Kaum Muda Kalbar Gali Peran dalam Transisi Energi Berkeadilan
Pontianak (Suara Kalbar) – Generasi muda di Kalimantan Barat didorong untuk mengambil peran dalam mendorong Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia. Pengembangan keterampilan, perlindungan sosial, inovasi, serta penciptaan lapangan kerja menjadi sejumlah aspek penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja menuju ekonomi rendah karbon.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam lokakarya bertajuk “Powering the Future: Challenges and Opportunities in the Era of Energy Transition” yang digelar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Universitas Tanjungpura (Untan), 24 September 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan lebih dari 100 mahasiswa Untan bersama akademisi, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperdalam pemahaman mengenai Transisi Energi Berkeadilan sekaligus menggali peran generasi muda dalam membentuk masa depan dunia kerja yang lebih hijau, adil dan inklusif.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untan, Dr. Herlan, S.Sos., M.Si., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan sosial dan ekonomi yang muncul seiring dengan transisi energi.
“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membekali generasi muda tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga keterampilan, kemampuan berpikir kritis dan pola pikir inovatif yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan dunia kerja,” ujar Herlan dalam sambutannya.
Menurutnya, generasi muda juga perlu memahami bahwa transisi energi harus memastikan pekerja dan masyarakat memiliki kemampuan untuk beradaptasi serta memperoleh manfaat dari peluang baru yang muncul melalui pengembangan ekonomi hijau.
Lokakarya tersebut merupakan bagian dari upaya ILO melalui proyek Innovation Regions for a Just Energy Transition (IKI-JET), yang mendukung Indonesia dalam mendorong transisi menuju ekonomi yang lebih hijau sekaligus mempromosikan pekerjaan layak dan pembangunan ekonomi yang inklusif.
Di Indonesia, proyek IKI-JET memfokuskan intervensinya di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur. Pengalaman dari kedua provinsi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran dalam membangun dialog yang lebih luas mengenai kesiapan pekerja, masyarakat dan generasi muda menghadapi dampak ketenagakerjaan dan sosial dari transisi energi.
Koordinator Proyek IKI-JET ILO, Muce Mochtar, menegaskan bahwa keberhasilan Transisi Energi Berkeadilan tidak hanya dilihat dari kemajuan dalam aspek lingkungan, tetapi juga dari sejauh mana pekerja dan masyarakat mendapatkan dukungan ketika menghadapi perubahan.
“Transisi menuju ekonomi rendah karbon harus berjalan seiring dengan penciptaan pekerjaan layak, pengembangan keterampilan dan perlindungan sosial yang memadai,” kata Muce.
Ia menjelaskan, pekerja membutuhkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan maupun beralih ke sektor-sektor baru yang berkembang. Di sisi lain, perlindungan sosial juga diperlukan ketika perubahan ekonomi berdampak terhadap pekerjaan dan pendapatan masyarakat.
“Memadukan berbagai elemen ini sangat penting untuk memastikan transisi energi berlangsung secara adil dan inklusif,” ujarnya.
Dalam lokakarya tersebut, peserta juga mendapatkan perspektif dari dua narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah dari Fakultas Kehutanan Untan dan Christianus Panjaitan, Konsultan ILO untuk Perlindungan Sosial.
Kedua narasumber membahas dimensi yang saling berkaitan dalam Transisi Energi Berkeadilan. Pembahasan tidak hanya menyoroti perubahan lingkungan dan teknologi, tetapi juga implikasinya terhadap ketenagakerjaan, mata pencarian serta kebutuhan perlindungan sosial.
Ketua pelaksana kegiatan dari Untan, Dr. Ira Patriani, turut terlibat dalam diskusi bersama para mahasiswa mengenai tantangan dan peluang yang muncul dari peralihan menuju energi yang lebih bersih.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa transisi energi dapat membuka peluang baru di sektor-sektor yang lebih hijau dan berkelanjutan. Namun, perubahan tersebut juga berpotensi memengaruhi pekerjaan dan mata pencarian yang selama ini ada.
Karena itu, pengembangan keterampilan, perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja dan dialog sosial dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan proses transisi berlangsung inklusif dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang terdampak.
Keterlibatan generasi muda dalam diskusi ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai tantangan dunia kerja di era ekonomi rendah karbon sekaligus mendorong munculnya gagasan dan inovasi untuk mendukung masa depan pekerjaan yang lebih hijau dan berkeadilan.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





