SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional KRI Nanggala: Sahur Terakhir Suheri Ahli Senjata Torpedo

KRI Nanggala: Sahur Terakhir Suheri Ahli Senjata Torpedo

Sejumlah pejabat menaburkan bunga dan melemparkan karangan bunga saat
kegiatan Doa dan Tabur Bunga untuk KRI Nanggala 402 di perairan utara
Bali, Buleleng, Bali, Senin (26/4/2021). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf]

Suara Kalbar Sejumlah karangan buka berjajar di Bronggalan
Sawah IV Surabaya. Pengirimnya berbagai instansi, dari TNI Angkatan
Laut, Ketua DPRD Surabaya, Wakil Wali Kota Surabaya hingga staf
Pascasarjana Universitas Widya Mandala Surabaya.

Di depan rumah dua tingkat berpagar besi
hijau, berdiri dua tenda terop dengan kursi berjajar yang sebagian
diduduki oleh tetangga, kerabat dan keluarga. Tampak juga beberapa
personel TNI AL.

“Silakan duduk mas,” kata Untung, seorang pria berusia lanjut, pemilik rumah yang merupakan ayah kandung Suheri.

Suheri adalah seorang aparatur sipil negara 
berpangkat Pengatur Muda Tk. I. III/b. Dia adalah satu dari 53 orang
awak KRI Nanggala-402 yang mengalami musibah di Perairan Utara Bali.

Suheri, sehari-harinya berdinas dan menjabat
sebagai Asembling-Diasembling/Subbag Senjata Khusus Torpedo/Bagian Uji
Coba di Arsenal Dissenlekal Mabesal.

ASN ini mempunyai keahlian khusus di bidang senjata torpedo sehingga kesehariannya berkecimpung di bidang senjata berisiko tinggi, apalagi senjatannya bersifat khusus.

Di dalam ruang tamu rumah, seorang perempuan
berjilbab dengan mata sembab menerima kedatangan rekan-rekannya. Dia
adalah Siti Nurbaya, istri Suheri.

Sehari-hari, Siti Nurbaya berprofesi sebagai guru di salah satu SD negeri di kawasan Kapasari Surabaya.

Saat rekan seprofesinya datang, tangisnya pecah.
Temannya mencoba menguatkan dan memberi dukungan agar tetap sabar, tabah
dan ikhlas menerima ujian ini.

“Saya bilang ke menantu (Siti Nurbaya). Kamu
boleh nangis, tapi jangan terlalu berlebihan. Kasihan suamimu.
Tangisanmu juga tidak bisa membuat Suheri kembali,” ucap Untung
bercerita, saat menguatkan menantunya setelah menerima kabar dari TNI AL
terkait kondisi Nanggala-402 beserta seluruh awaknya.

Kakek berusia 71 tahun tersebut mengaku lebih kuat saat menerima kabar anaknya yang turut dalam tugas KRI Nanggala-402.

Profesi yang hampir sama dengan anaknya tersebut membuatnya lebih tegar dan memahami risiko yang dihadapi anaknya saat bekerja.

“Saya dulu kerjanya sama dengan Heri ini
(panggilan Suheri), juga sebagai ASN, tapi saya bukan di kapal selam.
Saya juga sering berpesan kepada dia tentang pekerjaannya,” ucapnya.

“Heri ini generasi keempat. Dulu, kakek saya atau kakek buyutnya Heri, juga kerja di bidang Arsenal,” kata Untung, menambahkan.

Ia terakhir bertemu anaknya pada Senin (19/4),
saat berpamitan hendak bekerja. Tak ada yang aneh saat meminta izin,
karena saat akan berlayar juga selalu pamit.

“Rumah Heri agak masuk, dan ini rumah saya. Jadi
saat berangkat, dia mampir dan pamitan. Termasuk Senin pagi itu, dia
pamit mau berlayar. Seperti biasa, dia bilang mau berlayar dan minta
didoakan berhasil,” katanya, mengenang.

Saat ada kabar kapal selam hilang kontak, Untung
mengaku mengetahuinya, tapi tidak menyadari jika anaknya termasuk dalam
salah satu awak. Sebab, selain KRI Nanggala, terdapat juga KRI Cakra.

Ia baru tahu saat melihat di televisi bahwa
terdapat nama anaknya dalam daftar nama awak KRI Nanggala-402 yang
mengalami musibah hilang kontak.

