Komnas HAM RI dan Disdikbud Singkawang Gelar FGD Evaluasi Sekolah Ramah HAM
Singkawang — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang bersama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Pelaksanaan Pelatihan Sekolah Ramah HAM (SRHAM) tingkat SMP/MTs di Kota Singkawang pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Kegiatan ini bertujuan mengukur efektivitas program yang telah berjalan sejak April 2026 tersebut, sekaligus memastikan terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk diskriminasi.
Ketua Tim Kerja Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM RI, Hari Reswanto, menyatakan bahwa penerapan program SRHAM bagi guru di Singkawang sejauh ini berjalan relatif cukup baik. Melalui evaluasi ini, para guru, khususnya guru Bimbingan Konseling (BK) dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), membagikan beragam dinamika yang dihadapi saat mendampingi siswa dengan latar belakang yang heterogen.
“Setiap orang berhak bebas dari diskriminasi dan menerima pendidikan apa pun latar belakangnya. Pembinaan di sekolah harus dilakukan tanpa kekerasan, tanpa menghakimi (menjudge), merundung (membully), ataupun merendahkan martabat manusia,” ujar Hari.
Hari juga mengingatkan para pendidik untuk merangkul anak-anak penyandang disabilitas serta siswa yang kurang aktif. Menurutnya, perlindungan dan pemenuhan HAM di sekolah harus bersifat integratif, melibatkan seluruh ekosistem sekolah mulai dari murid, guru, hingga petugas keamanan dan penjaga kantin.
Sementara itu, Sekretaris Komnas HAM Perwakilan Kalimantan Barat, Nelly Yusnita, menjelaskan bahwa selain Kota Singkawang, kerja sama pelatihan serupa juga dilaksanakan di Kota Pontianak dan Kabupaten Ketapang. Target akhir dari program ini adalah perwujudan sekolah yang nyaman, menyenangkan, dan sepenuhnya menerapkan nilai-nilai HAM secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang, Asmadi, menyampaikan apresiasi mendalam atas pendampingan yang diberikan oleh Komnas HAM RI. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, melainkan dari sejauh mana sekolah mampu menjadi ruang aman tempat anak berani berekspresi tanpa takut dihakimi.
“Kota Singkawang memiliki keberagaman suku, agama, dan latar belakang masyarakat yang tinggi. Melalui semangat Sekolah Ramah HAM, anak-anak belajar menghormati perbedaan, memahami bahwa kondisi ekonomi tidak menentukan nilai seorang manusia, dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan setara untuk berkembang,” pungkas Asmadi.
Penulis : Hendra
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






