Mengenal OCD Pertama di Kalbar, Bangunan Pelindung Bibit Mangrove agar Tak Tergerus Ombak

  • Bagikan
Bangunan kotak-kotak OCD yang menjadi terobosan pertama di Kalimantan Barat sebagai pelindung bibit mangrove agar tak tergerus ombak diaplikasikan di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. SUARAKALBAR.CO.ID/Foto. Dok MMC

Mempawah (Suara Kalbar) – Ada pemandangan tak biasa terlihat di pesisir pantai bagian utara Kabupaten Mempawah, tepatnya di Desa Pasir Kecamatan Mempawah Hilir.

Di sana ada banyak sekali kotak-kotak kayu yang berisikan pohon mangrove, serta ada sekitar 115 meter bambu yang dipasang di tepian pesisir yang dipenuhi lumpur.

Ternyata setelah ditelusuri, bangunan yang tak biasa di pantai Mempawah tersebut diketahui bernama Organic Coastal Defence atau OCD.

OCD adalah sebuah bangunan pengaman pantai yang terdiri dari 2 struktur bangunan, yaitu; Break Water (Pemecah Ombak), serta Mud Trap (Perangkap Lumpur).

Informasi itu disampaikan Raja Fajar Azansyah, penggiat lingkungan yang juga Ketua Mempawah Mangrove Conservation (MCC), Selasa (20/9/2022).

“OCD merupakan bentuk inovasi bangunan pengaman yang sedang dikembangkan bersama Lab Terpadu Universitas Tanjungpura Pontianak,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, OCD lahir dari tingginya kegagalan saat penanaman mangrove, terutama di saat akhir tahun, ketika ombak sangat tinggi, sehingga dapat menggerus lumpur di lokasi mangrove ditanam.

“Padahal kondisi mangrove sudah besar berusia 8-10 bulan penanaman. Namun karena lumpur, tempat mangrove tersebut tumbuh tergerus ombak, maka terjadi lah kegagalan penanaman,” ungkap Raja Fajar Azansyah.

Nah, dilatarbelakangi kenyataan tersebut, imbuh pria yang juga menjabat Staf Ahli Bupati Mempawah Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia ini, maka lahirlah ide bangunan pengaman pantai ini.

Selanjutnya, imbuh Fajar sapaan akrabnya, tahun 2021 yang lalu, ia dan rekan-rekan penggiat lingkungan berdiskusi dengan dosen-dosen Universitas Tanjungpura Pontianak, perihal kondisi existing pesisir Kalbar, khususnya Kabupaten Mempawah yang beberapa tahun terakhir.

Hasil diskusi tersebut kemudian ditindaklanjuti para mahasiswa Teknik Lingkungan Untan dengan melakukan survei di lapangan dan akhirnya didapat 13 desain pengaman pantai.

“Setelah berdiskusi dan menelaah satu persatu desain yang ada, didapatilah tiga desain pengaman pantai yang cocok dengan pesisir Kalbar. Dan dua desain diantaranya kita satukan, sehingga lahir yang namanya Organic Coastal Defence ini,” jelasnya.

Ia pun bersyukur, program OCD saat ini sudah masuk tahap pengerjaan. Terdiri dari 100 meter Break Water dan 17 Box Mud Trap.

Program ini, lanjutnya, juga merupakan salah satu dari tujuh aktivitas yang dilaksanakan melalui Program Kedaireka 2022 Kemendikbudristek yang merupakan kerja keras Lab Terpadu Universitas Tanjungpura Pontianak sebagai pengusul dan MMC sebagai mitra.

“Insya Allah, di Mempawah akan terbangun Pusat Jasa Pelayanan Rehabilitasi Mangrove dan Kawasan Pesisir. Ini tentunya sangat membanggakan, karena kita akan menjadi pusat jasa pertama di Kalimantan Barat,” ucap Fajar.

Ia pun berharap, OCD menjadi solusi cara untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan rehabilitasi mangrove di seluruh Kalimantan Barat, serta dapat diadopsi dan dimodifikasi di wilayah Indonesia lainnya.

“Jika ini berhasil sampai tahun depan, kita akan dorong sebagai solusi yang ekonomis untuk pencegahan abrasi semakin luas kepada Dirtjen Sumber Daya Air, Kementerian PUPR,” katanya.

Karena kementerian itulah yang nanti bertugas membangun kubus-kubus beton di wilayah yang mengalami abrasi.

“Jika ditindaklanjuti Pemerintah Pusat, maka ini menjadi langkah yang luar biasa,” ungkap dia.

Karena OCD yang terbangun nanti akan lebih panjang, serta melibatkan masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan dan meningkatkan ekonomi mereka.

Selain Kementerian PUPR, Fajar dan rekan-rekannya juga akan menyampaikan program OCD kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dalam kegiatan rehabilitasi mangrove kedepannya.

“Karena, jika kita sudah dapat metode yang tepat, akan berdampak baik bagi peningkatan keberhasilan rehabilitasi mangrove untuk kawasan pesisir,” jelasnya.

Termasuk, imbuh Fajar lagi, memberikan manfaat bagi pemerintah daerah yaitu Tanah Timbul yang pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan