Jelang Lebaran, Harga Karet di Kalbar Masih Tinggi

  • Bagikan

Ilustrasi petani karet. (Shutterstock)

Suara Kalbar Angin segar datang bagi petani karet di Kalimantan Barat (Kalbar). Sebab, harga karet masih tinggi jelang Lebaran.

Karet yang menjadi komoditas ekspor unggulan Kalbar harganya
stabil seperti sebelumnya yakni tembus angka Rp 22.000 per kilogram.

Harga tersebut untuk bahan olahan karet (bokar)
dengan kadar karet kering (K3) 100 persen. Hal ini disampaikan oleh
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Kalbar Jusdar .

“Harga masih tinggi dan saat ini harga pembelian di pabrik masih
Rp 22.000 per kilogram. Harga di pasar global 1,68 dolar AS/kg SIR 20,
agak turun dibandingkan bulan Maret 2021 yang sekitar 1,75 dolar AS/kg
SIR 20,” ujarnya.

Ia menjelaskan kenaikan harga karet di Kalbar dan di dunia saat
ini karena ekonomi negara konsumen karet alam yang mulai membaik.

Menurutnya, prospek karet alam masih tetap bagus karena ekonomi
negara konsumen sudah mulai membaik seperti China dan Amerika Serikat.

“Dengan baiknya ekonomi negara tujuan ekspor mendorong permintaan
karet alam meningkat. Dengan permintaan karet alam juga meningkat harga
terdongkrak,” jelas dia.

Ia menjelaskan harga pembelian di pabrik masih tinggi juga karena
kekurangan bokar dan untuk menutup kontrak, terpaksa ada pabrik harus
beli bokar dengan harga tinggi.

“Masalah utama pabrik karet di Kalbar adalah kurangnya pasokan
bokar dari kebun karet di Kalbar. Sehingga ada pabrik yang harus membeli
bokar dari provinsi lain seperti Kalteng, Kalsel, dan provinsi lain di
Sumatera, bahkan ada yang mengimpornya dari luar negeri,” kata dia.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Kalbar Heronimus Hero
mengatakan strategi yang diterapkan dan transparansi harga yang
dihadirkan pemerintah di tingkat pabrik memberikan gambaran harga bagi
petani, sehingga para tengkulak mulai tidak berani membeli harga yang
rendah karena petani sudah mudah mengetahui harga terkini.

Hero menjelaskan dengan perbaikan tata niaga karet yang terus
dimaksimalkan, mampu mendorong permintaan karet terus naik sehingga
harga ikut terdongkrak.

“Permintaan karet mulai membaik dan aktivitas ekonomi mulai
kembali bergerak, sehingga industri yang memerlukan karet mulai
meningkatkan permintaan. Harga karet dunia pun mulai naik,” kata dia.

  • Bagikan