SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Bencana Demi Bencana saatnya Kembali pada Syariat-Nya

Bencana Demi Bencana saatnya Kembali pada Syariat-Nya

Ilustrasi – Bencana [pixabay]

Oleh: Annisa, S.ST.,M.Eng

BENCANA alam beruntun kembali terjadi di awal bulan penghujung tahun 2024 di berbagai wilayah di Indonesia. Banjir, angin kencang, tanah longsor hingga tanah bergerak terjadi merata di wilayah Kabupaten Sukabumi. Setelah diguyur hujan selama 2 hari berturut-turut, sungai Cimandiri salah satu sungai di Sukabumi meluap dan membanjiri pemukiman warga. Kerugian materil hingga korban jiwa berjatuhan bahkan beberapa orang masih dinyatakan hilang. Tercatat 10 orang meninggal dunia dan beberapa orang korban hilang (detikjabar,8/12/24)

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Sukabumi, hingga Sabtu (7/12/2024) pukul 17.30 WIB, setidaknya ada 328 titik bencana yang tersebar di 39 kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menuturkan bahwa bencana yang terjadi bervariasi, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga tanah bergerak yang menjadi bencana utama. Tanah longsor dan tanah bergerak d Kecamatan Simpenan mengakibatkan rusaknya rumah warga dan memaksa warga untuk mengungsi ke area yang aman. Sementara di kecamatan Ciemas, tanah longsor memutus titik jalan utama yang menghambat jalur transportasi.

Di waktu yang berdekatan, bencana lainnya terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Banjir akibat luapan sungai Cilemer merendam rumah warga sedalam hampir 2 meter. Akibatnya 202 warga terpaksa mengungsi ke posko darurat dan jalan utama terputus (kumparan.com, 5/12/24). Disusul bencana tanah bergerak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang menghancurkan rumah dan bangunan meluas hingga 15 kecamatan serta dapat terus bertambah (cnnIndonesia.com, 7/12/24).

Rentetan bencana diatas tak patut jika hanya dilihat sebatas bencana akibat gejala alam biasa. Dilihat dari penyebabnya, jelas manusia menjadi aktor yang memiliki andil dalam kerusakan alam berefek bencana ini. Hal tersebut diungkap lewat kunjungan Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, yang mengatakan berbagai lembaga dan kementrian bekerjasama untuk mengeruk sungai bahkan terdapat 12 ekskavator dan alat berat yang dikerahkan. Aktivitas pengerukan sungai dilakukan di sungai Cipelabuhan yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi (jawapos.com, 10/12/24). Sedangkan ditemukan hutan gundul tepat diatas tanah longsor di jalan Pelabuhan Ratu. Hutan yang gundul mengakibatkan tiadanya fungsi penyangga dan penampung air yang dimiliki oleh pohon  sehingga ketika terjadi angin kencang dan hujan, tanah akan mudah longsor. Begitu pula dengan pendangkalan sungai yang bermula dari erosi tanah yang salah satunya diakibatkan oleh pengundulan hutan.

Pantas lah Allah berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia”.

Manusia dalam sistem kapitalisme diberikan kebebasan mengeksploitasi alam dan seisinya asalkan memiliki modal. Bahkan hutan menjadi legal untuk digunduli demi kemajuan daerah, tanpa melihat dampaknya pada lingkungan. Tak heran jika Allah mendatangkan bencana sebagai peringatan agar manusia kembali pada syariat-Nya. Lanjutan surah Ar-Rum ayat 41 jelas berbunyi, “agar mereka merasakan akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Berbeda dengan Islam, terdapat syariat yang mengatur hak kepemilikan hutan, sungai dan kekayaan alam yang menyangkut hajat orang banyak diperuntukan untuk rakyat. Artinya alam dan sumber dayanya haram diprivatisasi oleh swasta asing maupun dalam negeri. Sebab penguasaan oleh segelintir orang akan menghalangi orang yang lain untuk menikmati manfaatnya padahal merupakan kebutuhan masyarakat secara umum. Dengan demikian kepemimpinan Islam akan mewajibkan kepala negara Islam untuk mengelola alam untuk kemashlatan rakyat tanpa merusak lingkungan. Sebab pemimpin Islam adalah perisai dan ra’in yang bertanggung jawab menjaga, melindungi dan mengurusi segala urusan rakyat.

Kepemimpina Islam akan menjalankan pemerintahan sesuai syariat Islam dengan landasan iman sehingga turunlah keberkahan yang meliputi langit dan bumi. Selain itu para pemimpin Islam di masa kejayaan Islam, merupakan pemimpin yang amat takut akan maksiat yang mengundang adzab Allah. Saat Kota Madinah diguncang gempa bumi, Umar menegur rakyatnya. Kepada penduduk Madinah, Umar berkata, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!” (khazanahrepublika.co.id).

*Penulis adalah Aktivis Muslimah Kalbar

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan