SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Hotspot Karhutla Kalbar Tembus 859 Titik, Menhut Akan ke Pontianak Hari Ini

Hotspot Karhutla Kalbar Tembus 859 Titik, Menhut Akan ke Pontianak Hari Ini

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan tren titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali meningkat. Padahal, sebelumnya tren hotspot di enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla nasional sempat mengalami penurunan. Kondisi terbaru membuat Kalbar dan Kalteng kembali menjadi fokus utama pemerintah. (Istimewa/Istimewa)

Pontianak (Suara Kalbar) – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan tren titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali mengalami peningkatan.

Kondisi tersebut terjadi setelah sebelumnya tren hotspot di enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla nasional sempat menunjukkan penurunan. Kini, Kalbar dan Kalteng kembali menjadi perhatian utama pemerintah.

“Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, tetapi hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” ujar Antoni seusai meninjau penanganan karhutla di Jambi, Rabu (2/9/2026).

Menhut dan Kepala BNPB ke Pontianak

Untuk memperkuat penanganan karhutla, Antoni mengatakan dirinya bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto akan bertolak ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Keduanya akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan di daerah, termasuk Gubernur Kalimantan Barat, kapolda, dan pangdam.

“Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada, dengan Pak Gubernur, kapolda, pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi,” jelas Antoni.

Menurut dia, koordinasi tersebut diperlukan untuk kembali menekan jumlah hotspot maupun fire spot yang telah melalui proses verifikasi.

“Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka baik itu apa namanya hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah,” tegasnya.

Hotspot Kalbar Capai 859 Titik

Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan dengan cut off 1 September 2026, kenaikan hotspot paling signifikan terjadi di Kalimantan Barat.

Jumlah hotspot di Kalbar meningkat dari 273 titik menjadi 859 titik. Sementara di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot naik dari 253 titik menjadi 623 titik.

Kenaikan juga terjadi di sejumlah provinsi lain yang masuk dalam prioritas penanganan karhutla. Di Sumatera Selatan, misalnya, jumlah hotspot meningkat dari 20 menjadi 89 titik.

Kemudian Kalimantan Selatan naik dari 22 menjadi 73 titik. Sementara Riau masih tercatat nol titik dan Jambi mengalami kenaikan dari nol menjadi empat titik hotspot.

Waspadai Puncak El Nino

Antoni mengingatkan penanganan karhutla masih membutuhkan kewaspadaan dan kerja sama dari seluruh pihak. Pemerintah juga mewaspadai kondisi cuaca yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Dia menyebut puncak El Nino diperkirakan terjadi pada September 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah diminta terus memperkuat koordinasi serta menjalankan langkah mitigasi, khususnya di wilayah yang rawan karhutla.

Antoni menegaskan penurunan hotspot dan fire spot yang telah terverifikasi akan terus menjadi salah satu indikator yang dipantau pemerintah dalam penanganan karhutla secara nasional.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play