“Ini sudah takdir dari Allah SWT. Semua harus
menerimanya dengan ikhlas. Tapi kami masih berharap pencarian terus
dilakukan, apapun hasilnya (baik hidup atau tidak), kami sangat siap,”
tuturnya.

Sahur terakhir

Suheri meninggalkan seorang istri dan tiga orang
anak. Anak pertamanya seorang perempuan sedang menempuh pendidikan S-3
di Thailand, anak keduanya laki-laki bekerja dan berkuliah S-2 di
Universitas Widya Mandala dan anak bungsunya juga laki-laki bersekolah
di SMP Muhammadiyah 5 Surabaya.

Istri Suheri, Siti Nurbaya, terisak saat melihat
karangan bunga ucapan duka cita dari banyak pihak. Ia seolah tak
menyangka nama yang ada di papan karang bunga tersebut adalah nama
suaminya.

Anak kedua Suheri, Fahmi Abzul Aziz, mengaku tak
mendapat firasat apa-apa. Ia teringat Minggu malam, atau Senin dini hari
saat santap sahur bareng keluarga juga tak ada pesan khusus yang
tersirat.

“Saat itu, ayah, ibu, saya dan adik sahur bareng. Ayah sempat minta nasi pecel dan waktu itu memang sahurnya pecel,” kata Fahmi.

Ia hanya teringat pesan ayahnya yang izin akan
berlayar bersama kapal selam KRI Nanggala-402 dan berjanji akan kembali
ke rumah pada Sabtu, 1 Mei 2021.

Diakuinya, ayahnya yang dikenal humoris atau
sering bercanda, selama beberapa hari terakhir menjadi lebih diam. Namun
ia tak menaruh firasat karena mungkin menganggap sang ayah hanya
kecapekan, ditambah sedang berpuasa.

Sama seperti harapan sang kakek, ia berharap evakuasi jalan terus dan ayahnya ditemukan dalam kondisi apapun.

“Semoga ayah ditemukan. Meski sudah dalam bentuk
jasad, kami siap. Bagian tubuh ayah adalah bagian tubuh kami,
keluarganya,” ujar Fahmi.

Kenaikan pangkat

Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan
kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi serta bintang jasa Jalasena
kepada 53 prajurit TNI Angkatan Laut yang gugur karena tenggelamnya
kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan utara Pulau Bali.

Pemerintah juga akan menjamin pendidikan
putra-putri dari keluarga prajurit KRI Nanggala-402 hingga jenjang
pendidikan Strata-1 (S1).

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga
menegaskan memberikan beasiswa penuh bagi seluruh putra-putri awak kapal
selam KRI Nanggala-402 yang gugur dalam tugas.

“Betul, Menteri Prabowo Subianto menyampaikan
akan memberikan beasiswa penuh, mulai dari SD sampai dengan universitas
kepada putra putri prajurit Nanggala 402 yang gugur,” kata Juru Bicara
Menhan Dahnil Anzar Simanjuntak, melalui tayangan video.

Prabowo pun berharap dengan beasiswa tersebut
anak-anak prajurit Nanggala-402 bisa meneruskan cita-cita ayahnya
sebagai pengabdian terhadap orang tuanya yang gugur.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan
beasiswa pendidikan hingga jenjang kuliah untuk seluruh anak dari awak
kapal selam KRI Nanggala-402 warga Surabaya yang dinyatakan gugur saat
bertugas.

“Beasiswa adalah bentuk penghargaan dari Pemkot
Surabaya, meski tentu ini tidak sebanding dengan pengabdian
beliau-beliau yang teguh hingga akhir menjaga laut kita,” kata Wali Kota
Surabaya Eri Cahyadi.

KRI Nanggala-402 hilang kontak di perairan utara
Bali pada Rabu (21/4) saat kapal selam tersebut sedang latihan
penembakan torpedo.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Bali,
Minggu (25/4) menyatakan KRI Nanggala-402 tenggelam (subsunk) setelah
pencarian selama 72 jam. Panglima juga menyatakan 53 personel KRI telah
gugur.

Sementara itu, Kepala Staf TNI AL (Kasal)
Laksamana Yudo Margono mengatakan KRI Nanggala-402 terbelah menjadi tiga
bagian di kedalaman 838 meter di bawah permukaan laut.

Deteksi terhadap beberapa bagian kapal selam
diperoleh setelah KRI Rigel-933 menjalankan pencarian di perairan utara
Bali menggunakan multibeam echi sounder (MBES), yang kemudian
dilanjutkan oleh kapal milik Singapura.

Komentar
Bagikan:

Iklan