Fungsikan kembali Perpustakaan sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan
Oleh: As’ad Kholilurrahman
PERPUSTAKAAN rasa-rasanya hilang fungsionalitasnya. Dia hanya menjadi tempat pajangan buku bukan pusat ilmu pengetahuan. Jarang sekali terlihat ramai tempat ini. Dikunjungi di saat ada keperluan administrasi seperti mengurusi surat kelulusan, mengerjakan tugas dari dosen. Selebihnya perpustakaan adalah gudang kesunyian, sepi. Jika ada suara pun itu suara berisik pelayan perpus. Ini adalah problem bagi kemajuan suatu negara, sebab sumber daya manusianya saja tidak lagi menjadikan ia rumah untuk dia konsumsi pengetahuannya, imajinasinya, dan ide-ide hebat dari orang-orang hebat.
Ada beberapa perpustakaan yang pernah penulis kunjungi dan amati, ada yang ramai dan ada yang sepi. Anehnya yang sepi kebanyakan perpustakaan yang dikelola kampus, sedangkan perpustakaan pemilik komunitas lebih ramai. Padahal kampus adalah markasnya seorang cendekiawan yang menurut pandangan orang adalah penerus generasi peradaban. Tetapi calon cendekiawan ini tidak memiliki kebiasaan untuk membaca, mengulik hal-hal yang menjadi pemicu rasa penasarannya (peneliti), tidak terbiasa juga dengan menulis tentang ide-idenya (out of the box) sebagai sumbangsih sebuah persoalan.
Sungguh ini menimbulkan pertanyaan tentang perpustakaan. Bukankah dulunya perpustakaan berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan? Di masa kerajaan sebuah kebijakan dan keputusan bersumber dari referensi yang bertumpuk di rak-rak perpustakaan. Ada perpustakaan tertua yang beroperasi seperti perpustakaan sekarang ia perpustakaan tertua “Perpustakaan Ashurbanipal” mengoleksi lebih 30.000 dokumen atau buku-buku berbagai disiplin ilmu. Di dunia Islam ada juga “Baitul Hikmah” menjadi ikon kemajuan peradaban masa dulu. Tapi kenapa hari ini perpustakaan sepi, dan hanya ramai saat-saat tertentu dengan maksud tertentu?
Jika masa dulu perpustakaan menjadi pusat penelitian kenapa hari ini auranya tidak seperti itu, seperti hanya gudang buku, tidak tersentuh, dan tidak dilirik bahkan. Entah apa karena perkembangan digital yang sudah efektif untuk mencari referensi penelitian atau bahan wawasan yang tidak perlu lagi ke perpustakaan. Ada Google Books, ada e-book, dan platform lain yang bisa diaksesnya. Tapi sepertinya bukan itu pemicunya, karena beberapa yang penulis temukan mahasiswa hari ini lebih banyak bergantung pada AI terutama ChatGPT. Apakah buku sudah tidak lagi penting bagi mahasiswa sekarang? Perlu pendalaman lebih lanjut dalam hal ini.
Tapi, ramainya perpustakaan kampus adalah wujud betapa semangatnya mereka menggali ilmu pengetahuan, membentuk kepribadiannya dan cara berpikirnya yang baik. Tentu bukan untuk dirinya tapi bagi negara ini. Karena majunya suatu negara bukan negaranya bergerak tetapi karena orang-orangnya yang mendayakannya pada kemajuan itu sendiri. Pernah mantan presiden Amerika John F. Kennedy berkata “Janganlah tanyakan pada negara apa yang sudah diberikan tapi tanyakanlah sudah Anda berikan apa pada negara ini” artinya negara ini maju karena orang-orangnya, karena sekali lagi negara benda mati, ia hidup, berkembang, maju, berperadaban, oleh manusianya.
Tetapi jika perpustakaan itu sepi apakah ini sebuah tanda bahwa anak muda yang dibanggakan yang diwacanakan sebagai generasi emas ternyata memang mencemaskan? Sebab tanda-tandanya sangat jelas sekali, mereka tidak menggemari membaca, baca hanya saat ada tugas presentasi, ada ujian, meneliti saat mau lulus atau praktikum saja. Belum lagi rasa malas yang besar yang ditutupi dengan Artificial Intelligence. Bukankah AI menyelesaikan masalah dengan efektif? Tapi efeknya tetap saja mereka dilemahkan! Mereka tidak mampu berpikir kritis, tidak cakap bernarasi, tidak mampu research dan tidak percaya diri. Ini dibuktikan dengan penelitiannya Michael Gerlich dengan judul “AI Tools in Society: Impacts on Cognitive Offloading and Future of Critical Thinking”. Dia menyimpulkan bahwa penggunaan AI yang berlebihan bisa mengurangi kemampuan kritisnya. Kecuali, ada proporsi penggunaan serta strategi pendidikan yang membantu mengurangi potensi dampak negatif AI tersebut.
Oleh karena itu, perlulah mengembalikan fungsi atau menghidupkan perpustakaan ini, menjadi tempat research bagi peneliti, mahasiswa, siapapun. Pengelola perpus juga dapat mengevaluasi lebih lanjut terhadap persoalan-persoalan perpustakaan. Mengenai buku-bukunya, tempatnya, pelayanannya, kenyamanan suasananya, dan lain sebagainya. Jika sekelas perpustakaan kampus hanya tempat gudang tumpukan buku dan skripsi bukan sebagai pusat ilmu dan pengembangan pengetahuan, rasa-rasanya kemajuan dan peradaban bangsa ini tidak akan terwujud. Karena yang paling dasar yang harus dipenuhi untuk kemajuan itu adalah ilmu pengetahuan. Dan pusatnya adalah “Perpustakaan”.
*Penulis adalah Tenaga Pengajar di Kampus IAIN Pontianak
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





