SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Bisnis Penyelenggaraan IPOSC untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Sawit

Penyelenggaraan IPOSC untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Sawit

Ketua Panitia IPOSC sekaligus Sekjen POPSI, Hendra J Purba /ANT

Pontianak (Suara Kalbar) – Penyelenggaraan Indonesian Palm Oil Smallholder Conference and Expo (IPOSC) untuk meningkatkan produktivitas petani sawit sebagai kunci daya saing industri kelapa sawit nasional melalui konferensi dan pameran petani sawit ke-5 di Kalimantan Barat.

“Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) bersama Media Perkebunan ini akan resmi dibuka pada Rabu (24/9) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat,” kata Ketua Panitia IPOSC sekaligus Sekjen POPSI, Hendra J Purba di Pontianak, Kalbar, Senin (22/9/2025).

Ia mengatakan petani sawit kini menguasai 42 persen dari total luas perkebunan sawit nasional. Dengan fleksibilitas yang mereka miliki, peran petani diyakini semakin besar bahkan berpotensi melampaui perusahaan.

“Petani sawit adalah game changer bagi industri sawit Indonesia. Jika persoalan produktivitas rendah dapat diatasi, maka daya saing sawit kita bisa tetap terjaga bahkan meningkat dibandingkan produsen lain maupun minyak nabati lain,” tuturnya.

Menurut dia, IPOSC hadir sebagai wadah untuk menjawab tantangan itu dengan menghadirkan puluhan stan produk pendukung peningkatan produktivitas, mulai dari kecambah unggul, pupuk kimia maupun organik, pestisida hayati dan kimia, hingga alat dan mesin perkebunan.

“Ini kesempatan baik bagi petani Kalbar untuk memperoleh akses langsung ke produsen. Apalagi Kalbar termasuk daerah dengan peredaran benih sawit ilegal yang cukup tinggi. Di IPOSC banyak produsen kecambah unggul resmi yang bisa dimanfaatkan petani,” katanya.

Selain akses benih, IPOSC juga menawarkan solusi untuk persoalan pupuk, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), dan peningkatan efisiensi usaha tani.

“Efisiensi adalah kata kunci agar petani bisa terus bersaing,” katanya menegaskan.

Ia menambahkan IPOSC tidak hanya penting bagi petani, tetapi juga bagi perusahaan perkebunan. Sebab, produktivitas petani turut menentukan daya saing industri sawit secara keseluruhan.

“Bila produktivitas petani gagal ditingkatkan, perusahaan pun akan terdampak, seperti penurunan harga CPO dan kesulitan penjualan. Karena itu perusahaan harus serius membina petani di sekitarnya, tidak cukup hanya dengan perjanjian jual beli TBS,” kata Hendra.

IPOSC juga membuka ruang sinergi antara petani dan perusahaan melalui berbagai diskusi dan materi kemitraan, seperti program peremajaan sawit rakyat (PSR) jalur kemitraan dan Forum Petani Kelapa Sawit Mandiri (FPKM).

“Mari bersinergi dalam IPOSC. Kepentingan kita sama, mari bekerja sama demi keberlanjutan industri sawit Indonesia,” katanya.

Sumber: ANTARA

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan