Pemkab Bengkayang Perkuat Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan
Bengkayang (Suara Kalbar) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkayang perkuat perlindungan dan pemberdayaan perempuan sebagai upaya mendasar untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, serta praktik perkawinan anak di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.
“Perempuan memiliki peran sentral dalam membentuk kualitas generasi masa depan. Namun, peran tersebut dihadapkan pada berbagai tantangan yang masih nyata di lapangan,” ujar Wakil Bupati Bengkayang, Syamsul Rizal dalam Seminar Peringatan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025 di Kabupaten Bengkayang yang mengusung tema
“Perempuan Berdaya: Bebas dari Trauma dan Berkarya Tanpa KDRT, Mengasuh Anak dengan Cinta, Ciptakan Keluarga Bahagia”, di Bengkayang, Selasa.
Menurut Syamsul Rizal, peringatan Hari Ibu tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan momentum strategis untuk menegaskan kembali peran perempuan, khususnya para ibu, sebagai pilar keluarga, pendidik pertama anak, serta motor penting dalam pembangunan sosial dan budaya.
Berdasarkan data Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kabupaten Bengkayang, selama lima tahun terakhir tercatat sebanyak 171 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Sepanjang 2025, aparat penegak hukum juga telah menangani puluhan kasus kekerasan seksual dan pelecehan terhadap anak di bawah umur.
Selain itu, fenomena perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Bengkayang. Kalimantan Barat tercatat sebagai provinsi dengan angka perkawinan anak tertinggi di Indonesia, dan Kabupaten Bengkayang menjadi salah satu daerah penyumbang kasus tersebut.
Syamsul Rizal menilai kondisi tersebut, jika tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan, akan berdampak pada kualitas pengasuhan, tumbuh kembang anak, serta berpotensi melanggengkan siklus kekerasan dan ketidakadilan antar generasi.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Bengkayang terus mendorong langkah-langkah konkret melalui penguatan kebijakan, edukasi, dan pemberdayaan perempuan, termasuk pemulihan trauma, peningkatan pemahaman hak-hak perempuan, serta penguatan pola asuh anak berbasis kasih sayang dan kesetaraan.
“Kita ingin perempuan Bengkayang menjadi perempuan yang berdaya, mampu pulih dari trauma, memahami hak dan perannya, serta berani menolak segala bentuk kekerasan,” katanya.
Pemkab Bengkayang melalui DSP3A bersama PKK, organisasi perempuan, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya berkomitmen memperkuat perlindungan, edukasi, dan pemberdayaan perempuan serta pemenuhan hak anak secara berkelanjutan hingga ke tingkat masyarakat.
Dia berharap, seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya pemerintah daerah untuk mendorong lahirnya keluarga Bengkayang yang aman, adil, harmonis, dan penuh kasih sayang, sekaligus membangun generasi masa depan yang sehat, berdaya, dan menjunjung nilai kesetaraan.
Sumber: ANTARA
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






