SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle 6 Manfaat Telur Puyuh untuk Tubuh, dari Protein hingga Dukung Fungsi Tiroid

6 Manfaat Telur Puyuh untuk Tubuh, dari Protein hingga Dukung Fungsi Tiroid

Selenium dan riboflavin yang terkandung dalam telur puyuh dapat membantu tubuh mengolah makanan menjadi energi. Selenium juga berperan dalam mendukung fungsi kelenjar tiroid. (Freepik.com/Magnific/@BalashMirzabey)

Suara Kalbar – Telur puyuh memiliki ukuran sekitar sepertiga telur ayam, tetapi mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Dalam jumlah wajar, telur puyuh dapat menjadi salah satu pilihan sumber protein, vitamin dan mineral dalam pola makan sehari-hari.

Satu butir telur puyuh dengan berat sekitar 9 gram mengandung kurang lebih 14 kalori, 1 gram protein dan 1 gram lemak. Karena ukurannya lebih kecil, dibutuhkan sekitar tiga hingga empat butir telur puyuh untuk mendapatkan jumlah yang kurang lebih setara dengan satu butir telur ayam.

Kandungan Gizi Telur Puyuh

Telur puyuh mengandung sejumlah vitamin dan mineral penting. Dalam satu butir, terdapat kolin sekitar 4 persen dari nilai harian, riboflavin 6 persen, folat 2 persen, asam pantotenat 3 persen, vitamin A 2 persen, vitamin B12 6 persen, zat besi 2 persen, fosfor 2 persen dan selenium 5 persen.

Selenium dan riboflavin berperan dalam membantu tubuh mengolah makanan menjadi energi. Selenium juga dibutuhkan untuk mendukung fungsi kelenjar tiroid.

Sementara itu, vitamin B12 dan zat besi berperan dalam fungsi sistem saraf serta pembentukan sel darah merah. Kolin juga memiliki sejumlah fungsi penting, termasuk membantu pembentukan asetilkolin, neurotransmiter yang berperan dalam penghantaran sinyal dari sistem saraf ke otot.

6 Manfaat Telur Puyuh untuk Tubuh

Kandungan protein, vitamin dan mineral membuat telur puyuh dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi. Dilansir dari Healthline, Selasa (15/9/2026), berikut sejumlah manfaat yang berkaitan dengan kandungan nutrisi telur puyuh.

1. Membantu Memenuhi Kebutuhan Protein

Satu butir telur puyuh mengandung sekitar 1 gram protein. Zat gizi ini dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, termasuk otot dan tulang.

Protein juga berperan dalam pembentukan hormon dan enzim. Namun, karena ukurannya kecil, seseorang perlu mengonsumsi beberapa butir telur puyuh untuk mendapatkan protein dalam jumlah yang setara dengan satu telur ayam.

2. Mendukung Metabolisme Energi

Riboflavin dan selenium yang terdapat dalam telur puyuh berperan dalam proses metabolisme tubuh. Kedua zat gizi tersebut membantu tubuh mengolah makanan menjadi energi.

Vitamin B12 dan zat besi juga diperlukan dalam pembentukan sel darah merah. Kekurangan kedua zat gizi tersebut dapat memengaruhi fungsi tubuh sehingga pemenuhannya melalui pola makan seimbang tetap penting.

3. Mendukung Fungsi Sistem Saraf

Vitamin B12 dalam telur puyuh berperan dalam menjaga fungsi sistem saraf. Sementara itu, kolin diperlukan tubuh untuk memproduksi asetilkolin, yaitu neurotransmiter yang membantu mengirimkan sinyal antara sistem saraf dan otot.

4. Membantu Memenuhi Kebutuhan Zat Besi

Telur puyuh mengandung zat besi yang diperlukan tubuh, terutama dalam proses pembentukan sel darah merah.

Jika dibandingkan berdasarkan berat yang sama, kandungan zat besi telur puyuh lebih tinggi daripada telur ayam. Meski demikian, jumlah zat besi yang diperoleh tetap bergantung pada jumlah telur yang dikonsumsi serta keseluruhan pola makan.

5. Mendukung Fungsi Tiroid

Selenium merupakan salah satu mineral yang terdapat dalam telur puyuh. Mineral ini membantu mendukung fungsi tiroid dan berperan dalam berbagai proses metabolisme tubuh.

6. Membantu Memberikan Rasa Kenyang

Kandungan protein dan lemak dalam telur puyuh dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan makanan yang sebagian besar mengandung karbohidrat.

Mengganti sarapan tinggi gula, seperti sereal atau pastry, dengan makanan yang mengandung telur puyuh dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang. Namun, pengaruhnya terhadap kadar gula darah tetap dipengaruhi oleh keseluruhan komposisi makanan dan pola makan seseorang.

