasil dipanen. Meski cuaca sempat diguyur hujan ringan, proses panen berjalan lancar dan disambut antusias oleh warga.

Selama ini, masyarakat Pelapis dikenal sebagai nelayan tangkap yang menggantungkan penghidupan pada laut. Kehadiran budidaya ikan air tawar menjadi alternatif usaha, terutama saat kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut. Budidaya lele di kolam terpal dinilai lebih adaptif dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Desa Pelapis, Suaka, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan melalui program CSR tersebut.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis. Mudah-mudahan budidaya ikan air tawar di RT 3 ini bisa menjadi tolok ukur bagi dusun lainnya,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa proses menuju panen perdana tidak selalu berjalan mulus. Namun, dengan pendampingan tenaga lapangan dari PT Dharma Inti Bersama (DIB) yang rutin memantau kualitas air dan pengaturan pakan, kendala dapat diatasi.

“Waktu paling menyenangkan itu saat memberikan umpan. Kadang airnya kurang bagus dan ada penyakit, tapi alhamdulillah, ikan yang sakit hanya satu dua,” katanya.

Suaka berharap program budidaya ikan air tawar ini terus berlanjut dan mendapatkan dukungan pemerintah daerah agar dapat menjadi sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan bagi masyarakat Pelapis.

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, menyampaikan bahwa perubahan pola pikir masyarakat nelayan tangkap memang membutuhkan waktu. Namun, ia bersyukur panen perdana ini menunjukkan hasil yang baik.

“Alhamdulillah, hasil budi daya ikan tawar ini bagus,” ujarnya.

Menurut Mikrad, budidaya lele membuka peluang penghasilan tambahan, terutama saat cuaca tidak memungkinkan masyarakat untuk melaut. Ia menilai keberadaan PT Dharma Inti Bersama sebagai penyerap hasil panen menjadi keunggulan tersendiri bagi Desa Pelapis.

“Tidak selalu bisa ke laut karena cuaca. Jadi budi daya lele ini bisa menjadi penghasilan tambahan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” tambahnya.

Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Hendra, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat. Ia menekankan bahwa proses belajar dalam budidaya perikanan membutuhkan kesabaran.

“Ibarat anak baru lahir, belajar merangkak itu butuh proses. Sekali dua kali gagal itu biasa,” ujarnya.
Hendra juga menyoroti keunggulan Desa Pelapis yang memiliki kepastian pasar.

“Kelebihan Pelapis adalah kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada. Tinggal kesiapan masyarakatnya,” katanya. Ia mendorong agar pengembangan budidaya tidak berhenti pada pembesaran, tetapi juga diarahkan pada pembibitan dan pakan mandiri.

Dari pihak perusahaan, Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menyampaikan bahwa panen perdana ini merupakan hasil dari kerja keras bersama.

“Tiba saatnya kita merasakan jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele yang alhamdulillah berhasil,” ujarnya.

Seno menegaskan bahwa perusahaan siap menyerap seluruh hasil panen sebagai bantalan ekonomi masyarakat, khususnya saat musim paceklik. Selain itu, berdasarkan masukan tenaga ahli dari IPB, ikan lele akan diolah melalui proses marinasi untuk memperpanjang masa simpan. Ke depan, ibu-ibu di Desa Pelapis akan dilibatkan dalam proses marinasi dan pengemasan vakum.

Panen perdana ini tidak hanya menjadi capaian produksi, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri kolektif masyarakat Pelapis bahwa diversifikasi penghidupan dapat diwujudkan melalui pendampingan dan kolaborasi berkelanjutan.

Sebagai penutup, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Hendra menyampaikan pantun:

Kalau ada sumur di ladang,
boleh kita menumpang mandi.
Kalau sudah budi daya lele ini menguntungkan,
kenapa tidak kita coba lagi.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan