SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda PLN Kalbar Dari Tradisi ke Tragedi: PLN Kalbar Terancam Layangan Kawat

Dari Tradisi ke Tragedi: PLN Kalbar Terancam Layangan Kawat

Upaya tim Pekerja Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) PLN Pontianak atasi gangguan layangan kawat [SUARAKALBAR.CO.ID/Maria]

Pontianak (Suara Kalbar) – Ketika senja telah turun di Kalimantan Barat, langit-langit tak hanya dipenuhi oleh awan yang melintas namun turut dihiasi oleh layang-layang, permainan tradisional yang tampaknya tak termakan jaman di tengah kemajuan teknologi.

Sore itu, cuaca tak begitu panas ketika kami mengitari jalan sekitar daerah Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu, Pontianak Utara, Kalimantan Barat. Ditemani sejumlah aparat dan anggota komunitas yang digandeng oleh PLN, kami menelusuri jalan beraspal yang hanya cukup dilewati satu mobil untuk melakukan razia penggunaan tali kawat pada layangan.

Mobil kami berhenti tiba-tiba di satu lokasi, kami diminta turun dan menyusul sejumlah anggota yang lebih dulu berada di lokasi jalan setapak.

“Turunkan, turunkan layangannya. Mana coba lihat dulu sini,” ujar seorang pria bernama Muhammad Adwin, yang akhirnya kami ketahui merupakan salah satu anggota dari komunitas yang digandeng PLN pada Kamis (14/11/2024) sore.

Pria yang akrab disapa Adwin tersebut lantas mendekati sejumlah anak remaja yang tengah asik bermain layangan di rerumputan belakang kandang sapi. Awalnya anak-anak tersebut tampak ketakutan. Mereka berusaha menutup muka menghindar sorotan kamera-kamera yang kami bawa.

Namun, Adwin yang belakang kami ketahui merupakan mantan pekerja PLN di bidang operasional transmisi selama 33 tahun tersebut lantas menenangkan anak-anak tersebut.

Adwin dan sejumlah aparat lantas memeriksa jenis tali layangan yang dimainkan oleh anak-anak tersebut. Diketahui ternyata tali yang digunakan menggunakan tali nilon yang diolesi dengan lem aibon. Adwin menjelaskan, hal ini tak masalah hingga akhirnya hanya memberikan himbauan kepada para pemain layangan tersebut untuk tak menggunakan tali kawat.

“Jangan sampai ketemu main kawat akan kami proses nginap gak pake celana nanti disana, kami rendam nanti” tegas Adwin sambil bergurau kepada anak-anak tersebut yang disambut anggukan dan tawa.

Melihat kami mengerumuni sejumlah anak-anak tersebut, seorang peternak sapi yang berada disekitar tak disangka mengadukan komplain kepada kami terkait adanya layangan yang sempat melukai sapi ternaknya.

“Itu bapak tadi komplain kalau tali gelasan sempat melukai sapi mereka,” ujar seorang aparat memberitahu.

Mendengar kabar tersebut, Adwin lantas membenarkan bahwa bermain layangan dengan tali gelasan apalagi kawat sangat berbahaya. Selama menjadi bagian dari komunitas, Adwin mengaku menemui sejumlah kasus termasuk melihat langsung kabel listrik PLN yang putus dan langsung meledak.

“Transmisi itu luar biasa pengaruhnya bisa membuat padam seluruh Pontianak. Kita ini transmisi nyambung sampai ke Malaysia. Kadang-kadang ada momen tertentu sampai 500-an meter temuannya. yang dikhawatirkan saat sweeping, itu mereka langsung putuskan. Sempat mereka putuskan dan langsung meledak,” cemas Adwin.

 

Kerugian Ledakan dan Jejak Kerja PDKB PLN

Berbicara soal ledakan, Miftakul Anam, ASMAN PDKB (Pekerja Dalam Keadaan Bertegangan) UPT Pontianak, menyebutkan negara bahkan bisa merugi hingga ratusan juta.

“Kalau sampai ada ledaka, kerugian cukup besar sampai ratusan juta padahal harusnya ini bisa dinikmati oleh masyarakat,”ujar Anam.

Kami sempat mengikuti jejak cara kerja PDKB yang ternyata hanya terdiri dari 13 orang di Kalimantan Barat dan harus mengurus sebanyak dua ribu tower.

Tali kawat layangan ternyata menjadi salah satu masalah PLN yang ada di Kalimantan Barat berbeda dengan daerah lainnya. Anam menjelaskan, cukup sulit bagi dirinya dan tim untuk membersihkan tali kawat.

“Dari awal itu secara visualisasi seakan bersih tidak ada kawat layangan, tapi ketika smapai keatas. potensi itu sangat kelihatan. Benang layangan itu sangat tipis, kalau tidak didekati tidak akan tahu,” terang Anam menjelaskan kepada kami.

