SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Kalbar Krisantus Tekankan Pentingnya Literasi Digital bagi Mahasiswa

Krisantus Tekankan Pentingnya Literasi Digital bagi Mahasiswa

Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan

Mempawah (Suara Kalbar)  – Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar),  Krisantus Kurniawan, menekankan pentingnya literasi digital bagi mahasiswa agar mampu memilah informasi, memanfaatkan teknologi secara produktif, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Krisantus saat membuka Pertemuan Bersama Persekutuan Sekolah Teologi Indonesia (PSTI) Wilayah Kalimantan Barat Tahun 2026 di Sekolah Tinggi Teologi (STT) ATI Anjungan, Kabupaten Mempawah, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antarsekolah teologi sekaligus meningkatkan kompetensi mahasiswa dan tenaga pendidik di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi digital.

Acara tersebut dihadiri Ketua dan jajaran PSTI Wilayah Kalimantan Barat, Wakil Bupati Mempawah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para dosen, mahasiswa, serta sejumlah narasumber.

Dalam sambutannya, Krisantus mengingatkan mahasiswa agar tidak cepat berpuas diri dengan jenjang pendidikan yang telah dicapai. Menurutnya, semangat belajar harus terus dipelihara agar generasi muda memiliki kemampuan dan wawasan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Semangat belajar seperti ini patut dicontoh. Jangan kita berpikir cukup hanya S1, cukup S2 atau cukup S3. Selama masih ada kesempatan, teruslah belajar dan meningkatkan kemampuan,” katanya.

Ia menilai pendidikan dan kesiapan diri merupakan modal penting dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Setiap orang, menurutnya, tidak dapat mengetahui secara pasti perjalanan hidup yang akan dilalui.

“Tidak ada seorang pun yang tahu 10 atau 20 tahun ke depan akan menjadi apa. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Rencana Tuhan adalah misteri, tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk menerima rencana tersebut,” ujarnya.

Krisantus juga mendorong mahasiswa STT ATI Anjungan agar tidak hanya memperdalam ilmu keagamaan, tetapi turut memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan diri. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan.

“Mahasiswa harus menjadi generasi yang siap ditempatkan di posisi apa pun. Bisa saja nanti ada yang menjadi pendeta, pemimpin masyarakat, anggota legislatif, kepala daerah, bahkan menduduki posisi penting lainnya. Kita tidak pernah tahu,” tuturnya.

Mahasiswa Diminta Bijak Memanfaatkan Teknologi

Dalam kesempatan itu, Krisantus menyoroti perkembangan teknologi digital yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda.

Menurutnya, teknologi menawarkan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri dan memilah konten.

“Teknologi adalah tantangan global, teknologi ada di samping kita selama 24 jam. Di dalam teknologi itu ada manfaat dan ada sisi negatifnya. Tinggal bagaimana kita memilih,” katanya.

Ia mengajak mahasiswa memanfaatkan perangkat digital untuk menunjang pembelajaran, memperdalam ilmu teologi, mempelajari bahasa asing, serta mencari referensi yang dapat memperluas pengetahuan.

“Kalau digunakan untuk belajar teologi, belajar bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Ibrani, mencari pengetahuan dan memperluas wawasan, tentu sangat baik,” ujarnya.

Sebaliknya, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak menghabiskan waktu dengan aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat bagi pengembangan diri.

“Jangan sampai handphone tidak pernah lepas dari tangan, tetapi yang dibuka hanya permainan atau konten-konten yang tidak bermanfaat. Gunakan teknologi untuk sesuatu yang produktif,” pesannya.

Krisantus menegaskan, kecakapan menggunakan teknologi harus diiringi kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi. Mahasiswa perlu bersikap kritis terhadap berbagai berita maupun konten yang beredar di media sosial.

“Mahasiswa harus mampu membedakan mana berita yang benar dan mana yang salah. Jangan menelan informasi mentah-mentah. Lihat sumbernya, periksa kebenarannya dan gunakan logika,” tegasnya.

Ia mengatakan, derasnya arus informasi digital menuntut masyarakat untuk lebih berhati-hati sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu informasi. Memastikan sumber dan kebenaran informasi merupakan bagian penting dari literasi digital.

“Jangan hanya tahu sesuatu, tetapi tidak mampu membedakan apakah informasi itu benar atau salah. Kita wajib tahu, tetapi juga harus mampu menyaringnya,” jelasnya.

Generasi Muda Harus Terus Mempersiapkan Diri

Selain menyampaikan pentingnya literasi digital, Krisantus membagikan pengalaman perjalanan hidupnya kepada para mahasiswa. Ia menceritakan bahwa perjalanan karier seseorang tidak selalu dapat diperkirakan sejak awal.

Ia mengaku memulai perjalanan politik pada 1999 dan telah melalui berbagai pengalaman, mulai dari lembaga legislatif hingga masuk ke lingkungan pemerintahan.

“Dulu saya juga tidak pernah tahu akan menjadi seperti sekarang. Saya memulai perjalanan politik sejak 1999 dan sampai hari ini sudah 27 tahun. Saya pernah berada di legislatif dan kemudian masuk ke pemerintahan,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa setiap orang harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik. Kesempatan dapat datang kapan saja, sehingga generasi muda perlu memiliki kesiapan untuk mengambil tanggung jawab ketika peluang itu terbuka.

“Yang paling penting adalah terus mempersiapkan diri. Jangan pernah merasa ilmu yang kita miliki sudah cukup. Dunia terus berubah dan kita harus ikut berkembang,” katanya.

Krisantus juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan dan pergaulan di tingkat global. Kemampuan berbahasa, khususnya bahasa Inggris, dinilai dapat membantu mahasiswa berkomunikasi dan mengakses pengetahuan dari berbagai negara.

“Ketika kita masuk ke lingkungan yang lebih luas, kita akan bertemu orang dari berbagai negara. Kalau kita tidak menguasai bahasa asing, tentu akan menjadi kendala. Karena itu, belajar bahasa Inggris dan bahasa lainnya juga penting,” pungkasnya.

Menutup sambutannya, Krisantus mengajak seluruh mahasiswa dan civitas akademika STT ATI Anjungan menjadikan pertemuan PSTI sebagai sarana memperkuat persaudaraan, menambah pengetahuan, dan membangun kapasitas diri.

Ia berharap mahasiswa teologi mampu menjadi generasi yang terbuka terhadap perkembangan zaman, bijak memanfaatkan teknologi, serta siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Teruslah belajar, teruslah meningkatkan kemampuan dan gunakan teknologi dengan bijak. Persiapkan diri karena kita tidak pernah tahu ke mana Tuhan akan membawa kita di masa depan,” tutupnya.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play