SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Keracunan Makanan dan Alergi Itu Berbeda, Ini Cara Membedakannya

Keracunan Makanan dan Alergi Itu Berbeda, Ini Cara Membedakannya

Ilustrasi anak alergi. (Freepik.com/Magnific/@magnific)

Suara Kalbar — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan keracunan makanan dengan alergi makanan. Meski sama-sama dapat menimbulkan gangguan kesehatan setelah seseorang mengonsumsi makanan, keduanya memiliki penyebab dan mekanisme yang berbeda.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr Yogi Prawira, menjelaskan salah satu perbedaan utama terletak pada siapa yang dapat mengalami kondisi tersebut. Keracunan makanan dapat dialami siapa saja yang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah tercemar.

Sementara alergi makanan hanya terjadi pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap kandungan atau protein tertentu dalam makanan.

“Karena keracunan dapat dialami banyak orang yang mengonsumsi sumber makanan yang sama, kondisinya bisa berkembang menjadi kejadian luar biasa. Alergi tidak demikian karena hanya dialami oleh individu tertentu,” jelas Dr Yogi, Sabtu (12/9/2026).

Secara medis, keracunan makanan merupakan penyakit yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri, racun, virus, parasit, maupun bahan kimia.

Gejala yang umum muncul antara lain mual, muntah, diare, nyeri perut, demam, dan terkadang pusing. Keluhan tersebut dapat muncul dalam beberapa jam setelah makanan dikonsumsi atau baru dirasakan satu hingga dua hari kemudian, tergantung penyebabnya.

Karena berasal dari sumber makanan atau minuman yang tercemar, keracunan dapat terjadi secara bersamaan pada sejumlah orang yang mengonsumsi makanan yang sama. Kondisi inilah yang membuat kasus keracunan makanan berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa.

Berbeda dengan keracunan, alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein tertentu yang terkandung dalam makanan. Reaksi tersebut hanya terjadi pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap protein tersebut.

Gejala alergi juga dapat muncul lebih cepat. Pada sebagian orang, reaksi bisa terjadi dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pemicu.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain gatal, biduran, pembengkakan pada bibir atau kelopak mata, hingga sesak napas.

Dalam kondisi yang berat, reaksi alergi makanan bahkan dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Karena itu, munculnya gejala berat setelah mengonsumsi makanan perlu segera mendapatkan penanganan medis.

Dr Yogi menegaskan alergi makanan tidak menular. Kondisi tersebut merupakan respons sistem imun pada individu tertentu terhadap zat atau protein yang terdapat dalam makanan.

Dengan memahami perbedaan keduanya, masyarakat diharapkan tidak langsung menganggap setiap keluhan setelah makan sebagai alergi ataupun keracunan. Terutama jika gejala muncul pada beberapa orang sekaligus setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play