Kasus Influenza A Meningkat, Dokter Ingatkan Warga Jangan Sembarangan Minum Antibiotik
Suara Kalbar – Meningkatnya laporan kasus influenza A di sejumlah wilayah Indonesia menjadi perhatian tenaga medis. Masyarakat diminta mengenali gejala influenza sekaligus tidak mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dan anjuran dokter.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr Edwin Nugroho Njoto, menjelaskan influenza A merupakan penyakit akibat infeksi virus influenza yang menyerang sistem pernapasan. Virus tersebut bukan jenis baru, tetapi dikenal mudah mengalami mutasi dan menular.
Penularan umumnya terjadi melalui percikan saluran pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. Risiko dapat semakin tinggi pada orang dengan daya tahan tubuh rendah maupun mereka yang mengalami kelelahan akibat aktivitas yang padat.
Menurut Edwin, gejala influenza biasanya muncul dalam bentuk gangguan pada saluran pernapasan, mulai dari pilek, batuk, demam hingga rasa nyeri ketika menelan.
“Yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas, sehingga perhatian lebih juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil,” ujar dr Edwin saat dihubungi Senin (5/10/2026).
Kewaspadaan juga diperlukan apabila kondisi penderita terus memburuk atau muncul gejala yang lebih berat. Terlebih bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta tertentu.
“Pasien dengan penyakit penyerta tertentu, seperti diabetes atau gagal ginjal, juga berisiko mengalami kondisi yang lebih berat apabila terinfeksi influenza,” ujar dr. Edwin, Senin (5/10/2026).
Hindari Penggunaan Antibiotik Tanpa Anjuran Dokter
Selain mengenali gejala, Edwin mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan antibiotik sebagai obat utama setiap kali mengalami flu.
Influenza disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak berfungsi untuk membunuh virus penyebab penyakit tersebut. Antibiotik baru dapat dipertimbangkan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi bakteri sekunder dan penggunaannya sesuai kondisi medis pasien.
“Jangan baru flu sebentar sudah langsung diberi (obat) antibiotik, karena penyebab influenza adalah virus, bukan bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan hanya tidak efektif untuk mengatasi influenza, tetapi juga dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik,” tegasnya.
Untuk membantu menjaga kondisi tubuh, masyarakat dianjurkan mendapatkan waktu tidur dan istirahat yang cukup. Asupan makanan bergizi dan kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan.
Aktivitas fisik atau olahraga secara teratur juga tetap dianjurkan sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Dari sisi pencegahan penularan, masyarakat perlu membiasakan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah maupun sebelum makan.
Bagi mereka yang mulai mengalami gejala seperti demam dan batuk, penggunaan masker ketika berada di luar rumah juga dianjurkan. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan menularkan penyakit kepada orang lain.
Etika batuk dan bersin juga tidak boleh diabaikan. Masyarakat disarankan menutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau bagian dalam siku apabila tidak membawa tisu.
Sebagai upaya pencegahan tambahan, Edwin menyarankan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun. Vaksinasi terutama perlu dipertimbangkan oleh kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza.
“Dengan mengenali gejala, menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari penggunaan obat secara sembarangan, risiko penularan dan komplikasi influenza diharapkan dapat ditekan,” pungkas dr Edwin.
Sumber: Beritasatu.com






