SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Warga Binaan Lapas Perempuan Pontianak Antusias Ikuti Pelatihan Batik Tulis

Warga Binaan Lapas Perempuan Pontianak Antusias Ikuti Pelatihan Batik Tulis

ktivitas warga binaan lapas perempuan pontianak saat belajar membatik.[HO-Istimewa]

Pontianak (Suara Kalbar) — Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Pontianak terus berinovasi dalam memberikan pembinaan kemandirian bagi warga binaannya. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui pelatihan membatik, yang menjadi program baru di lapas tersebut.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja LPP Pontianak, Astuti Setiawati, menjelaskan bahwa pelatihan membatik ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi sosial yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan praktis menjelang masa bebas mereka.

“Pelatihan kemandirian kali ini kami fokuskan pada kegiatan membatik, karena ini merupakan pelatihan yang belum pernah dilakukan sebelumnya di LPP Pontianak. Kami ingin membangun dasar untuk produksi batik yang berkelanjutan di sini. 20 warga binaan kami libatkan setelah melalui proses asesmen, dengan mempertimbangkan serta minat dan bakat masing-masing,” kata Astuti Setiawati Jumat (11/07/2025) Pagi.

Ia menambahkan, ke depan Lapas Perempuan Pontianak menargetkan bisa memproduksi batik secara mandiri dan menjalin kerja sama dengan pihak ketiga guna mendukung pengembangan kegiatan ini secara lebih luas.

“Kami berharap, warga binaan yang mengikuti pelatihan ini tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga membentuk kepribadian yang lebih baik. Tujuannya agar mereka memiliki keterampilan dan pengalaman kerja yang bisa diterapkan di luar nanti,” imbuh Astuti.

Sementara itu Umsiah, tim pelatihan dari UMKM Batik Tulis Sungai Putat menyampaikan, pihaknya memberikan materi membatik tulis dengan pewarnaan remasol kepada WBP sejak tahap awal. Mulai dari pengenalan teori dasar, teknis pelaksanaan, hingga langsung praktik membatik.

“Kami sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing, karena latar belakang mereka berbeda-beda. Tapi yang membuat kami bangga, mereka menunjukkan semangat belajar yang luar biasa,” papar Umsiah.

Dirinya berharap, setelah mereka bebas nanti, keterampilan ini bisa menjadi bekal hidup. Mereka bisa bekerja, membuka usaha, atau bahkan mengembangkan usaha batik tulis sendiri. Yang penting, mereka punya rasa percaya diri bahwa mereka bisa bermanfaat di tengah masyarakat, dan tidak kembali ke jalan yang salah.

“Kami percaya, pembinaan seperti ini adalah bagian dari upaya nyata untuk memberikan harapan dan kesempatan kedua bagi mereka. Dan kami, sebagai instruktur, merasa bangga bisa menjadi bagian dari proses itu,” pungkas Umsiah.

Komentar
Bagikan:

Iklan