Tak bisa langsung dibersihkan dan harus melakukan pengecekan berkala, pekerjaan PDKB ternyata cukup beresiko. Bagaimana tidak, para pekerja harus memanjat tower yang memiliki ketinggian 35-40 meter dan dalam keadaan listrik menyala dengan tegangan 150 ribu volt.

Meskipun demikian, tim PDKB tentu merupakan orang-orang profesional. Kami secara langsung melihat bagaimana persiapan dan keamanan yang dilakukan sebelum petugas pemanjatan. Tak hanya pemeriksaan secara fisik namun juga rohani.

“Kondisi si personil sendiri atau si pemanjat sendiri, pasti kita harus pastikan lagi sebelum bekerja. Makanya, di sini kami ada pengawas pekerjaan dan pengawas K3. Jadi, pengawas kerjaan untuk bertanggung jawab dari jalannya pekerjaan. Kemudian ada pengawas K3 yang bertanggung jawab dari sisi keselamatan kerja, baik itu personil peralatan maupun sistemnya, penanggung jawabnya,” ujar Anam.

Lengkap menggunakan APD, sabuk pengaman full body harness, kaca mata, bahkan sarung tangan, seorang petugas PDKB lantas dengan sigap memanjat tower. Dari bawah, cukup ngeri-ngeri sedap melihat petugas tersebut harus memanjang tower yang tinggi dalam keadaan listrik menyala. Hal ini dengan jelas memperlihatkan kepada kami bahwa pekerjaan ini benar beresiko.

Anam menjelaskan, secara umum masyarakat sendiri dapat menyadari apakah terdapat potensi kawat listrik yang menyangkut di kabel maupun tower listrik.

“Jika melihat lampu kedip di rumah, itu ada potensi ada tali kawat yang menyangkut,” jelasnya.

Meskipun terdiri dari anggota profesional, Anam berharap masyarakat dapat turut serta membantu memudahkan pekerja PDKB dengan mengetahui potensi ataupun risiko bermain layangan kawat.

“Besar harapan kami terkait pemahaman masyarakat yang sangat kami inginkan. Kalau sampai listrik padam, itu kan kita rugi ya,” terang Anam dengan nada penuh harap.

 

Upaya PLN Atasi Layangan Kawat di Kalbar

Berdasarkan data PLN, gangguan listrik di Kalimantan akibat layang-layang masuk sebagai top 3 diantara gangguan petir dan gangguan pohon. Pada tahun 2022, terdapat 89 persen, tahun 2023 terdapat 85 persen, dan tahun 2024 terdapat 78 persen gangguan akibat layang-layang.

Parahnya trend pelanggan padam akibat layang-layang pada 2 tahun terakhir tersebut berdampak pada lebih dari 300 ribu pelanggan padam setiap tahunnya.

PLN sendiri telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi gangguan listrik akibat layangan diantaranya melakukan edukasi keselamatan ketenagalistrikan (K2), pemasangan papan himbauan keselamatan ketenagalistrikan dan razia layangan oleh tim Langit Biru berkolaborasi dengan komunitas, TNI dan Polri.

Selain itu, Abdul Salam Nganro, General Manager PLN UIP3B Kalimantan, menyebutkan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya pencegahan dibeberapa wilayah tertentu khususnya daerah Sungai Raya dan Siantan yang memang dipenuhi oleh titik rawan.

“Pada pertahanan pertama, kami memberikan isolasi kelistrikan sehingga jika pun tersentuh tidak akan terjadi gangguan. Pertahanan kedua, kalau pun sampai ada gangguan jangan sampai berdampak ke masyarakat,” tegas Salam.

Tidak hanya dua upaya, terdapat upaya terakhir lain yang siap dilakukan oleh PLN jika upaya satu dan dua gagal dilakukan.

“Pertahanan ketiga kita itu kalau sampai upaya satu dan dua gagal, maka pertahanan ketiga adalah lokasinya hanya di daerah yang gangguan itu saja. Jangan sampai menyebar kemana-mana,” tambahnya.

Meskipun demikian, Salam berharap upaya ketiga tersebut tak akan pernah dilakukan oleh timnya dan masalah dapat terselesaikan dengan upaya satu dan dua.

Salam menegaskan tidak ada upaya untuk melarang masyarakat bermain layangan apalagi layangan telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia namun tentu terdapat sejumlah hal yang harus dicegah, salah satunya dengan tidak bermain layangan menggunakan tali kawat apalagi di dekat kabel dan tower listrik.

“Hal ini tidak semudah membalikan telapak tangan karena ada budaya yang sudah berkembang sejak lama di masyarakat. Nah mungkin itulah secara perlahan-lahan kita lakukan agar budaya melayang tetap tumbuh tetapi tidak membahayakan masyarakat itu sendiri,” ujar Salam penuh harap.

Penulis: Maria

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan