SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak BPPI: Karhutla Marak di Kalbar, Waspada Potensi Bahaya Lintas Batas

BPPI: Karhutla Marak di Kalbar, Waspada Potensi Bahaya Lintas Batas

Sebagai Ilustrasi: Karhutla di Desa Sungai Awan Kanan Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang Kalbar, Jumat (28/7/2023). (HO- BPBD Kabupaten Ketapang)

Pontianak (Suara Kalbar)- Kepala Seksi Wilayah II Pontianak Balai Pengendalian Perubahan Iklim (BPPI) Wilayah Kalimantan, Sahat Irawan Manik, telah mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023 telah terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah “hotspot” atau titik api, yang menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Jumlah “hotspot” ini meningkat hingga mencapai 300-400 persen dibandingkan dengan tahun 2022.

Manik menjelaskan, eskalasi yang terjadi telah mencapai 50 ribuan ‘hotspot’ di Kalbar, sedangkan pada tahun lalu hanya terdapat belasan ribu ‘hotspot’ saja. Hal ini menandakan peningkatan drastis dalam kasus karhutla di Kalbar pada tahun ini, dengan daerah-daerah seperti Sambas, Singkawang, Kubu Raya, dan Ketapang menjadi fokus perhatian.

“Eskalasinya sudah mencapai 50 ribuan ‘hotspot’ di Kalbar dengan rekor tahun lalu cuma belasan ribu ‘hotspot’ saja. Jadi untuk tahun ini, ‘hotspot’ di Kalbar terjadi kenaikan sekitar 300-400 persen karena tahun ini memang cukup marak sekali karhutla, mulai dari Sambas, Singkawang, Kubu Raya, dan Ketapang,” katanya melansir dari ANTARA, Sabtu(16/9/2023).

Dia mengatakan berdasarkan evaluasi yang dilakukan pihaknya di beberapa lokasi karhutla memang masih menyisakan bara api. Meski ada sedikit hujan, dia mengingatkan kepada petugas jangan sampai terlena.

“Mumpung kondisi lagi hujan, mari kita habisi supaya tak berulang. Karena kita masih terus memantau kemarau basah sampai Oktober 2023, bahkan mungkin bisa lebih,” tuturnya.

Menurutnya, apabila api masih terus muncul, maka akan menjadi tantangan lagi ke depan, baik mengenai berapa kekuatan personel dan lain sebagainya.

“Karena bila memadamkan api sampai berhari-hari tentunya akan sangat mengganggu fisik dan kesehatan personel,” katanya.

Kedatangan dirinya ke Kabupaten Sambas dan Kota Singkawang, kata dia, untuk menjaga potensi asap lintas batas.

“Kita menghindari akumulasi asap yang bisa melewati lintas batas karena itu tentunya akan menjadi isu internasional. Hal itu jangan sampai terjadi karena nama baik negara kita akan dipertaruhkan,” katanya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan