SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Larut dalam sholawat, kolaborasi Gus Muwafiq, Ustadz Zulfikar dan Veve Zulfikar hibur nahdiyin Pontianak

Larut dalam sholawat, kolaborasi Gus Muwafiq, Ustadz Zulfikar dan Veve Zulfikar hibur nahdiyin Pontianak

Pontianak (Suara Kalbar) – Momen Hari lahir NU ke 93 di Pontianak yang berlangsung di PCC, Selasa (5/3/2019) malam terlihat sangat khusuk.

Sejumlah massa tampak larut dalam lantunan sholawat yang dilantunkan oleh Ust Zulfikar Baasyaiban dan Veve Zulfikar.

Keduanya diundang ke Kalbar untuk menghibur para warga nahdiyin yang ada di Pontianak dan Singkawang.

Beberapa lantunan sholawat dan lagu bernuansa Arab disampaikan dengan syahdu oleh ayah dan anak tersebut.

Gus Muwafiq-pun didaulat memberikan tausiyah dan tabligh akbar dengan sejumlah ulasan mengenai perjalanan sejarah islam, sejarah singkat perjalan Nahdhatul Ulama, hingga perjalanan masuknya agama islam di Indonesia.

Iapun lantas menceritakan meskipun sudah lewat sebulan dari hari resmi lahirnya Nahdhatul Ulama, akan tetapi kegiatan-kegiatan Harlah masih saja ada digelar dibeberapa daerah di Indonesia.

Menurutnya hal tersebut dinilainya sebagai tanda bahwa NU itu anggotanya banyak dan ada dimana-mana.

“Selama ini NU tidak pernah keliru, kalau dulu ada yang tidak boleh menggunakan nasi tumpeng tapi mau juga, dulu bilang anti suara rebana atau terbangan tapi lama-lama mau juga. Tunggulah, semua akan menjadi NU pada waktunya,” ungkapnya didalam tausiah.

Ulama Kharismatis NU yang pernah menjadi asisten pribadi Presiden RI KH Abdurrahmad Wahid tersebut juga mengulas soal wawasan kebangsaan ditengah keberagaman Indonesia.

“Mungkin banyak yang heran dengan sikap NU, mereka itu tidak mengerti dan memahami NU,” 

Gus Muwafiq menyampaikan tentang arti penting hidup ditentah keberagamaan di Indonesia. Hal tersebut merupakan anugrah yang dimiliki di Indonesia.

Selain itu, NU menyatakan bahwa posisi NU menjadi tulang punggung kebangsaan.  “Sehingga perlu diperkokoh dengan sikap kebangsaan,” pungkasnya.

Penulis  : Dina Prihatini Wardoyo

Editor.   : Kundori

Komentar
Bagikan:

Iklan