SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Ketapang Gambut Sedalam 48 Meter, Karhutla Pelang Ketapang Sulit Dipadamkan

Gambut Sedalam 48 Meter, Karhutla Pelang Ketapang Sulit Dipadamkan

Asap masih muncul dari lahan gambut di kawasan Pelang, Kabupaten Ketapang, meski kobaran api akibat karhutla telah dipadamkan, Minggu (30/8/2026). SUARAKALBAR.CO.ID/Ags

Ketapang (Suara Kalbar)  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pelang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi tantangan serius bagi upaya pemadaman. Pasalnya, kawasan tersebut memiliki lapisan gambut yang sangat dalam, bahkan disebut dapat mencapai 48 meter.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan karakteristik gambut yang dalam membuat sumber api sulit dideteksi dan dipadamkan. Api tidak selalu terlihat di permukaan karena bara dapat terus membakar di bawah lapisan tanah.

Hal itu disampaikannya saat mengikuti rapat daring bersama jajaran pemerintah daerah se-Kabupaten Ketapang, Jumat (4/9/2026).

Menurut Alex, kondisi kebakaran di lahan gambut berbeda dengan lahan mineral. Pada permukaan gambut, api terkadang tidak terlihat dan hanya mengeluarkan asap. Namun, bara api masih dapat menyala di bagian bawah.

“Gambut di atas mungkin tidak nampak apinya, hanya timbul asap. Namun di kedalaman gambut masih ada api seperti bara api,” kata Alex.

Ia bahkan menyebut bara api di dalam gambut dapat terlihat jelas pada malam hari. Kondisi tersebut, kata dia, pernah terlihat di kawasan Jalan Pelang.

“Kalau malam hari melewati Jalan Pelang itu nampak merah. Itulah lahan gambut. Ketika malam dia baru kelihatan merah membara,” ujarnya.

Alex menjelaskan kedalaman gambut di kawasan Pelang jauh berbeda dengan wilayah Jalan Tanjungpura. Jika gambut di Jalan Tanjungpura berkisar 1 hingga 3 meter, kedalaman gambut di Jalan Pelang disebut dapat mencapai puluhan meter.

“Kalau kedalaman gambut di Tanjungpura itu 1 sampai 3 meter, tapi kalau Jalan Pelang kedalaman gambutnya bisa mencapai 10, 20 bahkan sampai 40 meter,” katanya.

Gambaran mengenai dalamnya lapisan gambut tersebut, lanjut Alex, terlihat dari konstruksi pembangunan Jalan Pelang-Kepuluk yang menggunakan tiang pancang. Dalam pembangunan tersebut, satu titik paku bumi menggunakan hingga delapan sambungan dengan panjang setiap sambungan mencapai enam meter.

“Artinya kedalaman gambutnya sampai 48 meter,” ujarnya.

Water Bombing Belum Menjamin Api Padam

Menurut Alex, kedalaman gambut menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan karhutla di kawasan Pelang membutuhkan upaya ekstra. Air yang disiramkan dari permukaan, termasuk melalui operasi water bombing, belum tentu mampu menjangkau sumber api yang berada jauh di bawah tanah.

“Itulah bedanya lahan gambut dan lahan mineral. Kalau lahan mineral satu kali water bombing saja mungkin apinya sudah padam. Tapi berbeda dengan karhutla di gambut,” kata Alex.

Ia menegaskan pemadaman di lahan gambut tidak cukup hanya dengan membasahi permukaan. Bara yang berada jauh di dalam lapisan gambut dapat tetap bertahan dan sewaktu-waktu kembali memicu kebakaran.

“Kalau di lahan gambut kita sudah siram sebanyak apa pun termasuk dengan water bombing, belum tentu bisa menuntaskan api yang sampai di kedalaman 20, 30 bahkan 40 meter,” lanjutnya.

Kondisi tersebut semakin berisiko ketika angin bertiup kencang. Bara yang masih berada di dalam gambut dapat kembali mendapatkan oksigen dan memicu kobaran api di permukaan.

“Apalagi ditiup angin kencang, maka dia akan berkobar kembali,” ujarnya.

Karena itu, Alex meminta seluruh pihak tidak menganggap kawasan yang hanya mengeluarkan asap sebagai lokasi yang sudah aman dari api. Asap yang muncul justru dapat menjadi indikasi bahwa masih terdapat bara di bawah permukaan gambut.

Ia meminta penanganan karhutla di kawasan Pelang dilakukan secara serius, berlapis, dan berkelanjutan. Hujan juga menjadi salah satu faktor yang sangat diharapkan dapat membantu mengatasi kebakaran pada kawasan gambut tersebut.

Meski menghadapi tantangan berat, Alex memastikan pemerintah tidak akan menyerah dalam menangani karhutla.

“Kita tidak lemah semangat, kita tidak menyerah. Segala upaya tetap dilakukan. Ikhtiar kita tetap lakukan agar kondisi di Ketapang ini bisa diminimalisir,” tegasnya.

Penulis: Agus/Suara Ketapang

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play