Bisnis Jengkol, Wangi Rupiah
![]() |
| Usaha Jengkol semakin Naik Daun |
Melawi (Suara Kalbar) – Saat ini sejumlah daerah di Kabupaten Melawi sedang panen buah Jengkol.
Tak pelak, Jengkol dengan nama latin Archidendron pauciflorum ini menjadi usaha dadakan oleh masyarakat untuk meraup rupiah setiap tahunnya.
Seperti yang sedang dilakukan oleh Tomi, salah seorang pengepul jengkol di Kecamatan Nanga Pinoh yang terletak di Jalan Kota Baru km 3.
“Jengkol jengkol ini saya beli langsung dari para petani jengkol,” kata Tomi ditemui Suara Kalbar.co.id, Rabu (13/11/2019).
Selain berasal dari Melawi seperti daerah Kota Baru, Iapun juga ada menerima jengkol dari petani yang berasal dari Kalimantan Tengah.
“Rata rata sekitar 7 ton setiap tiga hari sekali, Saya bawa langsung Jengkol ini ke Pontianak untuk dijual kembali,” beber Tomi dengan ramah.
Saat ini harga jengkol sedang turun harganya. Dari sebelumnya dibandrol Rp 7 ribu perkilogramnya, turun menjadi Rp 5 ribu perkilogram.
Turunnya harga tersebut disebabkan oleh banyak hal, seperti kualitas jengkol yang agak kecil dan mudah busuk akibat faktor cuaca serta harga jual beli yang cepat berubah.
“Kalau tahun lalu, harga jengkol sampai menembus harga Rp 18 ribu perkilogramnya. Tapi sekarang turun drastis,” bebernya.
Dari bisnis jengkol, Tomi mengaku biasanya mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah.
“Kalau kondisi sekarang agak susah meraup untung banyak. Ya, paling tidak bisalah untuk membantu petani petani didaerah untuk menambah penghasilan keluarga,”
Ia mengungkapkan kondisi jengkol saat ini kebanyakan berukuran agak kecil atau biasa disebut masyarakatJengkol Padi.
Padahal, menurutnya jengkol yang paling bagus dan paling diminati para pengepul adalah yang jenis ukuran agak besar.
“Kami berharap, nantinya di Melawi ada dibentuk semacam asosiasi pengusaha Jengkol, agar harga jual bisa lebih terkontrol dipasaran,” pungkasnya.
Penulis : Dea Kusumah Wardhana
Editor : Dina Wardoyo