Karena itu, telur puyuh tidak dapat dianggap sebagai makanan yang secara khusus mengontrol gula darah. Manfaatnya perlu dilihat dalam konteks pola makan secara keseluruhan.

Pengaruh Telur Puyuh terhadap Kolesterol

Telur puyuh mengandung kolesterol sehingga konsumsinya tetap perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Healthline menyebutkan konsumsi telur puyuh dalam jumlah sedang tidak menunjukkan dampak negatif terhadap kadar kolesterol pada kelompok yang diteliti. Namun, respons tubuh terhadap asupan kolesterol dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Karena itu, jumlah konsumsi tidak dapat dijadikan patokan yang sama untuk semua orang. Mereka yang memiliki kadar kolesterol tinggi atau kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan pola makan yang sesuai.

Telur Puyuh Vs Telur Ayam

Jika dibandingkan berdasarkan berat yang sama, telur puyuh memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang lebih tinggi daripada telur ayam.

Dalam 100 gram telur puyuh terdapat sekitar 158 kalori, 11 gram lemak dan 13 gram protein. Sementara itu, 100 gram telur ayam mengandung sekitar 148 kalori, 10 gram lemak dan 12 gram protein.

Perbedaan juga terlihat pada beberapa mikronutrien. Kandungan riboflavin telur puyuh mencapai sekitar 61 persen nilai harian, sedangkan telur ayam sekitar 32 persen. Vitamin B12 pada telur puyuh mencapai 66 persen, sementara telur ayam sekitar 43 persen.

Kandungan zat besi telur puyuh juga lebih tinggi, yakni sekitar 20 persen nilai harian, dibandingkan telur ayam yang mencapai sekitar 9 persen. Sebaliknya, telur ayam memiliki kandungan kolin lebih tinggi, yaitu sekitar 61 persen, sedangkan telur puyuh sekitar 48 persen.

Dengan demikian, telur puyuh memiliki keunggulan pada sejumlah mikronutrien jika dibandingkan berdasarkan berat. Namun, hal tersebut tidak berarti telur puyuh secara keseluruhan jauh lebih unggul daripada telur ayam.

Ukuran telur puyuh yang lebih kecil juga membuat seseorang perlu mengonsumsi lebih banyak butir untuk mendapatkan protein dalam jumlah yang sama.

Waspadai Reaksi Alergi

Telur puyuh juga dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Orang yang memiliki alergi terhadap telur ayam berpotensi mengalami reaksi serupa setelah mengonsumsi telur puyuh.

Sebaliknya, seseorang juga dapat mengalami alergi terhadap telur puyuh meski tidak memiliki alergi terhadap telur ayam. Karena itu, orang yang memiliki kekhawatiran mengenai alergi sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sejumlah penelitian awal juga menemukan potensi telur puyuh dalam membantu meredakan gejala tertentu yang berkaitan dengan alergi. Namun, hasil tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa telur puyuh dapat digunakan sebagai pengobatan alergi.

Penelitian pada manusia maupun hewan masih diperlukan untuk mengetahui efektivitas dan mekanisme manfaat tersebut secara lebih jelas.

Cara Mudah Mengolah Telur Puyuh

Telur puyuh dapat diolah dengan berbagai cara, seperti direbus, digoreng, dibuat telur dadar, poached atau diasinkan. Karena ukurannya lebih kecil daripada telur ayam, waktu memasaknya juga relatif lebih singkat.

Salah satu cara sederhana adalah merebus telur puyuh selama sekitar 3-4 menit setelah air mendidih. Setelah matang, telur dapat dikonsumsi sebagai camilan, ditambahkan ke salad atau menjadi pelengkap berbagai hidangan.

Telur puyuh juga digunakan dalam berbagai masakan di sejumlah negara Asia. Di Indonesia dan Korea Selatan, misalnya, telur puyuh kerap dikonsumsi sebagai camilan, pendamping lauk utama atau pelengkap makanan. Sementara di Jepang, telur puyuh juga digunakan dalam sejumlah hidangan, termasuk sushi.

Pada dasarnya, telur puyuh dapat menjadi pilihan sumber protein dan berbagai zat gizi, seperti vitamin B12, riboflavin, selenium dan zat besi. Beberapa kandungan nutrisinya memang lebih tinggi daripada telur ayam jika dibandingkan berdasarkan berat.

Namun, hal tersebut tidak berarti telur puyuh secara keseluruhan jauh lebih unggul. Konsumsi dalam jumlah wajar, simpan dengan baik dan masak hingga matang untuk mengurangi risiko kesehatan.

Bagi orang dengan alergi telur, kondisi kesehatan tertentu atau kebutuhan diet khusus, jumlah konsumsi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan anjuran tenaga kesehatan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play