SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Perusahaan bauksit dan sawit diminta tempatkan petugas jaga di simpang empat

Perusahaan bauksit dan sawit diminta tempatkan petugas jaga di simpang empat

Aktivitas angkutan tambang di Ketapang 

Ketapang (Suara Kalbar) – Kepala Desa Karya Baru Kecamatan Marau Kabupaten Ketapang, Mutari Unang menyayangkan kondisi jalan simpang empat yang tidak ada petugas penjagaan dari pihak perusahaan.

“Tidak adanya sekuriti yang berjaga di perempatan ini sangat mengkhawatirkan semua warga di sekitar, khususnya di pagi hingga siang hari,”katanya.

Menurutnya, ramainya  lalu lalang kendaraan pengangkut material tambang bauksit selalu berpapasan dengan kendaraan lainnnya seperti angkutan kelapa sawit,  kendaraan warga, anak sekolah dan lainnya.

“Kondisi ramai ini disebabkan  jalan tambang bersimpangan lansung ke jalan provinsi penghubung kecamatan Marau, Air Upas hingga ke Manis Mata,”katanya.

Mutari mengaku sudah pernah dilakukan mediasi pada bulan September 2019 yang lalu bersama beberapa pimpinan perusahaan yang menggunakan akses tersebut  disepaki akan ditempatkannya  sekuriti di pos jaga guna mengatur arus lalu lintas di simpang empat tersebut.

Beberapa alternatif ditawarkan Mutari tentang bagaimana agar penjagaan dapat ditempatkan di pos yang telah tersedia yakni apakah pihak perusahaan lansung yang memperdayakan karyawannya, atau pihak desa yang menyiapkan personilnya namun untuk insentifnya difasilitasi beberapa perusahaan yang terkait dalam hal ini.

Melalui mediasi disepakati 4 perusahaan yakni  tambang bauksit PT. Harita Prima Abadi Mineral (HPAM) dan Hasta Panca Mandiri Utama (HPMU), perusahaan kelapa sawit PT. Pertiwi Lenggara Agromas (PLA) dan PT. Umekah Sari Pratama (USP). Mereka siap membantu dana sebesar Rp. 1.500.000 / perusahaan  setiap bulan untuk membayar personil yang ditugaskan berjaga nantinya.

“Namun belum ada realisasi dari mediasi yang telah  disepakati,”ujarnya.

Mengingat sejak bulan Oktober hingga Maret 2019 ini tidak ada penjagaan untuk mengatur lalu lalang kendaaran di persimpangan jalan provinsi ini  Mutari merasa kecewa dengan tidak pedulinya Perusahan  terhadap kondisi yang berbahaya serta mengkhawatirkan warga sekitarnya.

“Hendaknya Permasalahan ini tidak perlu terlalu lama, saya sangat khawatir dengan kondisi ini. Tidak mungkin 4 perusahaan besar hanya menenpatkan penjaga di jalan yang mereka pergunakan setiap hari tidak mampu, ini benar benar tidak ada kepedulian,”ujarnya.

Secara terpisah tokoh masyarakat, Heri Anderson  juga menyayangkan lemahnya  Safety riding yang ada di Perusahaan tambang, terkesan perusahaan hanya mengemas safety riding baik secara internal saja, namun secara eksternal terkesan  terabaikan.

“Beberapa peristiwa laka di jalan tambang mengajarkan saya banyak hal, saya percaya dengan kedaulatan Tuhan terhadap semua peristiwa yang terjadi, tetapi alasan takdir jangan sampai menutupi human error karena setiap kesalahan mestinya dievaluasi,”

kata Heri.

Heri Anderson juga mengatakan bahwa memang  jalan di area pertambangan bukanlah jalan umum yang bisa dilalui dgn bebas, tetapi dgn banyaknya peristiwa tragis yang merengut jiwa korban di area pertambangan hendaknya perusahaan lebih meningkatkan safeti riding sejak dini dan hendaknya tersedia jalan alternatif. Karena kiri kanan jalan tambang juga terdapat perkampungan.

“Banyaknya  Laka yang sudah  terjadi seharusnya sdh menjadi evaluasi bagi perusahan utk melakukan tindakan preventif supaya kejadian serupa tdk terulang,”pungkasnya.

Suara Kalbar ingin mengkonfirmasi ke pimpinan perusahaan PT. HPMU  dan HAPAM namun kedua pimpinan yang membidangi hal ini, CSR eksternal  HPMU,  Uung tidak dapat dihubungi info yang didapat Uung sedang cuti.

demikian pula CSR Eksternal HAPAM,

Okky Adhip tidak bisa dihubungi karena sedang cuti pula.

Penulis: Jansen

Editor: Kundori

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play