SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah DAD dan Timanggong Mempawah Gelar Ritual Adat Minta Hujan, Ikhtiar Redam Karhutla

DAD dan Timanggong Mempawah Gelar Ritual Adat Minta Hujan, Ikhtiar Redam Karhutla

Ketua DAD Mempawah, Adrianus. [SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa]

Mempawah (Suara Kalbar) – Di tengah kemarau panjang dan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat, masyarakat Kabupaten Mempawah terus melakukan berbagai ikhtiar untuk menghadapi dampak yang ditimbulkan.

Tak hanya melalui upaya penanganan di lapangan, ikhtiar juga dilakukan melalui jalur adat.

Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Mempawah bersama para Timanggong se-Kabupaten Mempawah akan menggelar Ritual Adat Bapinta’ Ujatn ka Jubata atau ritual adat memohon hujan kepada Jubata, Sang Pencipta.

Ketua DAD Mempawah, Adrianus, mengatakan ritual tersebut merupakan bentuk doa dan ikhtiar masyarakat adat Dayak agar hujan segera turun untuk membantu mengatasi kekeringan sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

“Tujuan ritual ini adalah sebagai doa permohonan secara adat Dayak kepada Sang Pencipta (Jubata) agar dapat menurunkan hujan. Kita berharap dengan adanya hujan, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dapat segera padam,” ujar Adrianus, Minggu (6/9/2026) malam.

Menurutnya, kemarau panjang tidak hanya menyebabkan kekeringan, tetapi juga memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat, termasuk munculnya gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara yang dipicu kabut asap Karhutla.

Karena itu, DAD bersama Timanggong memandang perlu melakukan ikhtiar secara adat sebagai bagian dari upaya masyarakat menghadapi kondisi tersebut.

Ritual Bapinta’ Ujatn ka Jubata dijadwalkan berlangsung pada besok, Senin (7/9/2026), di Panyugu Nek Aban, Dusun Dandang, Desa Kecurit, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah.

Adrianus menjelaskan, ritual memohon hujan bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat adat Dayak.

Tradisi tersebut telah dilakukan secara turun-temurun, terutama setelah masa tanam maupun ketika masyarakat menghadapi musim kemarau panjang.

“Ritual ini sebenarnya kerap dilakukan masyarakat adat Dayak ketika usai masa tanam dan ketika musim kemarau panjang,” jelasnya.

Pemilihan Panyugu Nek Aban sebagai lokasi ritual juga bukan tanpa alasan. Tempat tersebut memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat adat setempat.

Panyugu Nek Aban disebut telah ada sejak 1929 dan selama ini diyakini masyarakat sebagai salah satu tempat yang baik untuk bepinta’ atau memanjatkan permohonan kepada Jubata.

Masyarakat adat setempat meyakini setiap ritual dan doa yang dilakukan di Panyugu Nek Aban mendapatkan restu dari Sang Pencipta.

Ritual tersebut pun diharapkan menjadi momentum bersama untuk memanjatkan doa agar hujan segera turun di Kabupaten Mempawah dan wilayah Kalimantan Barat lainnya.

Di tengah ancaman Karhutla yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, serta aktivitas masyarakat, Bapinta’ Ujatn ka Jubata menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat adat dengan tetap menjunjung nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal.

Bagi masyarakat adat, hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga menjadi harapan untuk mengakhiri kekeringan, meredam api, membersihkan udara dari kabut asap, serta mengembalikan kehidupan di lahan-lahan yang terdampak kemarau.

Penulis: Distra

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play