Praja IPDN Kampuas Kalbar, Belajar Memimpin Diri Dimasa Pandemi

  • Bagikan

 

Ilustrasi Covid-19

 Oleh : Rozal Nawafil

Pandemi
Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang masih mengepung dunia
nampaknya belum bisa diredam. Virus yang menyebar dengan cepat dan tak
mengenal batas teritorial ini menjalar bak kebakaran dipadang rumput
ilalang, dengan cepat merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Untuk
memutus rantai penularan virus corona, orang-orang dihimbau untuk
menerapkan physical distancing. Berbagai kegiatan yang mengumpulkan
banyak orang ditiadakan. Perubahan drastis terjadi di berbagai segi
kehidupan masyarakat. Termasuk juga perubahan yang mendasar dalam proses
belajar mengajar di semua jenjang pendidikan. 

Virus
itu memang muncul secara tiba-tiba. Ini yang membuat kampus harus
memutuskan secara cerdik dan cepat apa yang bisa dilakukan. Alasannya,
salah satu cara menekan virus Corona (khususnya Covid-19) dengan
membatasi pertemuan, maka kuliah daring menjadi alternatif. 

Kelas
luring atau tatap muka yang selama ini menjadi media utama beralih di
kelas kelas daring. Kuliah daring atau kuliah online disebut juga
e-Learning atau Online Course adalah proses perkuliahan dengan
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, dalam hal ini internet.
Sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia telah menerapkan
perkuliahan daring sebagai bentuk tindakan dalam memutus rantai
penyebaran virus corona. Bahkan, Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir
Semester bahkan bimbingan tugas akhir dilakukan secara daring. 

Institut
Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebagai pendidikan tinggi
kepamongprajaan di Indonesia pun memberlakukan kebijakan pendidikan
berdasarkan protokol kesehatan. IPDN telah melakukan sejumlah penataan
pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mendukung berbagai
kegiatan belajar mengajar. Salah satunya dengan membangun Sistem
e-Learning dan melalui media video conference. Dosen dapat memberikan
materi melalui internet (e-learning) di mana materi dapat diberikan
melalui internet dan tidak harus bertemu secara langsung dengan praja.
Sementara itu, sistem perkuliahan dengan menggunakan media video
conference, dosen dan praja melakukan proses pembelajaran secara
langsung jarak jauh melalui video conference.

Proses
belajar mengajar di IPDN tetap dilaksanakan secara daring dan luring
dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Tak hanya memfasilitasi
seluruh ruangan di Kampus IPDN dengan alat-alat kebersihan, IPDN pun
giat melakukan sterilisasi dan merawat stamina mahasiswa/Praja IPDN
dengan asupan makanan sehat serta vitamin yang cukup agar imunitas
mereka tetap terjaga.  Selama pandemi Covid-19, seluruh praja IPDN tidak
diijinkan keluar dari kampus, baik melakukan ijin bermalam ataupun
pelaksanaan cuti hari besar. Hal ini dilakukan agar meminimalisir
penularan virus Covid-19 kepada Praja IPDN.

Secara
bertahap, rapid tes dan tes SWAB pun dilakukan kepada seluruh praja dan
civitas akademika IPDN baik yang berada di kampus Jatinangor maupun
yang ada di IPDN kampus daerah termasuk di IPDN Kampus Kalimantan Barat.
Total jumlah Praja IPDN baik yang berada di IPDN Kampus Jatinangor
maupun kampus-kampus daerah (termasuk 167 praja di IPDN Kampus
Kalimantan Barat) berjumlah 6.273 orang. 

Sistem perkuliahan
daring di tengah pandemi Covid-19 menghadirkan karakter baru dan tidak
selalu berjalan dengan mulus. Namun tetap saja, kebijakan ini layak
diapresiasi, meskipun belum tentu maksimal dalam pelaksanaannya. Dengan
beberapa keterbatasan dan hambatan pada pelaksanaan kuliah daring, maka
mau tidak mau, praja atau mahasiswa harus merubah cara belajarnya,
menjadi pembelajar yang self regulated yaitu belajar secara mandiri
serta dikelola sendiri dalam mencapai target target mata kuliahnya.

Belajar
mandiri akan menuntut siswa belajar tentang dirinya, baik potensi,
emosi, juga kecakapan catatan manajeman waktu yang digunakan. Praja IPDN
yang dibentuk menjadi pemimpin di masa depan harus menyadari bahwa
kepemimpinan haruslah dimulai dengan memimpin diri. Untuk itulah mengapa
lembaga IPDN membina Praja dengan kedisiplinan tinggi dari pukul 04.30
sampai pukul 22.00 adalah untuk melatih praja untuk mampu memimpin
dirinya sendiri.

Menjadi self regulated berarti
praja atau mahasiswa menjadi orang yang proaktif,  mencari
sumber-sumber belajar alternatif, membaca buku buku dan rujukan jurnal
relevan, menulis dan merangkum bacaan sehingga lebih memahami materi
yang dipelajari. Self-regulated learning merupakan proses belajar yang
meliputi pengelolaan pikiran, perasaan, strategi, sikap belajar dan
perilaku belajar yang dihasilkan pembelajar untuk pencapaian tujuannya.

Menjadi
Self-regulated learners berarti praja atau mahasiswa harus memiliki
kemampuan mengelola kognisi (knowledge to build upon), dan metakognisi
(knowledge and monitoring learning strategy), sehingga kombinasi
keduanya mempercepat terbangunnya pemahaman mereka terhadap bahan-bahan
pembelajaran. Kondisi pandemi saat ini menjadi momentum bagi praja
meninggalkan kebiasan belajar di masa lalu, dan mengadopsi  strategi dan
perilaku belajar baru yang lebih adaptif terhadap perubahan.


Penulis adalah Mahasiswa atau Praja Tingkat III IPDN Kampus Kalimantan Barat

  • Bagikan