Silakan Dikutip, Ini Khutbah Jumat Al-Mukhlishin Mempawah Kalbar 23 Juni 2023
Kewajiban Mengerjakan Haji
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ : فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ : اِتَّقُوا اللهَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan berkah dan rahmat-Nya kepada kita, sehingga kita berkumpul di sini untuk melaksanakan Shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga tercurah bagi Nabi akhir zaman teladan umat, Nabi Muhammad Saw., juga kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya.
Bertakwalah kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa. Yaitu, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sungguh, takwa ialah sebaik-baik bekal dalam menjalani kehidupan ini.
Allah Swt. memberikan kewajiban pada manusia ada yang harian, seperti shalat lima waktu yang setiap hari harus kita kerjakan. Allah Swt. juga memberikan kewajiban yang sifatnya pekanan, seperti Shalat Jumat. Allah Swt. Memberikan kewajiban tahunan, yaitu puasa Ramadhan yang wajib dikerjakan di bulan Ramadhan setiap tahunnya. Dan, Allah Swt. memberikan kewajiban kepada manusia yang cukup dikerjakan sekali seumur hidup, yaitu haji dan umrah.
Firman Allah Swt. di dalam al-Qur’an:
وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97).
Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلهِ
“Dan, sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. al-Baqarah: 196).
Kaum muslimin rahimakumullah.
Jika seseorang sudah memiliki kemampuan untuk mengerjakan ibadah haji, maka wajib baginya untuk menunaikan ibadah haji. Jika tidak mau menunaikan ibadah haji, maka ancamannya ialah mati seperti Yahudi atau Nasrani.
مَنْ لَمْ يَحْجِزْهُ عَنِ الْحَجِّ سُلْطَانٌ جَائِرٌ أَوْ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ، ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُوْدِيًّا، أَوْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا
“Barang siapa tidak dihalangi dari melakukan ibadah haji oleh sultan yang durjana, atau hajat yang nyata kemudian ia mati dan belum melaksanakan ibadah haji maka matilah ia jika mau sebagai Yahudi atau jika mau sebagai Nasrani.” (HR. Tirmidzi).
Artinya, seseorang yang memiliki kemampuan finansial untuk kebutuhan keluarga yang ditinggalkan dan untuk bekal keberangkatan untuk melaksanakan ibadah haji, tubuhnya sehat, tidak dicegah oleh penguasa zalim, kemudian ia meninggal dunia tanpa sempat menunaikan ibadah haji, jika mati, maka matinya seperti matinya Yahudi atau Nasrani.
Kaum muslimin rahimakumullah.
Menunaikan ibadah haji bagi orang yang mampu merupakan pilar agama Islam. Oleh karena itu, tidak selayaknya Muslim enggan beribadah haji jika sudah memiliki kemampuan ekonomi, tubuhnya sehat, dan tidak ada halangan lain.
Adapun bagi orang yang belum memiliki perbekalan yang cukup, dalam keadaan sakit, terhalang karena adanya pandemi corona, dan sejenisnya, maka dimaafkan jika belum bisa menunaikannya. Dan, jika sudah memungkinkan, maka hukum wajib kembali berlaku.
Betapa banyak orang yang masih berat untuk mendaftarkan diri berangkat haji dengan alasan-alasan yang tidak semestinya. Ada yang enggan mendaftarkan karena umurnya sudah tua, dikhawatirkan besok belum berangkat sudah mati karena antriannya panjang.
Ada yang berpikiran buruk bahwa dana haji akan dipakai pemerintah, ada yang malu karena belum bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya, sehingga tak layak disebut haji dan berbagai alasan lain.
Jika Anda sudah memiliki uang yang cukup, segeralah mendaftar. Jikalau ternyata Anda sudah meninggal dunia sebelum berangkat, maka itu merupakan kehendak Allah Swt., dan Anda tidak bisa disalahkan. Jika sekarang masih banyak perbuatan yang kurang layak, maka hentikan perbuatan tersebut atau mungkin dengan sudah menunaikan ibadah haji besok perbuatan tersebut akan berhenti dengan sendirinya.
Kaum muslimin rahimakumullah.
Jika seseorang menunaikan ibadah haji, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, modal atau uang yang digunakan haruslah uang yang didapat dengan cara yang halal. Sebab, Rasulullah Saw. bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya, Allah Maha Baik dan ia tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim).
Kedua, selama menunaikan ibadah haji, kerjakan rukun haji dan wajib haji. Lebih sempurna lagi dikerjakan juga sunnah-sunnah haji. Tinggalkan hal yang dilarang saat menunaikan ibadah haji. Jangan sampai hajinya tidak sah karena meninggalkan syarat atau rukunnya. Dan ingat, di sana adalah untuk beribadah bukan sekadar memperbanyak foto selfie untuk dipamerkan di media sosial.
Ketiga, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, perbaikilah amal. Semestinya, amal perbuatan seseorang setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik daripada sebelum menunaikan ibadah haji.
Demikian khutbah yang bisa disampaikan, semoga membawa manfaat bagi kita semua. Semoga kita termasuk orang yang diberi kemampuan oleh Allah Swt. Untuk melaksanakan lima rukun Islam dengan sempurna. Amin, amin, amin. Ya Rabbal ‘alamin.
اِنَّ اَحْسَنَ الْكَلَامِ، كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ، فَاِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمعُوْا لَهُ، وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ، اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(Khutbah Kedua)
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ، أَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ…… إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا : إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ، سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَهلِكِ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ…… إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ…
PONDOK PESANTREN AL MUKHLISHIN ANTIBAR, KABUPATEN MEMPAWAH, KALBAR.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





