SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Jangan Biarkan Ikan Terlalu Lama di Suhu Ruang, Ini Cara Menyimpannya agar Tetap Aman

Jangan Biarkan Ikan Terlalu Lama di Suhu Ruang, Ini Cara Menyimpannya agar Tetap Aman

Ilustrasi ikan pada suhu ruang. (Magnific/Wirestock)

Suara Kalbar – Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang mudah mengalami penurunan mutu. Karena itu, cara menangani dan menyimpannya perlu diperhatikan sejak ikan dibeli hingga siap diolah.

Ikan yang terlalu lama dibiarkan pada suhu ruang, terlebih jika tidak segera dimasak atau disimpan dalam kondisi dingin, dapat mengalami penurunan kualitas. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.

Menjaga kualitas ikan bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan maupun produsen. Konsumen juga memiliki peran penting setelah membeli ikan, mulai dari membawa, membersihkan, menyimpan, hingga memasaknya di rumah.

Penanganan yang tepat dapat membantu mempertahankan kondisi ikan tetap baik hingga waktu pengolahan. Sebaliknya, penyimpanan pada suhu yang tidak sesuai dapat mempercepat kerusakan akibat aktivitas enzim dan bakteri yang terdapat pada ikan.

Ikan Tidak Boleh Terlalu Lama pada Suhu Ruang

Ikan segar sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Kondisi tersebut dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan memicu terbentuknya senyawa yang berpotensi membahayakan tubuh.

Dikutip dari laman resmi Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadak Provinsi Jawa Timur, kemunduran mutu ikan, salah satunya akibat terlalu lama berada pada suhu ruang, dapat meningkatkan aktivitas bakteri berbahaya.

Pada dasarnya, ikan segar mengandung histidin, yakni asam amino yang secara alami terdapat dalam ikan. Namun, ketika kualitas ikan menurun akibat suhu yang tidak terkontrol, bakteri tertentu dapat berkembang dengan cepat.

Bakteri tersebut menghasilkan enzim histidin dekarboksilase yang mengubah histidin menjadi histamin. Dalam jumlah tinggi, histamin dapat menjadi senyawa yang berbahaya apabila dikonsumsi.

Dampak Mengonsumsi Ikan yang Tidak Segar

Ikan yang terlalu lama berada pada suhu ruang berisiko mengalami peningkatan kadar histamin. Jika sudah mengalami penurunan mutu secara signifikan, ikan tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan, histamin yang sudah terbentuk tidak dapat dihilangkan hanya melalui proses memasak. Karena itu, memasak ikan hingga matang bukan berarti dapat mengatasi seluruh risiko dari ikan yang sudah mengalami kerusakan.

Konsumsi histamin dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan sejumlah gejala, antara lain sakit kepala, wajah memerah, mual, muntah, diare, hingga jantung berdebar.

Gejala dapat muncul relatif cepat, mulai sekitar 10 menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi ikan yang mengandung histamin dalam jumlah tinggi.

Segera Simpan Ikan dalam Kondisi Dingin

Setelah membeli ikan, konsumen sebaiknya segera menyimpannya dalam kondisi dingin apabila tidak langsung dimasak.

Ikan yang belum akan diolah dapat disimpan di dalam lemari es pada suhu sekitar 0–4 derajat Celsius. Untuk penyimpanan lebih lama, ikan dapat ditempatkan di dalam freezer.

Ikan juga sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup. Selain menjaga kualitas, cara tersebut dapat membantu mencegah kontaminasi silang dari makanan lain yang berada di dalam lemari es maupun freezer.

Menurunkan suhu penyimpanan dapat memperlambat proses pembusukan daging ikan akibat aktivitas enzim dan bakteri.

Pada ikan segar yang dibekukan dengan benar dan dipertahankan pada suhu cukup rendah, proses pembusukan dapat ditekan hingga sangat lambat. Meski demikian, pembekuan tidak membuat kualitas ikan bertahan tanpa batas waktu.

Ikan beku tetap dapat mengalami perubahan mutu selama penyimpanan. Namun, proses tersebut berlangsung jauh lebih lambat apabila ikan disimpan pada kondisi yang tepat.

Suhu menjadi salah satu faktor penting yang menentukan masa simpan ikan beku. Secara umum, semakin rendah suhu penyimpanan, semakin lama kualitas ikan dapat dipertahankan.

Untuk penyimpanan jangka panjang, standar penyimpanan produk perikanan beku dapat mencapai sekitar minus 28 derajat Celsius. Pada suhu tersebut, aktivitas bakteri dapat dihentikan, sementara perubahan yang disebabkan aktivitas enzim berlangsung sangat lambat.

Ikan Beku Tetap Bisa Mengalami Penurunan Mutu

Meskipun ikan dibekukan beberapa jam setelah ditangkap dan kemudian disimpan pada suhu rendah, kualitasnya tetap tidak dapat dipertahankan selamanya.

Penurunan kualitas memang berlangsung sangat lambat dalam kondisi beku. Namun, seiring waktu, ikan tetap dapat mengalami perubahan tekstur, rasa, aroma, maupun tampilan.

Lama penyimpanan juga dipengaruhi oleh jenis ikan. Ikan berlemak umumnya memiliki daya simpan yang berbeda dibandingkan ikan berdaging putih dengan kandungan lemak lebih rendah.

Selain itu, ikan asap memiliki karakteristik masa simpan yang berbeda dengan ikan segar maupun ikan beku.

Kondisi awal ikan juga sangat menentukan. Ikan yang sejak awal sudah mengalami penurunan kesegaran akan lebih cepat mengalami kerusakan selama penyimpanan dibandingkan ikan yang masih dalam kondisi sangat segar.

Cara Menjaga Ikan Tetap Segar dan Aman

Selain memperhatikan suhu penyimpanan, penanganan ikan ketika berada di dapur juga perlu dilakukan dengan benar. Berikut sejumlah langkah yang dapat diterapkan:

1. Cuci menggunakan air dingin

Saat membersihkan ikan, gunakan air dingin dan lakukan dengan hati-hati. Proses tersebut bertujuan menghilangkan kotoran tanpa merusak tekstur daging.

Penggunaan air hangat sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan suhu permukaan ikan dan berpotensi mempercepat penurunan mutu.

2. Gunakan peralatan yang bersih

Pastikan pisau, talenan, wadah, dan peralatan lain yang digunakan untuk membersihkan atau memotong ikan dalam kondisi bersih.

Setelah digunakan, peralatan tersebut juga perlu segera dicuci. Kebersihan peralatan penting untuk mencegah kontaminasi silang selama proses pengolahan makanan.

3. Masak hingga matang

Saat memasak ikan, pastikan suhu bagian dalam atau suhu internal mencapai sekitar 63 derajat Celsius. Suhu tersebut merupakan patokan keamanan pangan untuk membantu membunuh bakteri berbahaya yang mungkin terdapat pada ikan.

Namun, ikan tidak perlu dimasak secara berlebihan. Memasak terlalu lama dapat memengaruhi tekstur, rasa, dan sebagian kandungan nutrisi ikan.

Dengan memperhatikan waktu, suhu penyimpanan, kebersihan peralatan, serta proses pengolahan, konsumen dapat membantu mempertahankan kualitas ikan sekaligus mengurangi risiko penyakit akibat pangan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play