Kemacetan di Simpang Tanray Belum Teratasi Meski Sudah Duplikasi Jembatan
Pontianak (Suara Kalbar) – Pembangunan Duplikasi Jembatan Kapuas 1 di kawasan Simpang Tanjung Raya (Tanray) tidak sepenuhnya berhasil mengatasi permasalahan lalu lintas di daerah tersebut.
Sebelumnya, Duplikasi Jembatan Kapuas 1 diresmikan oleh Presiden Joko Widodo yang diharapkan dapat mengurai kemacetan antara dua kecamatan yang terhubung yaitu Kecamatan Pontianak Kota dan Kecamatan Pontianak Timur. Proyek ini bahkan menelan anggaran mencapai Rp 275 miliar pada tahun 2024 lalu.
Namun, Dekan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Slamet Widodo, mengungkapkan bahwa meskipun Duplikasi Jembatan Kapuas 1 telah beroperasi, kemacetan masih terjadi di sejumlah titik.
Slamet menceritakan pengalamannya saat melewati kawasan tersebut pada beberapa waktu lalu, yang memerlukan waktu sekitar 20-30 menit untuk menempuh jarak dari Simpang Landak menuju Simpang Tanjung Raya.
“Itu mungkin kemarin perlu waktu sekitar 20-30 menit ya. Walaupun waktu dulu sebelum pembangunan memerlukan waktu mungkin 1 jam tapi nampaknya belum menyelesaikan masalah kemacetan ini,” ujar Slamet saat dikonfirmasi langsung pada Rabu (08/01/2025) malam.
Meskipun waktu tempuh lebih cepat, ia menyebutkan bahwa kemacetan tetap terjadi begitu kendaraan sampai di Simpang Tanjung Raya 1 dan area sekitar Simpang Imam Bonjol, yang tetap dipenuhi kendaraan.
Menurutnya, meskipun duplikasi jembatan telah dibangun, masalah utama masih terletak pada persimpangan di kawasan Tanray yang tidak dapat menampung volume kendaraan yang meningkat.
“Jalan jembatan itu dipenuhi oleh kendaraan full, berarti masih stuck atau macet di persimpangan. Banyak yang dari Kota mau menuju ke Tanray 2, tapi dari Kota ke arah Jembatan Landak itu sepi,” kata Slamet.
Selain pembangunan Duplikasi Jembatan Kapuas 1, ada pula pembangunan pelebaran jalan pada area Jalan Perintis Kemerdekaan. Kondisi jalan tersebut dinilai Slamet cukup menambah estetika namun permasalahan kemacetan bukan terletak di jalan tersebut sehingga sama sekali tak mampu mengurai kemacetan.
“Jalannya sudah bagus. Tapi masalahnya gimana? Yang macet itukan di bagian simpang. Selama simpang itu masih ada, mau jembatan duplikasi ditambah satu lagi atau pelebaran jalan juga dilakukan, macet tetap akan terus terjadi,” tegasnya.
Sebagai solusi penguraian kemacetan yang lebih berdampak, Slamet mengusulkan perbaikan dengan sedikit modifikasi jalan dengan menutup simpang tersebut dengan median dan membuat area putar balik atau U-Turn modifikasi.
“Ini solusi yang lebih murah dan cepat dikerjakan. Bikin U-Turn di Jalan Perintis Kemerdekan yang jarak menjalinnya minimal 100 meter dari simpang itu. Tapi bukan U-Turn yang seperti jalan lurus terus dibuka perbatasan tengahnya untuk putar balik. Memang disediakan ruangan untuk U-Turn terus kiri dan kanan jalan di tambah 4,5-5 meter lagi lah, jadi seperti mengembung begitu,” jelasnya.
Tidak hanya itu, U-Turn yang dimaksudnya juga pada area putarannya harus ditambahkan sedikit volume mengembung untuk mengurangi laju kendaraan yang melintas sehingga pengendara tak dengan spontan melakukan putar balik. Lalu untuk pengendara dari Tanray 2 yang ingin menuju Tanray 1, dibuatkan jalan di bawah Jembatan Kapuas 1.
U-Turn ini dinilai belum ada diterapkan di Indonesia, namun hal ini diduga akan mampu mengatasi kemacetan. Namun, Slamet turut tak ragu menyarankan pembangunan flyover meski membutuhkan biaya lebih mahal dan waktu yang lebih lama.
Meskipun demikian, jika U-Turn yang dimaksud oleh Slamet dari dibangun oleh pemerintah, kemacetan dinilai tetap akan terjadi pada arus Jalan Perintis Kemerdekaan menuju Tanray 2 karena adanya simpang 3 yang terletak di depan Yayasan Rumah Sakit Islam Pontianak (Yarsi).
“Nah itu jadi PR pemerintah lagi. Itu juga titik kemacetan selanjutnya yang harus diatasi. Kalau simpang tiga itu terus ada juga akan terus macet. Kalau bisa diberi median juga dan dibuat putar balik agak jauh untuk memperbaiki arus supaya lebih lancar,” pungkas Slamet.
Penulis: Maria
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






