SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Dentuman Meriam Bambu Semarakkan Ramadan di Desa Antibar

Dentuman Meriam Bambu Semarakkan Ramadan di Desa Antibar

Nostalgia meriam buloh atau meriam bambu di Jalan Bardanadi, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, Minggu (18/4/2021) malam. Para remaja di sana tiap malam menyalakan meriam untuk menyemarakkan ramadan. SUARAKALBAR.CO.ID/Dista

Mempawah (Suara Kalbar) – Dalam kehidupan masyarakat
Mempawah tempo dulu, bunyi meriam buloh atau meriam bambu seakan tak
terpisahkan di perjalanan bulan ramadan dari tahun ke tahun.

Dulu, bunyi meriam buloh merupakan salah satu penanda sahur
dan buka puasa. Dentuman meriam juga menjadi penanda masuknya awal ramadan.

Dan tak hanya itu, meriam menjadi sarana bermain dan
menjalin keakraban antar anak-anak, pemuda bahkan orangtua.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, pelan-pelan bunyi
meriam di bulan ramadan akhirnya menghilang, digantikan sarana yang lebih
canggih dan modern.

Tapi pada Minggu (18/4/2021) malam, kerinduan akan bunyi
meriam buloh terobati sudah. Tepatnya di Jalan Bardanadi, RT. 010/RW. 003,
Dusun Harapan, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur.

Sekelompok anak-anak, remaja bahkan orangtua, usai
menunaikan salat tarawih, langsung menuju suatu tempat untuk bermain meriam
buloh.

Lokasi bermain ternyata di belakang rumah Bhabinkamtibmas
Desa Antibar, Polsek Mempawah Timur, Bripka Andre F.

Ada delapan meriam yang akan dinyalakan. Bambu berdiameter
12-13 cm sejak siang hari telah dipotong dengan panjang dua meter.

“Lalu bambu untuk meriam ini dilubangi bagian dalamnya, dan
di bagian bawah dibuatkan lagi lubang khusus untuk memasukan bahan bakar minyak
tanah,” jelas sang Bhabinkamtibmas, Andre.

Dengan terampil, satu-persatu remaja menyalakan meriam yang
mengeluarkan bunyi dentuman ringan. Tak jarang mereka saling bercanda jika ada
meriam temannya yang mengeluarkan bunyi sangat kecil. Atau, ada meriam yang
pecah.

Bagi Andre, dirinya memang mempersilakan anak-anak dan
remaja bermain meriam buloh di halaman belakang rumahnya. Tentu saja, tetap
mengutamakan keselamatan.

“Asal cuaca tidak hujan, anak-anak di sini bermain meriam tiap
malam, sejak awal puasa kemarin. Ini sarana membangkitkan nostalgia meriam di
bulan ramadan yang hampir hilang ditelan jaman,” kata Andre lagi.

Waktu bermain, tambahnya, seusai salat tarawih. Biasanya, hingga
jam 22.30 WIB, anak-anak yang sudah keletihan, kompak berhenti dan merapikan
meriam buloh yang telah dinyalakan.

“Kadang ada meriam yang pecah, besok siang anak-anak pergi
lagi ke hutan untuk menebang bambu. Ini menciptakan kebersamaan antar
masyarakat di desa kami,” ujarnya.

 

Penulis : Distra

Komentar
Bagikan:

Iklan