Polres Mempawah Tingkatkan Kesiapsiagaan, Antisipasi dan Mitigasi Situasi Tak Terduga
Mempawah (Suara Kalbar) – Polres Mempawah mulai memasang langkah antisipasi menghadapi berbagai kemungkinan situasi kontingensi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Tak hanya ancaman konflik sosial, jajaran kepolisian juga memberi perhatian terhadap potensi bencana alam, termasuk kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), cuaca ekstrem hingga berbagai kejadian yang membutuhkan respons cepat.
Kesiapan itu ditunjukkan melalui Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Operasi Kontingensi Aman Nusa I dan Aman Nusa II Tahun 2026, yang digelar di Halaman Mapolres Mempawah, Rabu (9/9/2026).
Apel dipimpin Wakapolres Mempawah Kompol Reynaldi Guzel, sekaligus menjadi momentum untuk memastikan personel, kendaraan, peralatan operasional, sistem komunikasi hingga pola pengendalian benar-benar siap digunakan ketika menghadapi situasi darurat.
Kompol Reynaldi menegaskan, apel kesiapsiagaan bukan sekadar agenda seremonial.
Menurutnya, kegiatan itu merupakan pengecekan nyata untuk melihat sejauh mana kesiapan jajaran dalam menghadapi kondisi yang tidak dapat diprediksi.
“Apel kesiapsiagaan yang kita laksanakan hari ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tapi juga antisipasi dan mitigasi situasi tak terduga,” tegasnya.
Ia mengatakan, dinamika keamanan saat ini semakin kompleks. Gangguan kamtibmas dapat muncul dari berbagai persoalan, mulai masalah sosial dan ekonomi, sengketa antarkelompok, hingga informasi provokatif yang beredar di ruang digital.
Karena itu, Polri menyiapkan Operasi Kontingensi Aman Nusa I untuk menghadapi konflik sosial serta Aman Nusa II dalam penanganan bencana alam dan keadaan kontingensi yang berdampak terhadap keselamatan masyarakat.
Jangan Tunggu Konflik Pecah
Dalam menghadapi potensi konflik sosial, Reynaldi meminta personel tidak berpikir sebatas melakukan penindakan ketika konflik sudah pecah.
Justru, kata dia, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin. Fungsi intelijen diminta memperkuat deteksi dan peringatan dini.
Sementara Bhabinkamtibmas harus semakin aktif turun ke tengah masyarakat untuk menyerap informasi dan membangun komunikasi dengan berbagai elemen. Mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda hingga kelompok masyarakat lainnya.
“Yang paling utama adalah bagaimana kita mampu mencegah konflik sejak dini,” ujarnya.
Setiap informasi yang berpotensi memicu konflik, lanjut Reynaldi, harus segera dianalisis, dilaporkan secara berjenjang dan ditindaklanjuti melalui langkah preemtif maupun preventif.
Pendekatan dialog dan komunikasi juga harus dikedepankan dalam penyelesaian persoalan.
Namun apabila kondisi berkembang dan tindakan kepolisian diperlukan, maka penanganan harus dilakukan secara profesional, proporsional, terukur serta sesuai prosedur dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia.
“Jangan sampai tindakan kita justru memperbesar eskalasi. Pemahaman terhadap akar persoalan dan karakteristik wilayah menjadi kunci dalam mencegah konflik berkembang,” katanya.
Ia bahkan menegaskan bahwa keberhasilan penanganan konflik bukan semata-mata ketika polisi mampu menghentikan konflik. Keberhasilan terbesar justru ketika konflik berhasil dicegah sebelum terjadi.
Sementara dalam menghadapi bencana melalui Operasi Aman Nusa II, Reynaldi menekankan kecepatan dan ketepatan respons.
Menurutnya, ketika bencana terjadi, masyarakat akan menunggu kehadiran negara.
Karena itu, Polri tidak dapat bekerja sendiri. Penanganan harus dilakukan bersama TNI, pemerintah daerah, BPBD, tenaga kesehatan, relawan dan unsur terkait lainnya.
“Ketika bencana terjadi, masyarakat akan melihat dan menunggu kehadiran negara. Pada saat itulah Polri bersama TNI, pemerintah daerah, BPBD, tenaga kesehatan, relawan dan unsur terkait lainnya harus hadir memberikan pertolongan,” jelasnya.
Seluruh peralatan yang telah diperiksa dalam apel juga diminta dipastikan dalam kondisi siap pakai.
Mulai kendaraan dinas, alat komunikasi, perlengkapan pemadaman Karhutla, peralatan evakuasi, alat pelindung diri, perlengkapan kesehatan, sarana pengamanan hingga peralatan lalu lintas.
“Jangan sampai ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kita justru terkendala karena peralatan tidak siap atau personel tidak memahami cara penggunaannya,” tegas Reynaldi.
Khusus Karhutla, seluruh jajaran Polres Mempawah diminta meningkatkan kewaspadaan di wilayah yang memiliki potensi kerawanan.
Patroli, sosialisasi, imbauan kepada masyarakat serta koordinasi lintas sektor harus terus diperkuat.
Polres Mempawah juga akan memperkuat koordinasi bersama pemerintah daerah, TNI, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Jika ditemukan titik api maupun kebakaran, penanganan diminta dilakukan secepat mungkin secara terpadu agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak lebih besar.
Data Tepat, Gerak Cepat
Reynaldi turut menekankan pentingnya latihan dan simulasi. Setiap personel harus memahami tugas, tanggung jawab, cara bertindak serta rantai komando ketika menghadapi situasi kontingensi.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan memiliki personel dan peralatan.
Kemampuan mengambil keputusan dengan cepat, bekerja sama lintas instansi serta kepedulian terhadap keselamatan masyarakat menjadi bagian penting dalam setiap operasi.
Ia menegaskan, keselamatan masyarakat dan personel harus menjadi prioritas dalam setiap pelaksanaan tugas.
Pendekatan preemtif, preventif dan humanis harus dikedepankan, sedangkan penegakan hukum dilakukan secara profesional, proporsional dan terukur.
Prinsip tersebut sejalan dengan semboyan Salus Populi Suprema Lex Esto, yang berarti keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi.
“Setiap langkah dan tindakan kita harus benar-benar bermuara pada keselamatan masyarakat, perlindungan masyarakat dan terpeliharanya keamanan serta ketertiban masyarakat,” ucapnya.
Reynaldi meminta kesiapsiagaan tidak berhenti di tingkat Polres. Kesiapan harus terbangun hingga jajaran Polsek dan Bhabinkamtibmas.
Sebab, tidak ada yang mengetahui kapan konflik sosial maupun bencana akan terjadi.
Namun satu hal yang harus dipastikan, ketika situasi itu benar-benar terjadi, Polres Mempawah tidak boleh dalam kondisi tidak siap.
“Data yang tepat menjadi pijakan, gerak yang cepat menjadi tuntutan, dan kerja yang cermat menjadi jaminan keselamatan,” pungkasnya.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





