Korupsi Non-Konvensional dan Tauladan Artidjo Alkotsar

  • Bagikan

 

.

Oleh:
Pradikta Andi Alvat S.H., M.H.

SECARA harfiah, korupsi berasal dari bahasa latin corruptio
yang merupakan kata kerja corrumpere yang
memiliki makna busuk, rusak, kotor, menggoyahkan, dan memutarbalik. Dalam arti
yang literal, segala perbuatan yang berafiliasi dengan karakter dan sifat
tersebut digolongkan sebagai korupsi.

Prof.
Satjipto Rahardjo dalam buku Penegakan
Hukum Progresif
(2010) mendistingsi korupsi dalam dua arti. Pertama, korupsi
konvensional. Korupsi konvensional merupakan korupsi dalam arti yuridis-formal
sebagaimana tertuang dalam peraturan perundang-undangan positif.

Korupsi
konvensional meliputi perbuatan-perbuatan yang dikualifikasi sebagai tindak
pidana korupsi dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, yang meliputi:
kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan,
perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan barang/jasa, dan
gratifikasi.

Kedua,
korupsi non-konvensional. Korupsi non-konvensional bukanlah korupsi dalam arti
yuridis-formal (tindak pidana korupsi) melainkan perbuatan-perbuatan yang
bersifat kriminogen untuk melahirkan korupsi konvensional. Misalnya
ketidakjujuran dan hedonisme.

Bisa
dikatakan, korupsi non-konvensional merupakan bibit-bibit dari pada lahirnya
korupsi konvensional di kemudian hari. Sejalan dengan premis tersebut, maka
menjauhi perilaku-perilaku korupsi non-konvensional dapat menjadi cara yang
efektif untuk menghindarkan seseorang khususnya pejabat publik dari perbuatan
korupsi konvensional.

Ada
beberapa tokoh bangsa yang bisa menjadi inspirasi dan suri tauladan tentang
bagaimana menjauhi praktik-praktik korupsi non-konvensional sekaligus
(tentunya) korupsi konvensional dengan menjalani laku hidup yang sederhana dan
penuh integritas. Misalnya, M. Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia yang
dikenal sebagai tokoh bangsa yang hidup sederhana, penuh integritas, dan jauh
dari korupsi. Harta paling berharga miliknya adalah keluarga dan buku (ilmu).
Tabiat Hatta yang jauh dari praktik korupsi baik konvensional maupun
non-konvensional telah terbentuk sejak dia belum menjabat menjadi Wakil
Presiden, yang berlanjut saat menjabat, hingga pasca menjabat. Tabiatnya tidak
pernah berubah.

Kemudian
ada mantan Kapolri periode 1968-1971, Hoegeng Iman Santoso. Banyak kisah
faktual yang menggambarkan bagaimana kesederhanaan dan integritas Hoegeng,
salah satunya saat Hoegeng menolak pemberian dua unit sepeda motor lambretta
dari seorang pengusaha otomotif sebagai “jatah” Kapolri. Hoegeng dalam
wawancara dengan majalah Tempo saat masih menjabat Kapolri pernah
berujar “saya bukan anti main golf. Tetapi harga stik golf sangat mahal dan
saya tidak punya uang”.

Dalam
sejarah polri, Hoegeng dikenal publik sebagai polisi yang jujur, sederhana, dan
penuh integritas. Bahkan Gus Dur pernah mengelurkan pernyataan menarik bernada
satire, Gus Dur berujar bahwa di Indonesia hanya ada 3 polisi yang jujur.
Pertama, polisi tidur. Kedua, patung polisi. Ketiga, Jenderal Hoegeng Iman
Santoso.

Berikutnya
ada Artidjo Alkotsar, mantan akademisi hukum UII, mantan advokat, sekaligus
mantan Hakim Agung Mahkamah Agung yang kemarin (28 Februari 2021) baru saja
berpulang ke rahmatullah dalam usia
71 tahun. Sebagaimana M. Hatta dan Jenderal Hoegeng, Artidjo juga menjalani
laku hidup yang sederhana, jujur, dan penuh integritas. Selain itu, karakter
yang melekat kuat dalam diri Artidjo adalah kepeduliannya terhadap kaum yang
lemah (compasion) dan keberanian (brave). Sebagai akademisi hukum sekaligus
advokat, Artidjo pernah memberikan advice
hukum dalam kasus-kasus sensitif yang membahayakan keselamatannya seperti
kasus pembantaian di Santa Cruz (Timor Leste) dan pembelaannya terhadap orang
yang disangka sebagai penembak misterius pada tahun 1985.

Tatkala
menjabat sebagai Hakim Agung di MA, Artidjo dikenal sebagai hakim yang kejam
terhadap pada koruptor, Artidjo seringkali menjatuhkan pidana penjara maksimum
atau setidaknya lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum kepada para
koruptor baik di tingkat kasasi maupun peninjauan kembali. Menurut Mahfud MD,
Artidjo tidak pernah ragu menjatuhkan hukuman berat kepada koruptor tanpa
peduli pada peta kekuatan dan back-up politik.
Sikap Artidjo tersebut dilandasi oleh kecerdasan spiritual, integritas,
kedalaman ilmu, dan keberanian. Bahkan ada fenomena unik saat Artidjo resmi
pensiun sebagai Hakim Agung, yakni berbondong-bondongnya para narapidana
koruptor mengajukan peninjauan kembali. Fenomena yang tidak terjadi saat
Artidjo masih bercokol di Mahkamah Agung.

Dalam
kesehariannya sebagai Hakim Agung, Artidjo dikenal hidup sangat sederhana dan
sarat integritas. Sebelum mendapat jatah rumah dinas, Artidjo pernah tinggal di
rumah kontrakan sederhana di Kwitang. Artidjo sering berangkat kerja naik
bajaj, saat kunjungan ke luar kota Artidjo memilih naik pesawat ekonomi.
Artidjo juga sangat menjaga etika hakim dengan membatasai pergaulan terutama
yang berkaitan dengan perkara yang ditanganinya. Rumah miliknya di Yogyakarta
juga sangat sederhana, penuh dengan buku-buku.

Dalam
buku Untuk Repbulik Kisah-Kisah Teladan
Kesederhanaan Tokoh Bangsa,
(2019). Artidjo berujar bahwa kekayaan hanya
sementara dan tidak berguna ketika seseorang sudah mati. Ia sering melihat
hakim atau penegak hukum yang semasa hidupnya tidak lurus, ketika meninggal
tidak beres keadaannya. Harta yang diperoleh secara tidak halal pada akhirnya
hanya akan biki susah saja.

Kini,
Artidjo telah berpulang untuk selama-lamanya. Dunia hukum telah kehilangan
salah satu pendekar hukum terbaiknya. Tidak mudah melahirkan kembali sosok penuh
suri tauladan seperti Artidjo yang cerdas, sederhana, lekat integritas, berani,
memiliki kepedulian, dan responsif terhadap nurani publik.

Pada
akhirnya, hidup sederhana memang jauh dari gelimang materi, namun mendekatkan
diri dengan integritas dan martabat. Hidup sederhana memang jauh dari
kemewahan, namun bisa melahirkan value
dan legacy bagi generasi selanjutnya.
Hidup sederhana memang jauh dari kenikmatan duniawi, namun dapat menjauhkan diri
dari laknat korupsi serta menjaga keselamatan akherat.

*Penulis adalah Pegiat Hukum

 

           

  • Bagikan
You cannot copy content of this page