Iran vs Israel: Ujian Ukhuwah dan Tanggung Jawab Umat terhadap Palestina
Oleh: Fakhurrazi Al Kadrie
Sebagai penyuluh agama Islam, saya merasa hati ini terguncang tiap kali membaca kabar terbaru dari tanah Palestina. Ketegangan antara Iran dan Israel yang semakin memanas bukan sekadar konflik geopolitik biasa, tapi merupakan ujian besar bagi ruh ukhuwah dan kepedulian kita sebagai umat Islam.
Palestina bukan hanya berita. Ia adalah luka yang seharusnya terasa di hati setiap Muslim.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu…”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Namun kini saya bertanya pada diri sendiri dan umat: apakah kita sungguh memahami makna ukhuwah ketika saudara kita di Palestina terus tertindas? Ataukah ukhuwah hanya berhenti di lisan dan media sosial?
Ketika satu bagian tubuh umat disakiti, seluruh tubuh semestinya ikut merasakannya. Tapi realitanya, banyak dari kita sudah mulai mati rasa.
Rasulullah bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
saya sadar tidak semua dari kita mampu mengangkat senjata atau hadir langsung ke medan konflik. Tapi jangan sampai kita tidak mengangkat suara. Jangan sampai hati kita tidak bergetar. Jangan sampai kita kehilangan simpati.
Membela Palestina adalah bagian dari membela keadilan. Ini bukan sekadar solidaritas kemanusiaan, tapi juga amanah keimanan.
Sebagian orang bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan dari jauh?” Saya ingin menegaskan: ada banyak jalan jihad yang bisa kita pilih bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual dan intelektual.
1. Doa yang sungguh-sungguh, bukan sekadar rutinitas, tapi yang keluar dari kedalaman hati.
2. Edukasi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya membela yang dizalimi dan tidak terbiasa hidup dalam apatisme.
3. Aksi nyata, seperti donasi, kampanye sosial, serta membagikan narasi kebenaran di tengah arus informasi yang bias.
Kita bisa berdakwah lewat konten, khutbah, ceramah, tulisan, bahkan melalui sikap hidup kita sehari-hari yang menunjukkan empati terhadap penderitaan umat.
Konflik Iran dan Israel hanyalah satu bagian dari pertarungan panjang antara kezaliman dan keadilan. Dan Palestina adalah wajah paling nyata dari ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama.
Sebagai umat Islam, kita tak boleh lelah menjadi saksi kebenaran. Kita harus terus bersuara meski suara itu serak dan sunyi. Karena diam dalam kezaliman bukanlah netralitas, melainkan keberpihakan terhadap ketidakadilan.
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)
Mari kita doakan, kita edukasikan, dan kita gerakkan umat menuju empati yang sejati. Sebab Palestina adalah cermin kita: seberapa besar cinta kita kepada keadilan, kepada saudara seiman, dan kepada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Pontianak
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






