SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Bisnis INDEF: Tarif Impor Trump Ancam Surplus Perdagangan Indonesia

INDEF: Tarif Impor Trump Ancam Surplus Perdagangan Indonesia

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto. (Beritasatu.com/Vinnilya)

Jakarta (Suara Kalbar)- Kebijakan tarif resiprokal impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai dapat merugikan ekspor Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, dalam diskusi Investor Daily Talk, Kamis (10/7/2025).

Eko menjelaskan, penerapan tarif tidak dilakukan merata terhadap semua negara berkembang, khususnya di kawasan ASEAN, sehingga Indonesia berisiko kehilangan daya saing di pasar Amerika.

“Tarif resiprokal AS ini berpotensi menggerus surplus neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya mencapai US$ 14 miliar AS. Bila negosiasi gagal, bisa saja kita kehilangan sepertiga dari nilai surplus itu,” kata Eko dalam Investor Daily Talk, Kamis (10/7/2025).

Menurut Eko, perbedaan tarif antarnegara ASEAN membuat posisi Indonesia kian tertekan. Negara tetangga, seperti Malaysia hanya dikenai tarif 25%, dan Vietnam lebih ringan lagi yaitu 20%. “Vietnam ini kompetitor utama kita di produk ekspor ke Amerika. Tarif mereka jauh lebih rendah, jadi otomatis produk kita kalah bersaing,” jelasnya.

Kondisi ini membuat peluang Indonesia untuk mempertahankan pasar ekspor menjadi kian sulit. Apalagi jika menghadapi ketidakpastian dalam proses negosiasi dengan Presiden Trump. “Sulit kalau bernegosiasi dengan Trump. Meski sudah ada hasil, bisa saja dibatalkan sewaktu-waktu. Dunia usaha jadi tidak punya kepastian,” tegas Eko.

AS sendiri merupakan mitra dagang kedua terbesar Indonesia dan sekaligus penyumbang surplus perdagangan terbesar. Maka, langkah AS melalui tarif resiprokal dinilai sebagai upaya menekan defisit perdagangannya dengan Indonesia. “Kalau defisit AS belum turun, bisa saja mereka tambah lagi aturannya. Semoga itu tidak terjadi,” kata Eko.

Eko juga memprediksi ke depan kemungkinan besar akan ada konsensus baru dalam pemberlakuan tarif resiprokal secara merata. “Tarifnya mungkin akan disamaratakan untuk negara berkembang. Tidak akan berbeda-beda lagi antarnegara,” pungkasnya.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan